Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

TASAWUF DAN KETENTRAMAN JIWA

Oleh: Dr. Bambang Irawan, MA.

Dikisahkan dalam Kitab Induk Tasawuf karya Imam al-Qusyairy an-Naisabury, bahwa ada seseorang yang bersahabat pada Ibrahim bin Adham. Ketika orang tersebut mau berpisah, ia berkata pada Ibrahim, "Bila engkau melihat diriku ada cacat, maka ingatkanlah daku." Ibrahim menjawab, "Aku tak pernah melihat cacatmu, karena aku melihatmu dengan mata kecintaan, wahai sahabat. Sehingga aku selalu memandangmu dengan mata pandangan kebaikan." Betapa indahnya konsep seperti ini. Melalui cinta ini, para sufi meyakini bahwa mereka berada dalam naungan cinta Tuhan. Kemurahan cinta Tuhan inilah yang diadopsi kaum sufi dalam melihat orang lain. Kita  hendaknya sadar bahwa hatilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini. Berikut ini akan diuraikan beberapa factor yang menyebabkan tumbuh dan berkembangnya penyakit ruhani beserta terapinya: seperti resah gelisah yang berkepanjangan, iri, dengki, dendam, riya, sombong, bakhil, sombong dan sebagainya.

Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, tidak akan tahu indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka. Akibatnya, semua kalkulasi perbuatannya, hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang semata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat, jabatan, dan kedudukannya, ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Adapun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan kemana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiadanya.

Faktor-faktor yang membuat seseorang stress/depresi

 1. Menjadikan Dunia sebagai Tujuan

Rasulullah Saw juga bersabda : "Siapapun yang telah menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka dia tidak lagi memiliki hubungan dengan Allah Swt. Dan Allah menjadikan baginya empat keadaan : kegelisahan yang tak pernah putus, kefakiran tanpa kecukupan, angan-angan tanpa batas, kerja keras tanpa akhir."

Untuk dapat mencapai sikap tenang, diperlukan adanya iman yang kokoh dan teguh. Firman Allah:

"Ya tuhan-ku masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dari tempat keluar yang benar pula, serta jadikanlah untukku kekuatan yang menolong".(QS. Al-Israk: 17:80)

2. Krisis Keimanan

Seorang dokter spesialis jiwa, Carl jung mengatakan : "selama 30 tahun belakangan telah datang sejumlah ahli psikologi dari berbagai penjuru dunia untuk berkonsultai kepadaku seputar masalah kejiwaan, karena aku telah berhasil menyembuhkan ratusan orang pasien yang sebagian besar mereka berusia separuh baya diatas 35 thun, Semua pasien yang kusembuhkan  yang memiliki problem kejiwaan  disebabkan oleh krisis keimanan sebagai pedoman hidupnya".

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang menderita kejiwaan  adalah karena mereka meninggalkan keimanan kepada agama yang dipercayainya. Firman Allah :

"Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit " 20:124)

"Kami akan menanamkan rasa takut kedalam hati orang-orang kafir, karena mereka telah mempersekutukan Allah" (3:151)

3. Kecemasan dan ketegangan Syaraf

Dale Carnegie mengatakan : "Data statistik telah membuktikan bahwa penyebab utama kematian yang terjadi di Amerika adalah faktor kecemasan dan ketegangan syaraf". Dr. Alexis Carlyle menambahkan bahwa "Para karyawan yang tidak mengetahui bagaimana  mengatasi kegelisahan , mereka akan meninggal secara dini". Data statistik yang dikeluarkan oleh WHO , ketua konferensi penanggulangan penyakit jiwa yang diadakan di Chicago pada 1981 mengeluarkan pernyataan bahwa terdapat 200 juta jiwa orang yang ada di dunia menderita penyakit depresi, sebagian besar dari mereka berasal dari negara-negara maju.

4. Tidak menerima peristiwa buruk/ujian  dalam hidup

Banyak manusia hidupnya hancur dalam kekalutan yang tak terperikan, sebab mereka tidak mau menerima peristiwa terburuk dalam hidup mereka. Mereka tidak mau berusaha untuk memperbaikinya. Mereka tidak mau menyelmatkan apa yang masih dapat diselamatkan dari kehancuran itu. Mereka tidak berusaha untuk membangun kembali nasib baiknya, tapi malah mengadakan "pertandingan sengit dengan pengalaman". Dan akhirnya mereka menjadi korban perasaaan yang mendalam yang berakibat kemurungan dan keresahan yang berkepanjangan.

Bersedialah menerima apa adanya, sebab menerima apa yang telah terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi segala akibat kemalangan yang menimpa. Bila kita ikhlash menerima hal buruk yang terjadi, kita tidak akan kehilangan apa-apa lagi. Dan secara otomatis ini berarti: segalanya dapat kita peroleh".

5. Selalu mengikuti penilaian orang

Salah satu faktor yang membuat jiwa seseorang tidak tenang adalah karena selalu mengikuti penilaian dan anggapan orang terhadap dirinya. Terombang ambing oleh sikap dan gaya hidup orang kebanyakan. Betapa  melelahkannya hidup ini bila segala hal yang ada di dunia ini kita ikuti. Karena harus selalu mengikuti image orang, kehidupannya menjadi besar pasak dari tiang dan selalu memaksakan diri.

Dalam sebuah hadits Rasulullah dengan tegas mengatakan: "Janganlah engkau jadikan dirimu ketakutan setelah merasakan keamanan!" (Para sahabat) bertanya: Bagaimana bisa terjadi seperti itu! Sabdanya: Karena utang." Begitulah kenyataanya. Orang yang berutang akan senantiasa dihantui ketakutan, karena ia dikejar-kejar untuk segera melunasinya. Inilah salah satu faktor yang membuat banyak orang mengalami tekanan jiwa.

Rasulullah juga mengatakan: "Hendaklah kamu jauhi utang, karena utang itu menjadi beban pikiran di malam hari dan rasa rendah diri di siang hari."

6. Dikuasai Pikiran Negatif

Faktor lainnya yang membuat orang stress adalah karena ia selalu diliputi pikiran-pikiran negatif. Selalu mencela dan menyesali kekurangan diri. Padahal, setiap kita diberikan oleh Allah berbagai kelebihan. Ubahlah pikiran negatif itu menjadi positif. Ubahlah ungkapan keluh kesah yang membuat muka cemberut, badan lemas dan frustasi dengan ungkapan senang. Ungkapan senang akan membuat ekspresi senyum dan jiwa menjadi semangat kembali. Bukankah di balik kesulitan dan kegagalan ada hikmah yang bisa jadi pelajaran? Dan bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?

Obat Penyakit Stress/ depresi

Sejauh ini praktek dan amalan-amalan dalam tasawuf  merupakan latihan rohani dan latihan jiwa untuk melakukan pendakian spiritual kearah yang lebih baik dan lebih sempurna. Dengan demikian amalan-amalan tasawuf tersebut adalah bertujuan untuk mencari ketenangan jiwa dan keberhasilan hati agar lebih kokoh dalam menempuh liku-liku problem hidup yang beraneka ragam serta untuk mencari hakekat kebenaran yang dapat mengatur segala-galanya dengan baik.

Tawaran tasawuf dalam upaya membina kesehatan mental telah dikenal semenjak Islam dibawa oleh Nabi Muhammad dengan praktek perilaku hidup sederhananya dan pembersihan jiwa yang dilakukan oleh Nabi, yakni dengan menjauhi sifat-sifat tercela yang akan mengotori kebersihan hati dan menjadikan mental tidak sehat. Sifat-sifat yang dimaksud adalah : takabbur, ujub, riya', berbohong, iri, dengki, bakhil dan sebagainya.

Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.

Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam surah Ar-Ra'd ayat 28. "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram." Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati." (Bukhari dan Muslim)      

Suatu ketika seseorang datang kepada Ibnu Mas'ud, salah seorang sahabat utama Rasulullah. Ia mengeluh, "Wahai Ibnu Mas'ud, nasihatilah aku dan berilah obat bagi jiwaku yang gelisah ini. Hari-hariku penuh dengan perasaan tak tenteram, jiwaku gelisah, dan pikiranku kusut. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak," kata orang tersebut. Ibnu Mas'ud menjawab, "Kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat. Pertama, tempat orang membaca al-Quran. Engkau baca al-Quran atau engkau dengar baik-baik orang yang membacanya. Kedua, engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hatimu kepada Allah. Ketiga, engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat mengabdi kepada Allah. Nasihat sahabat Nabi itu segera dilaksanakan orang tersebut. Sesampainya di rumah, segera ia berwudhu kemudian diambilnya Al-quran dan dibacanya dengan khusyuk. Selesai membaca, ia segera dapati hatinya memperoleh ketenteraman, dan jiwanya pun tenang. Pikirannya segar kembali, hidupnya terasa bergairah kembali. Padahal, ia baru melaksanakan satu dari tiga nasihat yang disampaikan sahabat Rasulullah saw tersebut.

Di dalam beberapa ayat al-qur'an dikatakan bahwa didalam hati manusia itu ada penyakit. Antara lain penyakit jiwa manusia itu adalah: iri, dengki, takabbur, resah, gelisah, khawatir, stres, dan berbagai penyakit jiwa lainnya. Dengan tasawuf manusia akan dapat menghindarkan diri dari penyakit kejiwaan (psikologis) sebagai mana yang disebutkan diatas. Tasawuf berusaha untuk melakukan kontak bathin dengan tuhan serta berusaha untuk berada dihadirat tuhan dengan harapan dapat memberikan ketentraman bathin dan kemerdekaan jiwa dari segala pengaruh penyakit mental. Kesehatan mental menurut persfektif tasawuf adalah menumbuh kembangkan sifat-sifat terpuji dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela pada diri pribadi seseorang. Sifat-sifat terpuji adalah sifat-sifat illahiyah, sedangkan sifat-sifat tercela adalah sifat-sifat syaitaniyah. Masih banyak metode-metode lain yang dikembangkan tasawuf dalam upaya mewujudkan integritas pribadi dan peningkatan derajat manusia. Teknik-teknik sebagaimana disebutkan diatas perlu dikaji secara serius agar dapat memberikan sumbangan pada berbagai bidang psikologi. Wallahu a'lam bis-shawwab

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 11 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.