Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Berita

EDISI REVISI buku "Mengapa Kami Memilih Islam," sudah diterbitkan.

Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Indonesia telah melepas salah seorang santri untuk kembali pulang dan berdakwah di kampung halamannya. Syamsuddin, santri yang baru saja lulus sekolah kesetaraan paket C telah menuju Kalimantan Barat tempat ia dilahirkan. Setelah melalui proses pendidikan selama tiga tahun di pesantren An Naba Center dan menguasai beberapa ilmu keislaman ia kembali untuk mengabdikan diri ke kampung halamannya.

Kamis, 6 Agustus 2015, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia kembali mensyahadatkan salah seorang laki-laki untuk masuk agama Islam. Dia adalah Calvin Wilson, siswa sekolah menengah pertama yang mengaku telah mendapatkan hidayah dan memilih untuk memeluk agama Allah, yaitu Islam.

Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar…

Laa… ilaha ila Allahu wa Allahu Akbar, Allahu Akabar wa lillahilham

 

Bulan Syawal yang berkah, menjadi berkah tidak hanya bagi Muslim yang ada di Indonesia, melainkan juga bagi seluruh umat islam di dunia. Keberkahan itu juga dirasakan oleh para santri serta binaan pesantren Annaba Center, juga dhuafa yang ada di lingkungan sekitar pesantren. Pada hari lebaran ini mereka semua merasakan betapa Islam sangat memperhatikan kehidupan sesama yang kekurangan serta hidup dalam keterbatasan.

Ciputat–Sabtu , 11 Juli 2015.

Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An Naba Center Indonesia pada bulan ramadhan ini memberikan training langsung bagi para santri. Training tersebut berupa praktek ceramah ke masyarakat sebagai bentuk implementasi teori-teori dakwah yang mereka dapatkan selama belajar di kelas. Mereka semua disebar pada beberapa mushollah dan mesjid selama bulan ramadhan ini.

 

Sabtu, 4 Juli 2015, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Indonesia kedatangan tamu dari alumni angkatan 79 SMA 4 Jakarta. Sebanyak lebih dari 20 orang datang ke pesantren An-Naba untuk bersilaturahmi sekaligus berbuka puasa bersama serta membagikan bingkisan dan bantuan pembangunan pesantren muallaf putri kepada pesantren An-Naba Center.

Tangerang Selatan, 29 Juni 2015, Mesjid Bani Umar Bintaro menjadi saksi bisu pengislaman saudari Asmi.  Tepat pada malam ketiga belas ramadhan, Asmi berikrar dua kalimat syahadat di hadapan para jemaah mesjid. Seorang karyawati perusahaan swasta di salah satu mall besar di Bintaro ini mengaku sudah dua tahun mempelajari Islam. menurutnya keingintahuan terhadap Islam muncul ketika pertama kali ia bekerja sebagai pramuniaga di salah satu perusahaan. Ia melihat teman sesama profesinya yang mayoritas beragama Islam sangat sopan dalam berbusana.

Minggu, 28 Juni 2015, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An Naba Center Indonesia kembali membimbing salah seorang penganut Nasrani untuk mengucapkan kalimat syahadat. Dia adalah Andrean. Pria yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan plastik itu mengaku sudah cukup lama membandingkan agama Islam dengan agama lamanya. Memiliki latar belakang agama yang variatif, berawal dari Budha, kemudian menjadi penganut Nasrani dan terakhir memilih Islam sebagai agamanya, Andrean berupaya menemukan kebenaran.

Bulan suci ramadhan menjadi berkah tersendiri bagi pesantren An-Naba Center Indonesia. Bagaimana tidak, dalam seminggu ini sudah lima orang yang memeluk Islam dan bersyahadat di Pesantren An Naba Center. Yunianto, adalah orang terakhir dari lima orang tersebut. Seorang karyawan perbankan ini mengaku sudah lama ingin memeluk Islam, akan tetapi karena kesibukannya sebagai seorang karyawan, baru kali itulah ia berkesempatan datang ke pesantren An Naba Center, tepatnya pada tanggal 21 Juni 2015.

 

Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An Naba Center Indonesia melakukan pembekalan terhadap para santri. Sebanyak 48 santri Muallaf diberikan pembekalan Kursus Dakwah Kesehatan oleh LKC Dompet Dhuafa sebagai mitra dakwah strategis An Naba Center yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut, yakni Selasa-Rabu (23-24/6). Melalui kursus singkat tersebut diharapkan agar kelak para santri yang berasal dari berbagai wilayah, ketika kembali kepada masyarakat, mereka memiliki bekal pengetahuan kesehatan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan di masyarakat.

Pimpinan pesantren KH. Syamsul Arifin Nababan mengemukakan bahwa kerja sama antara pesantren An Naba Center dengan LKC Dompet Dhuafa sangat diperlukan guna memperkuat pondasi dan keterampilan para santri agar mereka dapat berjuang dalam berbagai medan karena memiliki bekal kemampuan yang mendukung. “ Ini adalah hal baru bagi para santri, akan tetapi pelatihan kesehatan ini sangat diperlukan sebagai bekal bagi mereka kelak untuk berjuang mendakwahkan agama Islam di daerah asal.”, tutur pak kiai.

Ditemu pada kesempatan tersebut dr. Muhammad Ridlo selaku pimpinan LKC mengemukakan harapannya terhadap program yang dijalankan tersebut “Kita berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dengan mendirikan program lainnya, diantaranya Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren-Red) ditempat ini” ungkap direktur LKC Dompet Dhuafa itu.

Sementara dalam kesempatan yang sama, ustadz  Ozi Setiadi sebagai koordinator pelaksana training An Naba Center mengungkapkan bahwa An Naba Center merasa sangat senang terhadap program yang diselenggarakan oleh LKC Dompet Dhuafa.

Kegiatan ini sangat kami tunggu, karena selama ini para santri tidak pernah memeriksakan kesehatan mereka, kita berharap LKC dapat bersinergi bukan hanya dalam moment saat ini saja, melainkan bisa di berbagai kegiatan”, ungkap Ozi Setiadi, Ustadz yang telah mengabdi selama 3 tahun itu.

Acara yang diakhiri dengan pengobatan gratis untuk para santri serta buka bersama diakui salah satu santri merupakan acara yang sangat menarik. Hal ini dapat menjadi tambahan khazanah keilmuan yang selama ini sedang didalami.

 “Acara ini sangat luar biasa sekali, dengan adanya kursus dawah kesehatan ini, saya berharap kelak bisa memberikan pelayanan yang baik untuk masyarakat luas sepanjang pengetahuan yang saya dapatkan, dan terutama sekali untuk para santri dapat mengetahui dan menyadari tentang pentingnya kesehatan”, ungkap Fairuz Al-Islam (21), salah satu Santri An-Naba Center Asal Nusa Tenggara Timur.

 

Pages