Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

MENGUPAYAKAN KEBAJIKAN

Oleh: Dr. Muhammad Qorib, MA. 

Banyak jalan yang dapat kita tempuh untuk melakukan kebajikan, sebanyak itu pula jalan yang dapat kita bentangkan menuju surga. Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk membuka berbagai jalan itu karena dengannya ruang keselamatan terasa luas dan tak terbatas. Sebagaimana ditegaskan al-Qur'an, "fastabiquul khairaat" (berlomba-lombalah dalam melakukan kebajiban), memberi isyarat jelas bahwa ladang amal tidak terbatas pada aspek-aspek tertentu saja, melainkan ada dalam setiap lingkup aktivitas umat manusia. Islam tidak mengenal heirarki religius yang mana kepengurusan agama hanya dapat dijalankan dan digapai oleh segelintir orang. Namun, setiap Muslim dapat menjadi seorang hamba yang begitu dekat dengan Allah selama ia meniti karir spiritual dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, semua orang memiliki peluang yang sama dalam merambah kebajikan. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin, raja dengan rakyat jelata kecuali kualitas kehambaannya kepada Allah SWT.

Jalan Kebajikan

Rasulullah SAW. Telah mencontohkan kepada kita agar selalu menebarkan salam, memberi makan orang yang kelaparan, menyambung silaturahmi, menegakkan salat, dan banyak lagi. Beliau telah menjelaskan bentangan jalan yang begitu luas yaitu dengan berbagai macam jalan yang dapat ditempuh oleh setiap manusia dalam rangka mencari ridhâ Allah SWT. Rasulullah SAW. juga menjelaskan bahwa hasil yang akan dicapai dari perjalanan itu ialah masuk kedalam surga Allah dengan penuh keselamatan. Lingkup kebajikan yang tak terbatas ini mendasari pemikiran kita bahwa Islam bukan sekedar institusi rigid yang hanya mengupas halal dan haram, mubah dan makruh, sunnah dan bid'ah, atau persoalan kecil lainnya. Lebih dari itu, Allah SWT. menyuruh kita melakukan berbagai kebajikan yang terhampar di berbagai sudut aktivitas manusia. Firman Allah SWT. Juga telah menjelaskan sekaligus membuktikan bahwa ladang amal dalam Islam amat luas. Ini yang menjadi sebab mengapa Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa kebajikan juga terdapat pada getaran hati, zikir lisan atau aktivitas keseharian.

Islam adalah agama yang kompleks terutama dalam mengupas persoalan sosial. Salah satu contoh ialah dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.yang berimplikasi luar biasa dalam perkembangan Islam. Beliau meruntuhkan kebiasaan dan keangkuhan masyarakat Quraisy yang menempatkan bangsawan dan raja-raja sebagai manusia terhormat sehingga mereka harus tunduk kepada segala perintah mereka meski apa yang mereka perintahkan adalah hal yang salah. Perubahan yang signifikan terjadi ketika Islam datang. Kalangan miskin, papa, dan rakyat jelata disejajarkan dengan kaum bangsawan, bahkan mendapat perlakuan istimewa dari Nabi SAW. Bila dibandingkan dengan deklarasi hak asasi manusia (declaration of human right) ini jauh lebih dari apa yang disebutkan dalam piagam tersebut, baik secara teori maupun praktek. Lebih lagi, Nabi SAW. mengucapkan hal yang sangat berbeda dengan apa yang ada pada praktek pelaksanan HAM, yakni "Ya Allah, hidupkan aku bersama orang-orang miskin, matikan aku bersama orang-orang miskin dan kumpulkan aku pada hari kiamat bersama kaum miskin pula.". Ucapan ini tentu sangat membahagiakan kaum yang selama ini tidak mendapat penghormatan dan perhatian yang layak dari para bangsawan dan elit kerajaan. Inti dari hal ini adalah bahwa kebajikan juga terdapat dari pemberian karitas spiritual dan material kepada kaum lemah.

 

Kesalehan Sosial sebagai Jalan Kebajikan

Terkadang, kemuliaan Islam dengan ragam kebajikan tak terbatas sering dibajak dan dikebiri oleh pihak-pihak tertentu sebagai agama yang sempit dan tidak mengedepankan aspek sosial. Dengan kata lain, Islam seolah dipaksa hanya berbicara tentang kelahiran, perkawinan dan kematian, namun tidak pernah dirujuk sebagai agama yang juga membincangkan teknologi, konservasi alam, politik maupun ekonomi. Ini berakibat pada munculnya paradigma masyarakat yang menyimpulkan bahwa surga dapat digapai hanya dengan banyaknya membaca al-Qur'an, shalat sunnah, puasa sunnah, zikir sambil terisak-isak dan sebagainya. Mereka tidak menyadari bahwa ajaran Islam lebih dari itu, meskipun berbagai hal tersebut juga merupakan ibadah, namun penemuan teknologi yang bermanfaat untuk nilai-nilai kemanusiaan, memelihara alam agar tetap terjaga, lurus dalam berpolitik, juga ragam kebajikan yang dapat ditempuh untuk menggapai ridhâ Allah SWT. Rasulullah SAW. sudah menjelaskan kepada kita bahwa kemuliaan Islam juga terletak pada berbagai aspek tersebut. Beliau mencontohkan sendiri aspek ekonomi dengan menjadi pedagang sukses kala itu sehingga tidak dapat dipurngkiri segala bidang dalam kehidupan juga bernilai ibadah bila dikerjakan dengan mengharap ridhâ Allah SWT.

Edward Mortimer mengatakan Islam lebih besar menekankan aspek sosial ketimbang ritual. Ini berarti dengan adanya beragam aktivitas dalam lapangan sosial muncul kebajikan yang mulia di sisi Tuhan. Misalnya, kita tahu bahwa orang yang melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah pelaku kebajikan. Namun, ada orang yang tidak sempat shalat tarawih karena menjaga sandal, sepatu atau kendaraan orang-orang yang shalat, juga mesti kita nilai sebagai pelaku kebajikan. Lebih lagi, pengawasan itu dilakukan dalam rangka kepentingan orang lain. Tentulah nilainya di hadapan Tuhan amat tinggi. Para penggali kubur yang tak sempat mensalatkan jenazah karena pakaian yang kotor, belum tentu lebih rendah derajatnya ketimbang orang yang turut mensalatkan jenazah karena yang ia lakukan juga merupakan kebajikan. Meskipun aspek sosial mendapat perhatian begitu besar, bukan berarti kebajikan dalam medan ritual dapat ditinggalkan demi medan sosial. Inilah tesis yang keliru. Idealnya, kedua kebajikan tersebut harus berimbang.

Bentuk kebajikan amatlah luas dan tak terbatas. Belum tentu seorang kiyai, penutur agama, dan tokoh-tokoh agama, lebih mulia daripada sopir taksi, penarik becak, pedagang kaki lima, maupun pembantu rumah tangga. Letak kemuliaan mereka ada pada pengorbanan kepada orang lain, tentunya didasari dengan keikhlasan. Semakin tulus pengorbanan itu, semakin tinggi nilainya di hadapan Allah. Allah tidak melihat formalitas fisikal tetapi Allah melihat ketakwaan dan keikhlasan seorang hamba dalam beribadah. (Edtr. Ozi S)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
11 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.