Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

MENUJU HAJI MABRUR II

Oleh: Drs. H. Syamsul Arifin Nababan

Minggu lalu kita telah sampai pada bahasan secara singkat mengenai syarat-syarat memperoleh haji mabrur. Setidaknya ada empat syarat yang manjadikan seseorang memperoleh predikat haji mabrur. Keempatnya telah disebutkan sekilas namun belum dijelaskan lebih lanjut. Kini penulis akan menjelaskannya lebih mendalam agar tema yang dibuat sesuai dengan keinginan pembaca.

Syarat pertama haji mabrur adalah niat. Setiap ibadah didahului dengan niat, begitu pula dengan pelaksanaan ibadah haji. Niat ibadah haji terkadang menjadi samar ketika seseorang berada pada lingkungan sosial yang memberikan penghormatan berlebihan bagi orang yang berangkat haji, seperti menyebutnya dengan sebutan haji atau hajjah dengan berlebihan, padahal sebutan itu hanyalah sebuah predikat yang membedakan orang yang sudah pernah berhaji atau belum. Allah swt. telah menyebutkan bahwa Dia tidak membeda-bedakan setiap umat manusia, kecuali keimanan dan ketakwaannya. Haji bukan hanya sekedar untuk memperoleh gelar atau prestise, melainkan lebih dari itu, ini semua dikerjakan karena perintah dari Allah swt. sesuai dengan ayat Al-Quran yang telah disebutkan pada edisi sebelumnya (Q.S. Ali Imran [3]: 97 dan Q.S. Al-Baqarah [2]: 196). Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah sehingga tidaklah pantas sebagai hamba yang lemah mempersembahkan segala sesuatu kepada selain Allah.

Kedua, mengikuti manasik haji (tata cara haji yang dilakukan oleh Rasulullah saw.). Rasul saw. merupakan sosok yang memberikan tauladan tidak hanya dalam persoalan akhlak tetapi juga ibadah. Meskipun aspek akhlak adalah tauladan utama yang diberikan oleh rasul saw., aspek ibadah juga tidak luput dicontohkan beliau. Tidak hanya salat, beliau juga mengatakan "hendaklah kalian mengambil tata cara hajimu dari aku" (li takhudju ‘anni manasikakum). Ini yang menjadi kunci kedua setelah niat. Segala yang baik harus dilakukan degan tata cara yang baik sehingga menghasilkan hasil yang baik pula. Oleh sebab itu, sebagai umat yang baik sudah sepantasnya kita melakukan apa yang dilakukan oleh sang penyampai kebaikan, yakni rasul saw.

Syarat ketiga sebagai syarat yang tidak boleh dilupakan adalah melakukan studi banding. Ini bermakna setiap umat Muslim yang berangkat menunaikan ibadah haji, dianjurkan melakukan studi di daerah-daerah tertentu yang mana dapat diambil pelajaran darinya. Tujuan melakukan studi banding tersebut tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwanaan kita. Agar mudah dipahami, penulis akan menggambarkan secara sederhana apa yang dimaksud dengan studi banding tersebut.

Pelaksanaan ibadah haji tidaklah selama yang kita bayangkan. Ini hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua minggu, maka waktu selebihnya dapat digunakan untuk melakukan studi banding. Allah swt. mem menjelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Hajj [22]: 27 bahwa akan ada umat muslim yang berhaji dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Ini menggambarkan betapa susahnya melakukan perjalanan ibadah haji di tengah gurun pasir yang panas dan tandus. Namun, jika kita melihat realita yang ada, negara yang tandus tesebut memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi. Kemudian muncul sebuah pertanyaan, bagaimana jika Allah sat. tidak meletakkan Ka'bah berikut dengan kekayaan mineral dalam gurun yang tandus tersebut? Pastilah tidak akan terdapat kemakmuran di dalamnya sehingga tidak diragukan lagi, inilah bukti keadilan Allah swt. Deskripsi selanjutnya, dalam negara yang tandus tersebut tingkat kriminalitas terbilang relatif sedikit dibanding dengan negara-negara yang ada di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Misalnya, di negara tersebut apabila terdapat sebuah kendaraan mewah, yang kemewahannya sama dengan kendaraan yang ada di Indonesia, tidak dilakukan proteksi berlebihan, seperti dikunci dengan rantai, lalu dimasukkan dalam garasi yang berlapis besi, kemudian garasi tersebut dikunci dengan gembok besi pula berikut dengan lapis pagar rumah yang tinggi, tapi hanya dibiarkan di tempat parkir di depan rumah tanpa mendapatkan proteksi berlebihan (over protection). Berbeda dengan di Indonesia, yang sudah barang tentu melakukan hal demikian. Ini sekali lagi menandakan bahwa hanya negara yang memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi sehingga tingkat kriminalitasnya rendah. Berlaku perbandingan atau logika terbalik dalam hal ini.

Allah swt. menjelaskan terkait dengan kemakmuran tersebut dalam Al-Quran surat Al-A'raf [7]: 96 yang arinya:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Q.S. Al-A'raf [7]: 96)

Ayat di atas menjelaskan bahwa syarat untuk kemakmuran suatu negeri tidak lain adalah beriman dan bertakwa kepada Allah swt. orang-orang yang beriman dan bertakwa akan mengerjakan apa yang sudah dipedomankan dalam Al-Quran dan hadis. Keduanya adalah pedoman tidak hanya dalam tataran ibadah, tetapi juga dalam bidang sosial, ekonomi, budaya,  ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun negeri yang tidak beriman dan bertakwa kepada Allah swt. apabila terdapat kemakmuran di dalamnya, maka itu adalah sebuah ujian yang mana dijelaskan bahwa mereka akan menerima siksa atas perbuatannya.

Artinya:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (lihat Q.S. Al-An'am  [6]:44)

Kedua syarat inilah yang tidak dimiliki Indonesia sehingga Indonesia tidak tergolong pada negara yang makmur meski memiliki sumber daya yang melimpah, baik alam maupun manusia.

Syarat terakhir sebagai syarat tercapainya haji mabrur adalah biaya atau ongkos naik haji haruslah berasal dari yang halal dan baik. Rasul saw. mengajarkan kepada kita semua untuk mencari rezeki yang halal lagi baik sebagaimana beliau bersabda sesungguhnya Allah swt. itu baik, tidak menerima kecuali yang baik pula. Lebih lanjut, melaksanakan ibadah haji adalah sebuah kebaikan sehingga sangatlah tidak layak dan sudah tentu tidak akan menjadi haji mabrur apabila mengerjakan haji dari biaya yang didapatkan bukan berdasarkan atas halal dan baik. Logika sederhana yang dapat digunakan untuk memahami hal tersebut.

Empat syarat inilah yang harus dikerjakan bila ingin mendapatkan haji mabrur. Semoga Allah swt. me-ridhai berbagai kebaikan yang selama ini kita kerjakan. Wallahu a'lam.

 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 7 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.