Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

KEPEMIMPINAN DAN TERORISME

Pendahuluan
Islam adalah agama yang universal, mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk kepemimpinan. Setidaknya ada dua puluh surat Al-Quran yang didalamnya terdapat beberapa ayat yang berbicara tentang pemimpin dan kepemimpinan, lebih lagi dalam hadis yang disampaikan oleh rasulullah Saw. Hal ini menandakan bahwa Islam memberikan perhatian khusus kepada kepemimpinan, sekaligus menjadi bantahan terhadap kalangan orientalis dan para peragu Al-Quran yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang hanya berbicara tentang akhirat dan jauh dari konsep kehidupan modern.
 
Abu al hasan Ali bin Habib Al-Mawardi (lhr. 972 M, Basrah-Iraq) dalam karya fenomenalnya Adab al-Duniya wa al-Din (Tatakrama Duniawi dan Agamawi) dan al-Ahkam as-Sulthaniyah (Peraturan Pemerintahan) meletakkan Islam sebagai pondasi utama dalam membangun masyarakat.  Ini ia lakukan karena menganggap bahwa dalam Islam terdapat jawaban atas segala permasalahan yang ada. Bahkan, dalam pemerintahan, ia menyebut  Islam merupakan obat bagi negara yang sakit, dan obat itu adalah Al-Quran dan Hadis.
 
Pada konsep pemikiran Al-Mawardi, membangun kesejahteraan masyarakat, utamanya dilakukan melalui kepemimpinan, birokrasi, serta hak dan kewajiban. Pemimpin menjadi hal yang pertama sekali disorot oleh Al-Mawardi dalam mensejahterakan masyarakat. Ia menganggap bahwa kunci kesejahteraan itu berada di tangan pemimpin, sehingga analisis terhadap kepemimpinan merupakan kebutuhan yang urgen bagi masyarakat agar sesuai atau paling tidak mendekati dengan yang dikriteriakan dalam Al-Quran dan hadis.[1]
 
Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah menyebutkan setidaknya pemimpin harus memiliki enam kriteria agar bisa mensejahterakan rakyatnya. Keenam kriteria yang wajib bagi seorang pemimpin adalah berpengetahuan, keadilan, kesanggupan, sehat jasmani dan rohani, dan keturunan Qurays. Sama halnya dengan al-Mawardi, Ibnu Khaldun meletakkan keturunan Qurays sebagai kriteria bagi seorang pemimpin, meski hal ini belakangan mendapat penolakan oleh beberapa kalangan, seperti Abu Bakar Al-Baqillani, namun argumentasi teologi yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dengan menyandarkan hal ini kepada Nabi Muhammad Saw. menjadi sesuatu yang patut dipertimbangkan. Ia mengatakan bahwa pasti ada hikmah dibalik peletakan kirteria keturunan Qurays sebagai pemimpin, diantaranya melenyapkan perpecahan di tengah rakyat dengan adanya soliditas dan superioritas kaum Qurays. Lebih lanjut, menurutnya orang Qurays termasuk dalam golongan suku Mudhar yang dianggap paling perkasa dan berwibawa, serta merupakan cikal-bakal dari suku-suku lain.
 
Al-Farabi juga memberikan perhatian penting terhadap kepemimpinan. Selain memberikan kriteria khusus, ia juga mengemukakan bahwa pemimpin tertinggi merupakan seorang yang tidak dibawahi oleh orang lain. Ia menyebutnya al-Rais al-Awwal li Madinah al-Fadlilah wa al-Rais al-Ma’murah min al-Ardl kulliha (Pemimpin Tertinggi Negara Utama dan Pemimpin Dunia Makmur).
 
Melihat uraian tentang kepemimpinan yang dikemukakan oleh tiga tokoh pemikir Islam di atas terlihat bahwa Islam sangat serius dalam memberikan porsi terhadap kepemimpinan. Oleh sebab itu, ada banyak ayat yang berbicara tentang kepemimpinan tersebut.
 
 
Landasan Normatif Mengenai Kepemimpinan Menurut Islam
 
Bukti nyata bahwa Islam memberikan perhatian bagi kepemimpinan adalah adanya ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang pemimpin. Allah Swt. berfirman dalam surat as-Sajadah yang berbunyi:
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar [menegakkan kebenaran]. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. (Q.S. As-Sajadah [32]: 24)
 
Ayat di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa manusia telah diberikan pemimpin yang mampu mengarahkan rakyatnya kepada kebaikan. Ini tentunya didasarkan pada keimanan mereka kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. karena ketika seorang pemimpin beriman kepada Allah dan Rasulullah Muhammad Saw. tanpa ragu, ia akan mengamalkan apa yang telah difirmankan oleh Allah kepada manusia yaitu berupa Al-Quran dan Hadis yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., sehingga mereka mampu berbuat, bahkan berkorban dengan harta dan kekayaannya, serta yang ada pada dirinya (jiwa-raga) untuk berjuang di jalan Allah Swt. (Q.S. Al-hujarat [49]: 15)
 
Kemampuan yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengarahkan rakyatnya sesuai dengan Al-Quran dan hadis menjadi sebuah alasan tegas bahwa ia harus dipatuhi. Bila merujuk pada kriteria pemimpin yang dikemukakan oleh Al-Mawardi, Ibnu Khaldun, dan Al-Farabi, maka pemimpin yang memegang teguh Al-Quran dan hadis akan mampu bersikap adil, berpengetahuan dan berkecerdasan karena mampu menjadikan keduanya sebagai pedoman dalam memutuskan berbagai macam persoalan, yang dalam istilah Al-Mawardi menjadi obat bagi negara yang sakit. Sebaliknya, pemimpin yang jauh dari ayat-ayat Allah dan sunnah rasul-Nya, tidak harus dipatuhi, bahkan menurut Al-Baqillani, seorang pemimpin yang meninggalkan salat, tidak menegakkan syariat, melakukan pelanggaran terhadap hak-hak dasar masyarakat, seperti berbuat zalim dan membunuh, maka ia harus diberhentikan dari jabatannya sebagai pemimpin. Sedangkan Abu Ya’la al-Farra, lebih tajam dalam memberikan analisis, yakni bila seorang pemimpin memiliki kekurangan pada dirinya dan berpengaruh terhadap roda pemerintahan yang dipimpinnya dan hal itu sulit untuk diobati, maka ia wajib memecat dirinya sendiri.
 
Pantas bila Allah Swt. dalam Al-Quran tidak secara total mewajibkan hamba-Nya untuk mengikuti pemimpin dengan meniadakan kata “athi’u”.
 
   
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa [4]: 59)
 
Lebih dari itu, Allah Swt. juga mengingatkan kepada seluruh umat Muslim agar tidak menjadikan orang-orang di luar orang yang beriman sebagai seorang pemimpin. Larangan ini juga menjadi sebuah peringatan bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik agar tidak berbuat demikian.
 
 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu Mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu). (Q.S. An-Nisa [4]: 144)
 
Perlu diketahui bahwa orang yang tergolong munafik bukan hanya yang memiliki tiga sifat seperti yang disebutkan dalam hadis rasul Saw. :
 
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اتؤْمِنَ خَانَ
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat. (HR. Bukhari)
 
Orang-orang munafik adalah termasuk mereka yang memilih pemimpin di luar orang mukmin. Ini dapat dilihat dari surat An-Nisa ayat 144 di atas dan berikutnya pada ayat 145. Allah swt. berfirman :
 
  
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (Q.S. Annisa [4]: 145)
 
Ayat-ayat Al-Quran di atas sangat jelas memberikan pemahaman bagi kita, tidak hanya pada saat kejadian tersebut telah dan sedang terjadi, melainkan peristiwa yang akan terjadi jauh ke depan. Bisa setahun, sedekade, sedasawarsa, semillenium, bahkan berjuta-juta tahun yang akan datang, orang-orang munafik itu pasti ada. Ini dikarenakan Al-Quran dan hadis merupakan pedoman hidup yang berisi “data intelejen” yang menubuatkan kejadian-kejadian yang pasti akan terjadi di masa mendatang, serta menceritakan kejadian yang terjadi di masa lampau.
 
Begitu akuratnya data yang disampaikan oleh Al-Quran dan hadis, seolah membenarkan kejadian yang belakang bertubi-tubi menimpa umat Islam. Intimidasi, teror, hingga peperangan yang terjadi secara sepihak bak badai tornado yang menggulung rumah-rumah dan pepohonan tanpa henti melanda umat Muslim. Jutaan umat Islam meninggal dunia di Iraq, Suriah, Palestina, Afganistan, Patani, Rohingya, Kashmir, Cehcnya, dan Bosnia, kita diperangi oleh kalangan diluar kita. Kita dituduh dalang dari berbagai aksi terrorisme yang terjadi diberbagai belahan dunia, termasuk yang belakangan terjadi di Paris, Prancis, dan jelas mereka yang melakukan hal itu bukan beragama Islam. Maka, benar nubuat yang disampaikan oleh baginda rasulullah Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Tqausan bahwa:
 
“Akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan takut mati!”.
 
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya tidak lain karena kita telah menyerahkan kepemimpinan kepada orang-orang di luar umat Islam. Padahal, seyogyanya kepemimpinan itu dipegang oleh orang-orang yang beriman karena kekacauan akan terjadi akan terjadi bila kepemimpinan tidak dipegang oleh orang-orang yang beriman. Al-Quran telah memberikan sinyal peringatan kepada kita sejak 14 abad yang lalu, namun masih sedikit di antara kita yang menyadarinya.
 
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Q.S. Al-Anfal [8]: 73)
 
Lihatlah bagaimana Amerika, Rusia dan Prancis menyerang Iraq dan Suriah pasca terjadi terror di Prancis. Mereka berdalih memerangi ISIS karena telah melakukan tindakan terorisme, sehingga bersatu padu melancarkan serangan tidak lama setelah aksi terror tersebut terjadi.
 
Islam Tidak lahirkan Terorisme
Apa yang telah disebutkan di atas merupakan sebuah bukti bahwa teroris dan terorisme bukan berasal dari Islam, melainkan dari orang-orang di luar Islam itu sendiri. Tidak ada satu pun landasan normatif dalam al-Quran maupun hadis yang menganjurkan untuk berbuat terror dan kerusakan. Sebaliknya, Al-Quran dan hadis telah memberikan sinyalemen/ramalan/nubuat bahwa berbagai tuduhan yang menyudutkan orang-orang Islam akan berdatangan menerpa umat Muslim. Ini tentunya harus menjadi perhatian yang serius bagi kita bersama agar memikirkan solusi yang terbaik dan menghentikan kekacauan yang terjadi, bukan malah terkotak-kotak oleh aliran-aliran teologis yang sibuk mengkafirkan satu dengan yang lain padahal kita semua adalah sesame Muslim.
 
Salah seorang ulama Turki, Muhammad Fethullah Gulen, mengatakan terorisme tidak dibenarkan dalam Islam. Tidak ada ajaran, dalam Al-Quran dan hadis, yang menyeru umat Muslim untuk berbuat terror dan menyebarkan paham terorisme. Oleh sebab itu, ia mengatakan setiap orang yang melakukan perbuatan terror bukanlah orang Islam, dan Islam bukanlah teroris.
 
Tidak ada yang dapat mewakili Islam atas keburukan yang dilakukan olehnya karena Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin yang membawa rahmat, kesejahteraan, kedamaian tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat.
 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
1 + 4 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.