Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Ahmad Hidayatullah: Aku Tiong Hoa dan Aku Muslim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…

Selamat pagi saya ucapkan kepada para pembaca. Saya tahu, para pembaca pasti bertanya-tanya mengapa saya mengucapkan selamat pagi, sedangkan mungkin saja pembaca sedang tidak membaca cerita saya ini pada pagi hari. Namun, saya tetap mengucapkan selamat pagi karena saya menulis cerita ini tepat setelah saya selesai melakukan salat subuh dan membaca al-ma’tsurat dan telah mengulang sedikit hafalan Al-Quran. Selain itu, pagi hari adalah simbol bagi sebuah semangat yang mulai naik meninggi, sehingga banyak para motivator selalu menyapa audience-nya dengan ucapan selamat pagi! “Semoga saja saya bisa menjadi motivator kelak. Hehehehe… J tolong di-amin-kan ya para pembaca”, amin.

Perkenanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ahmad Hidayatullah atau yang lebih akrab dipanggil Dayat ketika saya memeluk Islam. Sebelum Islam, kedua orang tua saya menamai saya dengan nama Martinus Rizki Aditya, panggilan saya Martin ketika itu. Saya lahir dari keluarga yang menganut agama Kristen Protestan. Ayah saya adalah salah seorang yang taat dalam beragama, apalagi di gereja beliau dipercaya sebagai seorang workship leader, sedangkan ibu adalah ketua perkumpulan ibu-ibu gereja tempat kami tinggal yang dipercaya juga untuk memegang keuangan gereja. Saya sendiri dipercaya untuk memainkan keyboard (organ tunggal) dari mulai kebaktian anak-anak sampai pada kebaktian umum. Ayah saya asli penduduk Tangerang, sedangkan ibu asli penduduk Bogor. Kami kemudian bertempat tinggal di daerah Pamulang karena ayah saya bekerja di kawasan tersebut.

Ibu ikut kakak kandung saya yang pertama ke Belgia karena sakit struk, sekaligus tinggal di sana. Kebetulan kakak saya yang pertama memiliki istri berwarga negara asli Belgia dan punya usaha di sana, sehingga ia mengajak serta ibu saya ke sana untuk berobat. Disebabkan sakit yang diderita oleh ibu itulah, maka akhirnya ayah saya menikah lagi juga dengan seorang Tiong Hoa yang berasal dari Cibubur tanpa menceraikan ibu kandung saya. Walaupun papa menikah lagi, saya bisa memahami kondisi beliau karena memang ibu sedang sakit jadi tidak bisa merawatnya, sehingga sebagai laki-laki normal ia mencari pendamping yang bisa merawatnya. Untungnya ia tidak menceraikan ibu, walaupun sudah menikah lagi. Mungkin akan sangat sakit sekali hati ibu bila diceraikan pada saat kondisinya lemah tak berdaya seperti sekarang ini.

Rasa rindu tentu ada pada diri saya. Sebagai seorang anak pasti ingin sekali melihat dan merawat ibunya yang sedang sakit sebagai bentuk berbakti kepada orang tua, namun karena ketiadaan biaya, saya pun mengurungkan niat itu. “Mungkin suatu saat saya akan bertemu dengan ibu, saya yakin itu.”, harap saya.

Awalnya ibu akan dibawa ke Singapura bersama kakak saya yang kedua, namun karena adanya ketidakcocokan dengan menantunya, sehingga tidak jadi dibawa ke Singapura. Kakak ipar saya berasal dari Surabaya, ia memiliki restoran Cina yang sudah berdiri selama lima belas tahun dan mengolah daging babi sebagai menu utama di Singapura, sehingga membawa serta kakak saya yang kedua ke sana. Akan tetapi, ia tidak mau mengurus ibu saya. Akibatnya, mau tidak mau ibu harus pergi bersama kakak saya yang pertama ke Belgia. Itulah sedikit cerita mengenai keluarga saya, selanjutnya saya akan menceritakan mengenai pribadi saya mulai dari ketika saya SD sampai saat ini memeluk Islam.

Dahulu, saya bersekolah di SD Negeri 02 Rawa Buntu di kawasan BSD, Tangerang. Layaknya sebagai seorang anak pada umumnya, saya ketika itu gemar bermain bersama teman-teman dan juga belajar. Sejak kecil memang saya bukan tergolong anak yang cerdas, namun saya juga tidak bodoh. Seperti anak-anak pada umumnya, saya bisa menerima pelajaran dan riang ketika mengikuti pelajaran tersebut. Apalagi ketika itu kami sekeluarga masih harmonis. Ibu selalu mengantar dan menjemput saya ke sekolah setiap harinya, bahkan kadang ayah pada hari sabtu juga menemani ibu mengantar saya ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.

Lulus dari sekolah dasar saya melanjutkan pendidikan ke SLTPN 104 Mampang Parampatan. Di sekolah tersebutlah saya kemudian menimba ilmu bersama teman-teman yang lain. Ini kemudian berlanjut sampai saya lulus dari sekolah itu dan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas sebagai jenjang yang menentukan bagi saya guna melanjutkan ke perguruan tinggi. Usai lulus dari sekolah lanjutan tingkat pertama tersebutlah saya kemudian meneruskan pendidikan ke sekolah menengah atas yang berada di Pamulang II, namanya SMK Warsito. Ini saya jalani selama tiga tahun layaknya anak pada umumnya yang menghabiskan waktu untuk bersekolah di SMA.

Pada jenjang pendidikan menengah atas inilah saya mulai menjadi pribadi yang tidak terkontrol. Bila ketika berada di bangku sekolah dasar dan menengah pertama perhatian orang tua sangat kuat terhadap saya, pada tingkat SMA perhatian mereka mulai berkurang. Ayah semakin sibuk dengan pekerjaannya, ibu juga sibuk dengan kegiatan-kegiatannya, sedangkan kakak-kakak saya semuanya hanya sibuk dengan usaha mereka masing-masing. Di situlah saya mulai menjadi pribadi yang tidak terkontrol. Usia yang labil karena berada pada proses transisi antara anak-anak menuju dewasa, dalam istilah anak sekarang dikenal dengan ABG (Anak Baru Gede), inilah yang membuat saya rentan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Malangnya, lingkungan tempat saya bersekolah tidak semuanya baik. Kebanyakan dari teman-teman yang satu kelas dengan saya menjadi seseorang yang nakal. Tidak jarang mereka bolos sekolah, atau keluar pada jam pelajaran hanya karena malas dan duduk-duduk di kantin sekolah saja. Yang lebih parahnya lagi, saya ketika itu terikut dalam kegiatan-kegiatan pergaulan bebas bersama teman-teman saya. Merokok dan minum-minuman keras, hingga pergi ke diskotik. Sungguh saya pada saat duduk di bangku sekolah menengah atas ini menjadi pribadi yang sulit diatur. Mungkin karena kurangnya perhatian dari orang tua, sehingga menjadikan saya seperti ini. Bahkan, tak jarang saya melawan apa yang mereka perintahkan terhadap saya.

Perbuatan-perbuatan maksiat dan tidak hormat itu saya jalani selama lebih kurang dua tahun, khususnya ketika saya duduk di bangku kelas dua dan tiga sekolah menengah atas. Meski kami sekeluarga aktif dalam berbagai kegiatan gereja, namun tidak memberikan efek yang berarti bagi saya. Ini disebabkan dalam agama saya dulu tidak ada larangan untuk makan atau meminum sesuatu yang diharamkan dalam Islam, semuanya halal.

 

Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan sesuatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur.

(1 Timotius 4:5)

 

Saat lulus dari sekolah menegah atas tersebut baru kemudian intensitas saya melakukan perbuatan yang sama sedikit berkurang karena memang saya sudah tidak lagi bergaul dengan teman-teman saya yang melakukan hal-hal demikian. Apalagi ketika mulai masuk ke perguruan tinggi, saya mendapat teman-teman baru yang lebih baik dari ketika berada di SMK dulu.

Universitas Pamulang yang terletak tidak jauh dari rumah adalah universitas yang saya pilih ketika itu. Fokus terhadap jurusan pemasaran menjadikan saya berkeinginan untuk menjadi seorang pebisnis yang handal dalam memasarkan produk. Akan tetapi, hal ini ternyata tidak berjalan mulus. Saat duduk di bangku kuliah, tepatnya semester empat, saya menderita sakit yang cukup parah hingga berakibat tidak masuk kuliah selama berbulan-bulan pada akhir tahun 2011 hingga sekarang putus kuliah karena berpindah agama menjadi seorang penganut Islam.

Putus kuliah bukan dikarenakan sakit, melainkan karena saya berpindah agama, sehingga berakibat dikucilkan dari keluarga dan kemudian di diusir, bahkan tidak lagi diakui sebagai seorang anak oleh ayah dan juga oleh kakak-kakak saya. Kisah ini akan saya lanjutkan setelah menceritakan bagaimana saya bisa sembuh dari penyakit keras yang saya alami ketika itu.

Adalah sebuah teguran dari Allah yang saya rasakan. Saya menderita sakit akibat dari perbuatan ketika masih sekolah dulu. Saya sadar bahwa ini adalah sebuah teguran yang diberikan oleh Allah karena kenakalan saya yang mana Allah menimpakan sakit paru-paru kepada saya. Kata dokter paru-paru saya berlubang dan berflek. Ini dikarenakan saat sekolah dulu saya merokok dan minum-minuman keras, sehingga berdampak pada kesehatan.

Penyakit yang saya derita ini memang cukup mengkhawatirkan, sehingga orang tua saya bekerja keras agar dapat menyembuhkan saya. Upaya yang dilakukan dengan membawa ke dokter mulai dari RSCM, Rumah Sakit Pondok Indah, hingga Singapore Hospital sudah dilakukan. Selain itu juga telah membawa saya ke suhu maupun since, pengobatan tradisional cina, namun tetap masih belum membuahkan hasil. Bahkan oleh dokter saya divonis tidak akan hidup lebih lama lagi, hanya dua atau tiga bulan saja.

Upaya medis dan pengobatan alternatif sudah ditempuh oleh keluarga, namun masih belum membuahkan hasil, akhirnya saya dibawa oleh keluarga saya ke gereja di dekat tempat tinggal kami. Di sana saya didoakan oleh jemaat gereja supaya lekas sembuh, bahkan saya juga dinyanyikan lagu-lagu gereja oleh mereka. Bunyi lagunya seperti ini:

Bapa engkau sungguh baik
Kasih-Mu melimpah di hidupku
Bapa ku berterima kasih
Berkat-Mu hari ini
Yang kau sediakan bagiku

Kunaikkan syukurku
Buat hari yang kau b’ri
Tak habis-habisnya kasih dan rahmat-Mu
S’lalu baru dan tak pernah
Terlambat pertolongan-Mu
Besar setia-Mu di s’panjang hidupku

Seiring berjalannya waktu keluarga saya terus mengupayakan yang terbaik, khususnya untuk kesembuhan saya. Hingga suatu ketika teman kuliah saya datang menjenguk dan memberitahu bahwa ada sebuah pengobatan yang mungkin bisa menyembuhkan saya. Meski ia berbeda keyakinan dengan saya, namun atas kebaikannya itu ia memberikan informasi yang sangat saya butuhkan. Kemudian ia memperkenalkan kepada saya dan keluarga seorang ustadz, namanya ustadz Asep Syarifuddin, seorang guru di SMP Al-Amanah BSD. Beliau bukan seorang dukun, paranormal, maupun dokter, melainkan hanya seorang ustadz yang menurut pengakuannya ustadz tersebut sudah banyak menyembuhkan orang dari berbagai macam penyakit karena diberikan kelebihan oleh Allah Swt.

Keluarga ketika itu menyambut baik niat teman saya untuk membantu. Meski berbeda keyakinan, namun demi kesembuhan saya, mereka pun bersedia dan mengizinkan ustadz tersebut untuk datang ke rumah dan melakukan pengobatan terhadap diri saya.

Selang dua hari kemudian, ustadz tersebut pun datang bersama teman saya. Mereka berdua mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Akan tetapi, karena kami sekeluarga bukanlah seorang Muslim, maka kami tidak menjawab salam yang mereka ucapkan. Akhirnya, ayah keluar dan membukakan pintu untuk mereka serta kemudian mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Ayah memberikan sedikit makanan dan minuman kemasan kepada mereka karena ayah tahu mereka tidak akan memakan makanan yang bukan dari kemasan sebab khawatir mengandung babi dan makanan yang diharamkan dalam agama Islam.

Tak lama setelah berbincang dengan ayah, sang ustadz masuk ke dalam kamar dan kemudian melihat kondisi saya yang terbaring lemah di tempat tidur. Ustadz tersebut lalu berkata kepada saya; “Martin, antum mau sembuh?”, katanya. Saya pun menjawab pertanyaan ustadz tersebut; “Maulah ustadz, siapa sih yang tidak mau sembuh dari sakit.”, kata saya. Kemudian ustadz menjawab; “Kalau kamu mau sembuh kamu harus ikutin saran ustadz.” Dengan penasaran saya menjawab; “ Apa itu ustadz?” Ustadz menjawab lagi: “Kalau kamu mau sembuh, kamu perbanyakin salat sunnah, witir dan terutama dzikir.”, katanya demikian.

Mendengar perkataan yang disampaikan oleh ustadz yang mengobati saya itu saya langsung kaget. Lalu saya berkata kepada beliau; “Ustadz, saya kan agamanya Kristen, mana mungkin saya melakukan hal itu. Sama saja saya menghianati agama saya dengan Tuhan Yesyus.”, kata saya kepada ustadz. Ustadz berkata lagi; “Ya kalau kamu mau sembuh kamu ikutin anjuran saya.”, katanya lagi dengan tegas. Karena merasa terpojok saya mengulang perkataan saya lagi; “Apa bisa ustadz, saya kan agamanya Kristen, masak ngelakuin kayak gitu? Apa bisa?”, kata saya. Kembali beliau menegaskan; “Dicoba dulu segala sesuatunya baru tahu.”, kata ustadz lagi. Akhirnya, saya pun melakukan apa yang ustadz tersebut katakan tanpa mengucap kalimat syahadat saya mengikuti saja apa yang dikatakan olehnya.

Awalnya orang tua saya melarang saya untuk melakukan demikian, namun karena melihat saya sudah sangat lemah ketika itu, kemudian ayah mengizinkan saya untuk melakukan apa yang ustadz tersebut katakan. Apalagi ketika itu ayah berpikiran tidak baik atas ustadz tersebut karena ia tahu bahwa dengan mengucapkan kalimat yang diperintahkan oleh ustadz tersebut, maka sebenarnya saya sudah memeluk Islam walaupun hanya dalam mulut tanpa meyakininya. Ayah juga berpikiran, sebenarnya maksud ustadz ini apa hingga menyuruh saya melakukan hal demikian. Ya…lagi-lagi karena rasa sayangnya kepada saya, akhirnya saya dibolehkan melakukannya. “Ya..sudahlah, demi kesembuhan si Martin, ya udah lakuin.”, kata beliau.

Ustadz tersebut pun akhirnya menerapi saya dengan bacaan-bacaan dzikir dan salat sunnah. Bacaan dzikir yang diajarkan oleh beliau adalah dzikir dengan kalimat la ilaha ila Allah. Dzikir dengan kalimat ini pula yang tidak dapat saya lupakan hingga saat ini. Berawal dari situlah kemudian saya mengenal beberapa bacaan yang dibaca oleh umat Muslim ketika melakukan salat dan dzikir sesudahnya. Terapi pun saya lakukan selama tiga bulan dengan datang ke rumah beliau setiap dua atau tiga hari sekali.

Alhamdulillah, terapi yang saya jalani selama tiga bulan lebih itu ternyata membuahkan hasil yang positif. Saya kemudian diperiksakan oleh orang tua saya ke rumah sakit untuk di-rontgen, tepatnya di rumah sakit Redipa di kawasan Pancoran. Kebetulan dokter yang memeriksa saya masih memiliki hubungan keluarga dengan ibu yang membuka praktik di situ. Hasilnya, subhanallah, dari sebelumnya ketika pemeriksaan pertama mengalami sakit paru-paru, yang mana paru-paru saya berlubang dan ada flek, alhamdulillah, sekarang sudah sembuh, bahkan tidak ditemukan flek lagi.

Entah bagaimana cara kerja terapi tersebut. Namun, inilah kenyataan yang terjadi. Hal ini tentunya di luar dari akal sehat manusia, dan ilmu kedokteran modern pun saya rasa sulit untuk menjelaskan ini. Bisa pembaca bayangkan bagaimana sakit yang saya alami. Jangankan untuk berdiri kemudian berjalan layaknya orang yang normal, untuk melangkahkan kaki ke kamar mandi saja yang jaraknya hanya dua jengkal rasanya sangat sulit. Padahal, kamar mandi tersebut berada langsung di dalam kamar tidur saya, namun tetap saja sulit bagi saya. Sungguhlah sebuah keajaiban hingga saya dapat sembuh seperti sekarang.

Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah melalui ustadz yang mengobati saya ini, saya sembuh. Meski belum sembuh seratus persen, setidaknya saya dapat sembuh dari penyakit. Berbeda dengan perkataan dokter yang sebelumnya memvonis usia saya tidak akan lama lagi. Ini tentunya memberikan efek tersendiri bagi saya. Saya merasa ada yang lain yang terjadi pada diri saya. Selain karena sembuh berkat salat, dzikir, kemudian saya menambahnya lagi dengan doa-doa atas anjuran ustadz, saya juga merasa bahwa Allah seperti menunjukkan jalan lain kepada saya.

Tak lama setelah kesembuhan saya ketika itu, saya merasa ada sesuatu yang menarik saya untuk memeluk Islam. Ayah memang sejak awal kedatangan ustadz tersebut sudah curiga, jangan-jangan dia akan memurtadkan saya dari agama Protestan. Namun, karena kesibukan ayah selain sebagai workship leader di gereja, ia juga bekerja sebagai karyawan tetap di Bank Mandiri, saya pun luput dari pengawasan ayah.

Perasaan aneh yang saya alami ketika saya sembuh dari sakit beberapa bulan setelah pemberitahuan melalui rontgen, tidak langsung saya tanggapi begitu saja. Dalam benak saya ketika itu, mungkin perasaan aneh yang saya alami hanya sekedar perasaan saja tanpa ada sesuatu yang perlu ditindaklanjuti. Saya hanya berpikir bagaimana dapat membalas kebaikan yang ustadz tersebut berikan kepada saya agar tidak berhutang budi kepada beliau.

Keinginan untuk membalas budi baik kepada sang ustadz ketika itu sangatlah kuat. Rasa gembira karena sudah terbebas dari vonis dokter sungguh tak terbayangkan pada saat itu. Saya sangat bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesembuhan ini. Beberapa minggu setelah kesembuhan, saya pun mencari-cari ustadz itu lagi, akan tetapi tidak pernah saya temukan. Alhasil, saya mendengar kabar bahwa beliau telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah Swt. Sedih rasanya, melihat orang yang sangat berjasa kepada kita lebih dahulu meninggalkan kita. Apalagi belum sempat untuk membalas budi baik yang beliau lakukan.  (Bersambung)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
2 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.