Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Ahmad Hidayatullah: Aku Tiong Hoa dan Aku Muslim (Habis)

Tak sadar saya sempat menitihkan air mata ketika itu. Kalaulah boleh diibaratkan, beliau seperti air yang menyirami pohon kecil yang sudah kering bahkan sebentar lagi akan mati. Itulah saya. Rasa duka telah ditinggal oleh beliau pun saya tuangkan dalam sebuah doa. Meski saya sudah tahu bahwa saya masih berstatus sebagai seorang penganut Kristen ketika itu, namun saya tetap mendoakan beliau. Semoga saja Allah Swt., memberikan tempat yang terbaik baginya di syurga Allah, amin yaa rabbal ‘alamin.

Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (Q.S. At-Taubah [9]: 113)

Hal yang membuat saya begitu prihatin adalah mendengar kabar bahwa istri beliau dengan segala keterbatasannya membesarkan anak-anak yang beliau tinggalkan sendirian tanpa mau menikah lagi. Ke-istiqomah-an yang istri almarhum ustadz ini sungguh membuat hati saya merasa kagum. Kesusahan yang menimpa beliau tidak serta merta menjadikannya kufur dari nikmat-nikmat yang Allah berikan, sebaliknya mereka sangat sabar dan tabah menjalani kehidupan ini.

Melihat kondisi inilah saya membulatkan tekad dalam hati. Saya bernazar, insya Allah, nantinya kalau saya mendapatkan pekerjaan dan memiliki rezeki yang cukup, saya akan membantu mereka sebagai tanda balas budi kepada mereka sekeluarga karena berkat bantuan dan pertolongan Allah melalui ustadz tersebutlah saya dapat sembuh seperti saat ini. Semoga saja saya dapat melakukannya. Amin.

Hampir dua tahun berselang saya sembuh dari penyakit. Perasaan aneh yang pernah melanda diri saya kembali muncul. Ini berbeda dari yang sebelumnya, setelah sebelumnya saya tidak menghiraukan apa yang saya rasakan ini, saya merasakannya lagi dan ini sangat berbeda. Mungkin karena masih melakukan anjuran almarhum ustadz untuk selalu berdzikir dengan mengucap kalimat la ilaha ila Allah. Hal inilah yang membuat saya merasa perlu untuk mengikuti apa yang saya rasakan karena semakin saya menolak perasaan itu, maka semakin saya tidak kuat untuk menahanya.

Kalau boleh saya menggambarkan apa yang terjadi pada diri saya ketika itu seperti seekor sapi yang telah ditusuk hidungnya dan kemudian ditarik. Semakin saya mencoba untuk melepaskan diri dari tarikan itu, maka tubuh saya akan merasa kesakitan. Begitulah kira-kira gambarannya. Semakin saya ingin menolak Islam, saya semakin diarahkan kepada Islam hingga saya tak kuasa menolaknya karena bacaan-bacaan yang pernah saya baca ketika terapi dengan almarhum ustadz senantiasa muncul dalam benak saya.

Rasa tak kuasa membendung dorongan batin untuk memeluk agama Islam ini pun akhirnya aku buka. Bak sebuah bendungan yang menghadang aliran air yang sangat deras kemudian terbuka, keinginan untuk beragama Islam akhirnya muncul dalam diri saya. Pada waktu itu, tepat pada tanggal 7 Maret 2014 yang lalu, usai melakukan salat Jumat saya disayahadatkan. Di situlah saya mempertaruhkan segalanya demi Islam. Keluarga, kasih sayang orang-orang terdekat, hingga fasilitas yang selama ini saya dapatkan dari orang tua dan kakak-kakak saya, saya pertaruhkan di situ. Namun, saya sudah yakin dengan Islam dan tidak akan bergeming sedikit pun. Ternyata benar apa yang dikatakan Allah dalam firmannya:

"Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (al-Kahf [18]: 17)

Usai melakukan syahadat, saya diberi uang sejumlah lima ratus ribu rupiah oleh ustadz yang mengislamkan saya untuk sunat. Alhamdulillah, pertama kali mengucapkan kalimat syahadat saya sudah mendapatkan perhatian dari sesama Muslim. Saya sangat bersyukur ketika itu, hingga usai proses syahadat dilakukan, saya pun langsung menuju ke rumah khitan tempat yang akan mengkhitankan saya.

Ada sebuah kejadian yang lucu ketika itu. Saat saya akan dikhitan, dokter yang akan mengkhitankan saya berkata kepada saya; “Kok sudah tua baru disunat? Biasanya sih agak alot.”, katanya sambil tersenyum. Saya merasa aneh ketika itu karena hal ini memang tidak ada dalam ajaran Kristen. Sebaliknya, umat Kristiani malah tidak dibolehkan untuk khitan, sehingga kami semua tidak melakukannya.

Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (Gal 5:2)

Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Kor 7:18-19)

“Ya..sudahlah, karena memang dokter tersebut awalnya tidak mengetahui bahwa aku baru saja menjadi muallaf.”, kataku dalam hati.

Untungnya ketika saya disunat, teknologi sudah semakin canggih. Dengan munggunakan laser, proses khitan pun semakin mudah. Tidak khawatir kulit khatan saya sudah tua atau belum, karena dengan menggunakan laser pemotongan akan semakin cepat. Hanya menunggu dua minggu saja sudah kering, meski awalnya sakit dan gatal karena pada kepercayaan penduduk sekitar ketika orang disunat agar menggunakan keong racun supaya cepat sembuh. Malangnya, yang saya dapatkan bukan semakin sembuh, malahan semakin gatal-gatal hingga ingin sekali rasanya saya menggaruknya setiap waktu.

Berangkat dari proses khitan yang saya lakukan inilah kemudian keluarga saya mengetahui bahwa saya telah memeluk Islam. Ayah adalah orang pertama yang mengetahui bahwa saya telah memeluk Islam. Ia tahu dari salah seorang karyawan di kantornya yang bekerja sebagai auditor. Kata auditor tersebut; “Si adit sudah masuk Islam itu ko..” Ayah saya pun kaget ketika itu; “Ha…, masuk Islam?” katanya dengan kaget. Langsung saja ayah saya mencari saya ke daerah Kampung Pakis yang tidak jauh dari rumah kami. Kebetulan setelah saya memutuskan untuk memeluk Islam saya mulai tinggal dengan pak haji yang tinggal di Kampung Pakis itu. Ayah memang tidak menaruh curiga karena memang ketika saya masih sehat dulu terkadang sering menginap di rumah teman, sehingga tidak menaruh kecurigaan sedikitpun.

Pasca mengetahui saya telah memeluk Islam dari salah seorang auditor di kantornya, ayah terus mencari saya dan kemudian mengetahui bahwa saya sedang berada di Kampung Pakis. Di Kampung Pakis itulah saya tinggal bersama seorang yang sangat baik yang bernama pak H. An-Awaluddin. Beliau sangat baik hati hingga menganggap saya seperti anak kandungnya sendiri, sejak saya masuk Islam.

Kebaikan beliau sangat mulia bagi saya, beliau berkata kepada saya ketika itu; “Adit, anggaplah kami seperti keluarga dan orang tua kamu sendiri.”, kata beliau. Beliau pun memberikan berbagai fasilitas kepada saya, seperti handphone, mobil, dan motor beliau boleh saya pakai. Padahal, saya adalah orang yang baru dikenal oleh beliau, meski rumah ayah dengan rumah beliau berjarak tidak terlalu jauh, hanya berjarak empat gang saja.

Umat Muslim di sekitar rumah saya pun ketika itu sangat mendukung. Mereka mendukung dengan bertanya tentang kondisi saya pasca berislam. Tidak sedikit di antara mereka yang memberikan bantuan berupa baju koko, peci, sepatu, dan sejumlah uang kepada saya. Akan tetapi, juga ada di antara mereka yang iri kepada saya, apalagi ketika saya diangkat menjadi anak oleh keluarga pak haji. Mereka berpikiran bahwa saya masuk Islam itu karena diberi sesuatu oleh pak haji. Kebetulah pak haji adalah seorang pensiunan PTPN yang tergolong mampu, sehingga mereka berpemikiran bahwa pasti karena pak haji orang kaya makanya saya mau masuk Islam dan kemudian menjadi anak angkat beliau, padahal tidak demikian.

Tepat pada dua bulan setelah tulisan ini saya tulis, saya bersama pak haji mengikuti sebuah seminar yang kami ikuti di daerah Cirendeu. Usai mengikuti seminar tersebut kami melakukan salat ashar di Mesjid Agung Ciputat. Tanpa kami sadari ternyata ayah saya memerintahkan salah seorang auditor dari kantornya untuk membuntuti kami sejak dari rumah pak haji. Rupa-rupanya ketika kami mengendarai motor usai melakukan salat di mesjid tiba-tiba saja ayah saya menghalangi jalan kami dengan mobilnya. Hampir saja kami terjatuh dan masuk ke selokan ketika itu, namun Alhamdulillah, Allah masih memberikan perlindungan kepada kami berdua.

Setelah memberhentikan mobilnya, ayah saya pun kemudian keluar dan mendatangi kami. Dia berkata; “Keluar dari pesantren, gua tau loe tinggal di pesantren. Kalau nggak, keluarga pak haji bakal kenapa-kenapa di tangan gua.”, katanya, meski beliau tidak mengetahui saya tinggal di pesantre An-Naba’ Center di Sawah Baru, beliau hanya tahu kalau saya tinggal di pesantren di dekat Kampung Sawah.

Mendengar perkataan ayah saya itu tentu saya juga naik emosi dan kemudian menggertak beliau; “Papa apa-apaan ini? Saya masuk Islam juga tidak dipaksa oleh orang, nggak ada yang ngancem-ngancem saya biar masuk Islam. Ini kemauan dari diri saya, saya yakin pada Allah saya! Allah saya aja bisa nyembuhin saya dari penyakit, apalagi Allah saya bisa menolong saya dari berbagai hal.”, kata saya dengan tegas.

Apa yang saya sampaikan itu ternyata membuat ayah semakin naik pitam, hingga ia menunjuk wajah pak haji. “Gara-gara loe anak gua jadi kayak gini.”, katanya kepada pak haji. Belum puas ayah berkata demikian kepada pak haji, ia kemudian memaki-maki saya; “Emang enak loe hidup di Islam, miskin loe, melarat!” katanya dengan lantang. Sungguh perkataan ayah saat itu membuat saya semakin emosi, hingga saya melontarkan perkataan yang tidak seharusnya saya katakana; “Papa kalau ngomong kayak gitu lagi gua bunuh loe pa!”, kata saya saat hilang kendali. Meski kemudian saya menyesal mengapa saya bisa berkata demikian kepada ayah kandung saya sendiri.

Tidak lama setelah kemarahan saya itu, datanglah seorang ibu-ibu yang menolong saya dan pak haji. Namanya ibu Linda, kebetulan saya berkenalan dengan beliau pada acara seminar yang saya ikuti di Cirendeu. Melihat saya dalam kesulitan ibu tersebut keluar dari mobilnya dan kemudian menghampiri kami. Melihat posisi saya dan pak haji yang terpojok, akhirnya ibu tersebut berkata; “Bapak kalau macem-macem saya teriak ni!”, kata sang ibu. Akhirnya, karena ayah saya takut nantinya akan ada masyarakat lain yang datang untuk membela saya, beliau pun pergi meninggalkan kami.

Alhamdulillah, pada saat itu saya lega karena ayah telah pergi meninggalkan kami. Namun, saya merasa sedikit ‘sebel’ dengan orang-orang yang ada di sekeliling kami. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau menolong. Padahal, saya tahu pasti tidak hanya orang Kristen yang lewat di jalan itu, tetapi pasti juga ada orang Muslim. Namun, mengapa mereka tidak mau membantu kami yang hampir saja terjatuh dan dapat berakibat luka parah? Katanya umat Muslim bersaudara, tapi kenapa mereka tidak mau membantu? Untungnya pak haji ketika itu berpikiran dewasa, beliau katakan; “Mungkin mereka tidak mau ikut campur dengan urusan yang sedang kita hadapi.”, kata beliau.

Sejak kejadian itu, keluarga saya tidak lagi memperdulikan saya. Mereka menelantarkan saya begitu saja. Seperti sebuah barang usang yang tidak ada gunanya lagi, saya dibuang begitu saja. Bukti saya telah dibuang adalah ketika saya melakukan check up ke rumah sakit. Ayah saya datang menemui saya di rumah sakit ketika itu. Di sanalah ia memberikan surat tanah beserta akta jual beli tanah kepada saya dengan mengatakan bahwa saya bukanlah anaknya lagi. Oleh sebab itu, hak saya sebagai anak juga telah putus, kecuali tanah yang diberikan olehnya itu. Ini adalah sebuah ujian terberat dalam hidup saya, akan tetapi saya sangat menyadari bahwa ini semua bagian dari janji Allah SWT. kepada hamba-Nya yang beru memeluk Islam:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?[2]. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta[3]. (Q.S. Al-Ankabut [29]: 2-3)

Sedih, kesal, bercampur menjadi satu. Sedih karena saya tidak lagi dianggap sebagai anak beliau, sementara saya masih dan tetap menganggapnya sebagai orang tua saya. Bak kata pepatah ‘tak akan putus air dibelah’, di situlah saya tidak akan pernah berhenti berharap dan berketetapan bahwa saya tidak akan pernah melupakan ayah saya sendiri. Akan tetapi, balasan yang saya dapatkan dari ayah justru sebaliknya. Ikatan hubungan darah antara ayah dan anak hanya sebatas akta jual beli tanah yang harganya tidaklah seberapa itu. Sungguh ini sangat menyedihkan bagi diri saya, dan mengapa hal ini terjadi. “Oh Tuhan…..begitu berat cobaan yang Engkau berikan kepada saya, meski saya tahu ini adalah sebuah ujian yang sedang Engkau lakukan kepada saya.”, dalam hati saya merintih.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sementara mereka tidak diuji lagi? (Q.S. Al-Ankabut [29]: 2)

Kesedihan saya ditambah lagi dengan pemberian sebidang tanah seluas enam puluh meter persegi di daerah pedalaman Bogor. Sebelumnya ayah pernah berjanji akan memberikan tanah seluas tiga ratus meter persegi kepada saya di daerah Tangerang Selatan, namun pasca saya memutuskan untuk memeluk Islam, hal ini pun tidak terwujud. “Biarlah, yang penting saya masih mendapatkan sesuatu yang bisa saya jual nantinya untuk kelangsungan hidup saya kelak. Semoga saja hal ini dapat bermanfaat bagi saya.”, harap saya dalam hati.

Beberapa hari setelah melakukan check-up saya diharuskan untuk melakukan hal yang sama pada minggu depan. Kondisi saya yang belum sepenuhnya terbebas dari penyakit paru-paru yang saya derita mengakibatkan saya rentan terserang penyakit yang sama. Oleh sebab itu, saya harus sering melakukan kontrol ke dokter guna kesembuhan saya. Tepat pada waktu saya merasakan sakit pada dada saya, ketika itu pula saya memutuskan untuk berobat ke dokter. Malangnya, saya tidak memiliki uang untuk berobat, sehingga saya tidak dapat berobat. Biarpun pak haji mau memberikan uang kepada saya untuk berobat karena telah menganggap saya sebagai anak angkat, namun saya merasa segan bila selalu merepotkan beliau. Kondisi yang membuat saya terjepit inilah kemudian membuat saya memberanikan diri untuk meminta uang kepada ayah sebesar lima ratus ribu rupiah.  

Pembaca mungkin bertanya-tanya apa jawaban ayah saya ketika saya meminta uang untuk berobat, jangankan memberi uang tersebut saya malah diusir dari rumah dan tidak diperbolehkan lagi menginjakkan kaki di rumah itu. Saya pikir perkataan ayah yang tidak mau menganggap saya sebagai anak hanya main-main, tapi teranyata itu sungguhan. Sungguh ini benar-benar tidak berperi kemanusiaan. Binatang saja ketika melihat anaknya sakit pasti akan berupaya menolong, akan tetapi ayah saya malah mengusir saya. Saya merasa seperti sudah tidak diinginkan lagi di dunia ini.

Ayah ternyata lebih sayang harta ketimbang anaknya sendiri. Ia sanggup membeli mobil baru yang berharga ratusan juta rupiah tanpa kredit, sementara uang lima ratus ribu rupiah untuk berobat anaknya tidak pernah ia berikan. Apalagi yang bisa saya katakan kepada pembaca melihat sikap ayah saya yang seperti ini kepada saya? Pasrah dan tawakal adalah satu-satunya jalan yang bisa menenangkan saya ketika itu.

Saya benar-benar merasakan kesusahan ketika masuk Islam. Bukan mau mengungkit atau yang lain, tapi yang jelas Allah benar-benar menguji saya dengan cobaan yang bagi saya sangat berat ini. Dulu saya adalah pribadi yang dimanja, kemanapun pergi selalu ada kendaraan yang menemani, ada motor, mobil, lap top dan lainnya. Bertahun-tahun saya merasakan nikmat yang seperti itu, namun sekarang setelah saya memeluk Islam justru malah sebaliknya. “Sekarang sangat susah, bahkan uang seratus ribu yang dahulu saya anggap nilainya sama seperti sepuluh ribu kini sangat sulit saya dapatkan. Jangankan seratus ribu, sepuluh ribu rupiah pun sulit. Lalu bagaimana saya dapat menjalankan hidup ini bila saya terus-terusan terpuruk ini?”, tak terasa air mata saya mulai menetes ketika menuliskan ini.

Hidup saya dulu memang bisa dibilang lebih dari kata cukup. Ayah dan kakak-kakak saya tidak jarang mereka memberi uang kepada saya masing masing dua juta per bulan. Apabila mereka tidak memberi, tidak jarang saya mengancam dengan ancaman tidak akan sekolah, atau bahkan akan bunuh diri. Namun sekarang sangat terasa bedanya, bahwa perbuatan boros dan royal yang pernah saya lakukan tidak memberikan hasil justru ketika saya tak lagi mampu untuk berbuat demikian, tak ada sedikitpun tabungan yang ada pada diri saya agar saya dapat hidup lebih layak.

Dahulu saya hanya mengartikan segala sesuatu itu hanyalah uang. Agama tidak lain adalah sarana untuk mendapatkan uang. Aktifitas-aktifitas lain yang saya lakukan tujuannya adalah untuk mendapatkan uang.  Oleh sebab itu, tidak ada yang lain yang dibutuhkan oleh manusia kecuali uang, uang, dan uang. Dari sinilah saya berpikir bahwa; “Untuk apa manusia bekerja selain untuk uang. Mereka butuh makan dan minum juga membelinya dengan menggunakan uang. Dengan uang saya bisa membeli segalanya dan berbuat apa saja.”, pikir saya ketika itu.

Sekarang, saya menyadari bahwa apa yang saya pikirkan saat itu adalah salah. Saya merasa keluarga adalah yang saya butuhkan saat ini dari pada uang. Ini melebihi segalanya yang saya inginkan saat ini. Meski mereka belum memeluk Islam, tapi saya sangat merindukan mereka. “Papa, mama, adit rindu kalian.”, dalam hatiku sambil menangis.

Sampai saat ini, saya masih terpinggirkan dari keluarga. Saya hanya bisa berharap kepada Allah, suatu saat nanti Allah akan memberikan hidayah kepada mereka semua, sehingga mereka dapat merasakan indahnya berislam sebagaimana yang saya rasakan saat ini. Saya sebagai anak dan juga sebagai seorang adik tidak ingin keluarga saya terkena adzab yang sangat pedih dari Allah Swt. Oleh sebab itu, saya berkewajiban untuk menyelamatkan mereka sebelum mereka nantinya menderita di akhirat kelak. Semoga saja saya bisa melakukannya, karenanya saya memohon doa kepada pembaca agar dimudahkan oleh Allah segala urusan yang nantinya dapat membawa keluarga kepada pintu hidayah yang sangat mulia ini.

Walaupun semua keluarga masih belum bisa menerima Islam sebagai agama mereka, paling tidak mereka dapat menerima saya sebagai salah seorang anggota keluarga mereka lagi seperti yang dulu pernah ada. Saya juga berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya keluar dari rumah dan meninggalkan mereka, nantinya akan kembali dalam keadaan bersih dan insya Allah sukses dalam karir meski saya tidak pernah tahu kapan saya akan sukses, namun saya yakin dengan sebenar-benarnya. Amin.

Singkat cerita, karena keinginan saya yang kuat untuk mempelajari Islam, saya pun memutuskan untuk tinggal di pesantren. Alhamdulillah, sekarang saya tinggal di Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba’ Center yang diasuh oleh ustadz H. Syamsul Arifin Nababan, seorang mantan misionaris Kristen yang kini getol berdakwah untuk Islam. Saya mengetahui pesantren ini dari seorang muallaf yang bernama Buya Muhammad Yusuf, seorang Tiong Hoa dari Sumatera Utara dan aktif dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Buya-lah yang memberi tahu saya dan pak haji bahwa ada pesantren khusus muallaf di daerah Sawah Baru, namanya Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba’ Center Indonesia.

Ketika itu Buya membujuk saya agar mau menuntut ilmu di pesantren An-Naba’. Beliau membujuk saya dengan kata-kata yang manis, dan tak jarang memberikan janji-janji kepada saya. Beliau awalnya bilang bahwa beliau adalah teman baik ustadz Syamsul Arifin Nababan. Nanti kalau saya masuk pesantren akan diberi uang saku bulanan kepada saya, diberi lap top dan kendaraan. Saya ketika itu berpikir karena saya butuh, maka saya terima tawaran beliau untuk tinggal di pesantren. Bahkan beliau berkata kalau saya mau kuliah nanti akan dikuliahkan oleh ustadz Nababan. Akan tetapi, saya tidak terlalu berharap untuk kuliah ketika itu, saya hanya berpikiran apa yang beliau katakan adalah sebuah peluang yang harus saya ambil.

Akhirnya, saya meminta alamat pesantren An-Naba’ dan kemudian datang bersama pak haji. Setibanya di pesantren kami disambut oleh ustadz Nababan yang kebetulan sedang ada di pesantren. Saya pun menceritakan bahwa saya mendapatkan informasi mengenai pesantren ini dari seorang muallaf yang bernama Buya Muhammad Yusuf. Saya menceritakan bahwa beliau adalah teman baik ustadz Nababan dan juga berasal dari Sumatera Utara. Akan tetapi, ketika saya konfirmasi kepada Ustadz Nababan ternyata beliau tidak kenal dengan Buya Muhammad Yusuf. Namun, saya tetap berpikiran positif, mungkin ini awal yang baik bagi saya untuk belajar.

Pesantren An-Naba’ Center inilah yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Mulai dari salat dan membaca Al-Quran yang benar, hingga seputar perbandingan agama antara Islam dengan Kristen. Dari situlah saya mengetahui bahwa ternyata perbedaan antara Islam dengan Kristen sangatlah banyak. Dalam Kristen beribadah hanya satu minggu sekali, pada hari minggu saja, sedangkan dalam Islam ibadah itu dilakukan dari mulai mata terbuka sampai dengan tidur kembali. Puasa yang dilakukan dalam Kristen hanya dua hari dalam satu tahun yaitu pada saat paskah dan pante kosta, sedangkan dalam Islam puasa dilakukan ada berbagai macam, mulai dari puasa sunnah senin-kamis, puasa daud, puasa muharam, puasa arafah, hingga puasa ramadhan yang dilakukan sebulan penuh.

Pada ajaran Kristen boleh memakan makanan apa saja, termasuk daging babi, sedangkan dalam Islam ada makanan dan minuman tertentu yang diharamkan. Padahal, pada beberapa ayat dalam Al-Kitab juga melarang memakan daging babi, namun mungkin karena enak atau bagaimana, mereka tetap memakan daging tersebut.

Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah : Unta, karena memang memamah biak , tetapi tidak berkuku belah , haram itu bagimu. Juga Pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.Demikian juga babi (hutan), karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. (Imamat 11:4-7)

Selain itu, di agama lama saya dulu saya bebas melakukan apa saja karena semakin banyak dosa dan kemaksiatan, maka rahmat Tuhan akan semakin banyak pula.

Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak;   dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah. (Roma 5:20)

Kalau secara subjektif tentu saya merasa nyaman di agama saya yang lama karena keluarga saya masih menjamin semua fasilitas yang diberikan untuk saya, sedangkan ketika saya memutuskan untuk memilih Islam sebagai agama saya semua fasilitas yang diberikan kini ditarik kembali, bahkan saya terusir dari keluarga. Dulu ketika saya mendengar suara adzan saya katain dan ledek dengan berkata; “Panaaaaas, panaaaas, stoop jangan di adzananin lagi.”, kata saya. Akan tetapi, sekarang saya seperti menjilat ludah saya sendiri, dengan memeluk Islam saya bisa adzan, bisa salat, bisa puasa, berdzikir dan mengaji.

Inilah sebuah hidayah yang ditunjukkan Allah kepada saya, semoga saja cerita saya ini dapat bermanfaat bagi pembaca agar kita sama-sama selalu berada pada jalan lurus yang diridhai oleh Allah Swt., amin yaa rabbal ‘alamin. 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
6 + 0 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.