Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Annas: Pekerjaan Membawaku Masuk Islam

Hari yang cerah, di sinari hangatnya mentari, ditemani kicauan burung yang merdu, berhembus angin yang sepoi-sepoi, aku menulis kisah perjalanan hidupku dalam menemukan Islam. Sungguh ini adalah sebuah hidayah yang harusnya kita syukuri, tidak hanya kepada aku dan kami para muallaf, tetapi juga bagi para umat Muslim karena kami telah mendapat hidayah dan kembali ke pangkuan Islam setelah sebelumnya berada pada jurang kekafiran yang sangat dalam. Adalah benar bahwa semua umat Muslim bersaudara. Oleh sebab itu, kabahagiaan yang dirasakan oleh saudaranya pasti juga dirasakan oleh dirinya. Agar kebahagiaan yang aku rasakan pada diriku diketahui dan juga dirasakan oleh saudara-saudaraku, maka alangkah baiknya aku berbagi cerita atas perjalanan hidupku menemukan Islam.

Perkenankanlah aku memperkenalkan diri kepada para pembaca. Namaku Annas Mansyur Fidel Zaibua, lahir di Nias pada tanggal 22 Oktober 1996. Alhamdulillah kedua orang tua, kakak, dan adik saya masih hidup dan masih memeluk agama Kristen Katolik. Kami lima bersaudara dan semuanya laki-laki. Satu orang kakak dan empat orang adik. Karena latar belakang ekonomi keluarga yang sulit, maka kakak saya tidak sempat merasakan duduk di bangku sekolah menengah. Ia hanya lulus sekolah dasar dan kemudian bekerja membantu ayah dan ibu di ladang. Anak orang tua saya yang ketiga tidak tamat sekolah dasar karena memutuskan untuk bekerja juga membantu orang tua. Sedangkan adik saya, yang nomor empat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan yang ke lima masih bersekolah kelas lima SD di dekat tempat kami tinggal. Sedangkan saya adalah anak yang kedua dari lima bersaudara.

Ayah adalah seorang petani karet, sama halnya dengan ibu. Dahulu aku tergolong anak yang nakal, khususnya sejak lulus SD hingga duduk di SMP. Karena kenakalanku itulah kedua orang tuaku tidak mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Aku bertanya kepada mereka ketika itu; “Pak, buk, aku boleh melanjutkan sekolah ke SMA tidak?” kataku kepada mereka. Mereka menjawab; “Jangan! Kamu itu susah diatur. Nanti bisanya Cuma merepotkan orang tua saja.” Mendengar perkataan mereka tersebut, aku pun merasa kecewa, tapi apa mau dikata tetap saja aku tidak dapat bersekolah. Kemudian aku berkata kepada kedua orang tuaku lagi; “Ya sudah buk, kalau aku tidak sekolah, dari pada aku dikampung lebih baik aku pergi merantau cari kerja!” kataku kembali. Ayah kemudian menjawab; “Terserah kamu mau ngapain, yang penting jangan sekolah.” tegasnya.

Aku pergi ke Kota Gunung Sitoli yang berjarak tujuh belas kilometer dari rumah. Tidak begitu jauh, namun karena di sana jarang angkutan umum yang lewat jadi sepertinya sedikit jauh. Atas perintah ayah untuk bekerja, maka aku berupaya melamar ke sana kemari. Sempat putus asa, namun Allah memberikanku petunjuk ketika itu. Alhamdulillah, ada seorang pemilik apotek yang mau menerimaku untuk bekerja di apoteknya yang terletak di Kampung Baru, Gunung Sitoli. Kebetulan sang pemilik beragama Katolik sama sepertiku, jadi aku mudah diterima di apotek tersebut ketika itu. Meski sang pemilik beragama Katolik, namun karyawan yang bekerja di apotek tersebut semua orang Muslim. Mungkin karena apotek tersebut berada pada lingkungan orang Muslim, maka seluruh karyawannya adalah seorang Muslim kecuali pemilik apotek beserta saudaranya dan aku.

Aku bekerja setiap hari, kecuali hari minggu yang kebetulan hari libur. Pekerjaan ini membuat saya mulai bisa mandiri, tidak lagi bergantung kepada orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Kehidupan yang ramah dan sopan aku rasakan di sekitar apotek tempatku bekerja. Mungkin karena mayoritas penduduk setempat beragama Islam, sehingga mereka tidak berbuat layaknya umat Kristiani di daerah tempat tinggalku yang gemar bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi sambil meminum miras dan memakan daging babi. Ketenangan yang aku peroleh di daerah tempatku bekerja secara perlahan mulai aku rasakan. Apalagi setiap menjelang sore hari, tepatnya pada waktu salat ashar selalu terdengar suara adzan kemudian pada pukul lima sore selalu diputar kaset-kaset dakwah di mesjid, sehingga aku pun tak sengaja mendengarnya karena pada waktu itu setiap jam lima sore apotek sudah tutup dan tidak ada kegiatan selain bergegas untuk pulang.

Aku tinggal di sebuah kontrakan kecil, tepatnya sebuah kamar, yang sengaja aku sewa untuk tempat tinggal selama aku bekerja di apotek tersebut. Jaraknya tidak jauh dari apotek tempatku bekerja, dan hanya sekitar dua rumah saja dari mesjid. Jarak yang tidak jauh dari mesjid inilah membuat aku seolah-olah merasakan ada yang aneh pada diriku. Setiap kali suara adzan dikumandangkan, rasanya hatiku tersentuh dan terasa tenang, walaupun aku tidak tahu apa artinya. Ini terjadi selama berbulan-bulan, ketika aku masih bekerja di apotek tersebut, namun tidak aku hiraukan.

Perlahan demi perlahan perasaanku terhadap suara adzan itu mulai berbeda. Aku merasa adzan ini berbeda dari lagu-lagu kerohanian gereja yang dulu sempat aku nyanyikan ketika bersama orang tua ke gereja. Ini seperti air yang menyejukkanku. Rasanya dingin dan tenang. Tak lama setelah aku merasakan ada yang aneh pada diriku, aku pun bertanya kepada salah seorang teman yang kebetulan juga bekerja di apotek tempat aku bekerja. Ia adalah seorang Muslim, berusia lebih kurang tiga puluhan tahun dan sudah punya anak satu. Aku bertanya kepadanya; “Bang mengapa kalau setiap orang Islam mau sembahyang selalu adzan?” kataku. Ia menjawab; “Itu adalah sebuah seruan yang menandakan sudah masuk waktu salat. Setiap Muslim harus melakukan salat, adzan adalah cara untuk mengingatkan waktu salat.” katanya. “oh begitu,” pikirku dalam hati.

Suara adzan ternyata memiliki makna yang dalam. Aku pun mulai mencari-cari apa sebenarnya arti adzan tersebut. Mulailah kulihat televisi yang setiap menjelang maghrib selalu menayangkan kumandang adzan. Kulihat kalimat Allahu akbar yang berarti Allah Maha Besar, kemudian kesaksian terhadap Allah Tuhan Yang Maha Esa serta Muhammad adalah Nabi dan Rasul utusan Allah, yang lebih membuat aku heran adalah kalimat haya ‘ala alfalah yang berarti menuju kemenangan. Aku bertanya-tanya dalam hati ketika itu; “Mengapa dengan mengakui keesaan Allah dan mengakui Muhammad sebagai nabi dan utusan Allah, maka akan mendapati kemenangan? Bukankah kemenangan itu selalu didapatkan dari proses kompetisi atau sebuah peperangan? Mengapa demikian?”, pikirku.

Sungguh ini membuatku semakin berpikir tentang perihal mengapa demikian? Lambat laun, aku larut dalam perdebatan internal dalam hati, hingga aku merasakan bahwa kebingungan yang selama ini aku rasakan harus aku sudahi dengan menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang aku ajukan sendiri. Ketika itulah aku mulai berpikir lebih jauh. Berada di gereja dan memeluk agama Kristen yang selama itu kuanut justru malah tidak memberikan kepuasan batin. Aku seakan menjadi pribada yang gamang. Selain karena usia yang relatif masih muda, ajaran dan budaya masyarakat Kristen di daerah tempat tinggalku sangat membuatku merasa tidak nyaman, serta tidak pernah menemukan ketengan batin. Seakan kegelisahan selalu saja ada pada diriku, berbeda dengan orang-orang yang pada umumnya memiliki agama yang menjadi acuan bagi kehidupannya.

Singkat cerita, sampailah aku pada keputusan untuk berpindah agama. Konsekuensi yang akan aku tanggung bila berpindah agama pun aku pikirkan. Bukan tidak mungkin bila keluargaku tahu, aku akan diusir dari rumah. Tidak dianggap lagi sebagai seorang anak oleh ayah dan ibu, bahkan keluarga dan masyarakat sekitar akan memberikan sanksi sosial dengan mengucilkan aku. Namun, keyakinan bahwa Islamlah agama yang benar dan keteguhan dalam hatiku untuk berpindah agama sudah bulat. Apa pun resiko yang akan aku hadapi kelak akan aku jalani dengan ikhlas. Aku yakin ketika itu bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya terzalimi dan menderita, serta aku yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan suatu cobaan yang melebihi dari kemampuan hamba-Nya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….( Q.S. Al-Baqarah [2]: 286)

Dengan keyakinan yang kuat inilah aku kemudian memutuskan untuk pindah dan memeluk agama Islam. Dipandu oleh seorang ustadz yang juga sebagai pengurus mesjid di daerah tempat kerjaku, aku mengucapkan kalimat syahadat.

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمّدا رسول الله

“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah Rasul Allah.”

 

Sejak saat itulah, aku sudah sah menjadi seorang muallaf dan menjadi pribadi Muslim yang memikul tanggung jawab yang juga dibebankan kepada umat Muslim yang lain.

Sadar akan tanggung jawab yang dibebankan kepadaku, aku mulai belajar mengaji. Perlahan demi perlahan aku mengenal huruf-huruf Arab. Berawal dari kesungguhan yang aku miliki, Alhamdulillah selama tiga bulan saya berhasil mengkhatamkan buku iqra’. Tentu ini sangat mengejutkan bagi para ustadz yang mengajariku. Biasanya anak-anak yang belajar iqra’ tidak secepat aku, namun berkat ketekunan dan hidayah dari Allah Swt. aku berhasil mengkhatamkannya. Meski mereka mengatakan kepadaku bahwa aku memiliki kelebihan dibanding dengan teman-temanku yang lain, namun aku tetap menganggap hal ini biasa saja. Ini dikarenakan Allah yang telah memberikan kemudahan bagi siapa saja yang mau mempelajari ayat-ayat-Nya, termasuk aku. Belakangan aku baru tahu bahwa memang benar, dan hal ini terdapat pula dalam Al-Quran:

“Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Q.S. Al-Qamar [54]: 17)

 

Kelebihan yang Allah berikan kepadaku dalam mempelajari buku-buku iqra’ adalah hal yang sangat aku syukuri. Aku pun dianjurkan untuk segera mempelajari juz ‘amma, juz ke tiga puluh dalam Al-Quran, namun tidak hanya dibaca, melainkan dihafal dan dipahami sedikit-sedikit artinya. Aku pun mulai menghafal surat ad-dhuha ketika itu. Memang karena aku masih baru pertama kali menghafal surat, dan kebetulan surat yang diperintahkan kepadaku untuk dihafal agak panjang, maka menjadikanku sedikit mengalami kesulitan. Akan tetapi, hal ini tidak menyurutkan semangatku untuk menghafal Al-Quran. Alhamdulillah, hanya butuh waktu dua hari, aku sudah bisa menghafalnya. “Subhanallah, sungguh ini adalah sebuah mukjizat yang Allah berikan kepadaku. Jangankan mengetahui arti dan bisa menulis dalam bahasa Arab, mengenalnya saja belum terlalu dekat, namun aku sudah bisa menghafalnya. Sungguh ini adalah benar-benar sebuah petunjuk yang diberikan oleh Allah kepadaku.” ucapku dalam hati.

Aku pun diminta untuk membacakan hafalan surat ad-dhuha yang aku hafal. Alhamdulillah,  dengan lancar aku bisa memacakannya. Ustadz yang mengajariku berkata; “Annas, kamu adalah hamba yang telah dipilih oleh Allah untuk memeluk Islam. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terbengkalai dalam ilmu dan pengetahuan. Ini buktinya, kamu bisa menghafal ayat Al-Quran dalam dua hari. Besok akan ustadz belikan Al-Quran untukmu, agar kamu bisa semakin mudah mempelajarinya.” tutur ustadz kepadaku. Benar, keesokan harinya ustadz yang mengajarkan aku Al-Quran membawakan Al-Quran baru untukku. Aku pun dengan senang hati menerima pemberian ustadz yang menurutku sangat bermanfaat ini.

Al-Quran yang diberi ustadz kepadaku kepegang erat-erat sebagai rasa bahagiaku atas pemberiannya. Ia pun kemudian berkata kepadaku; “Annas, mulai sekarang kamu belajar mengaji dengan menggunakan Al-Quran. InsyaAllah, pelan-pelan kamu akan bisa membaca dan mengkhatamkannya juga.” Aku pun memulai membaca dan sedikit mempelajari Al-Quran mulai dari juz pertama, berlanjut sampai sekarang ini. Aku bertekad untuk bisa mengkhatamkan Al-Quran, meski aku bekerja di apotek setiap hari, tapi keinginanku untuk mengkhatamkan Al-Quran sudah bulat ketika itu.

Aktifitas sebagai pekerja kasar di apotek tempatku bekerja sempat membuatku harus mencari waktu-waktu yang tepat untuk belajar Islam. Tidak jarang dalam pikiranku tiba-tiba muncul pertanyaan tentang Islam ketika bekerja, sehingga harus menunda untuk bertanya kepada orang yang memahami Islam tentang ini. Hal ini aku alami beberapa kali, hingga membuatku bertanya-tanya mengapa pertanyaan ini selalu muncul dalam pikiranku yang mengakibatkan aku terus memikirkannya di saat aku bekerja. Pertanyaan yang muncul seperti mengapa aku mudah untuk mempelajari dan menghafal Al-Quran, sedangkan kami, ketika aku masih menganut agama yang lama, sangat sulit untuk mempelajari Injil? Mengapa bacaan dalam Al-Quran sangat begitu rapih dan teratur, seperti ada harakat, ada baris, tajwid, berakhiran dengan bunyi yang mirip, hingga bisa dilagukan, sedangkan dalam kitab suciku dulu tidak demikian. Ia hanya berisi bacaan dalam bahasa Indonesia yang sangat mudah dibaca oleh anak SD sekali pun. Pertanyaan-pertanyaan  seperti inilah yang terus ada dalam pikiranku, sehingga membuat tubuhku lemah dan akhirnya jatuh sakit. Mungkin karena beban pikiran yang aku alami membuat tubuhku tidak kuat untuk memikul beban tersebut.

Kondisi tubuhku yang sakit ini mengakibatkan aku tidak dapat bekerja. Salah seorang temanku yang beragama Islam datang dan membantuku. “Annas, kamu kenapa? Sakit? Ayo saya bantu ke rumah sakit?” katanya kepadaku. Aku pun kemudian dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di sana, aku diperiksa oleh dokter. Kata dokter aku menderita gejala tipus, yang diindikasi dari demam tinggi dan mengharuskan aku untuk dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, karena ketiadaan biaya, aku pun memutuskan untuk berobat jalan saya. “Tak usahlah pak. Aku berobat jalan saja.” kataku. Biaya berobat di rumah sakit memang mahal, apalagi untuk kondisiku seperti itu yang tidak lagi mendapat tanggungan biaya dari orang tua. Semua aku cari sendiri. Berbekal fisik dan tenaga yang aku miliki, aku berjuang untuk kehidupanku. (Bersambung)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
6 + 10 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.