Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Cuplikan Goresan Pena Santri Annaba Center dalam Cerpen "HIJAB, HIJAB, DAN HIJAB"

HIJAB, HIJAB, DAN HIJAB

 

Hijab, hijab, dan hijab. Ngomongin soal hijab, saat ini bukan hanya sebagai penutup kepala saja melainkan sudah menjadi fashion bagi kaum hawa. Subhanallah, kalau dilihat lebih jauh lagi, hijabers sekarang terlihat begitu cantik-cantik dan anggun dengan hijabnya. Mereka menutup aurat dalam segala aktifitas, bekerja, berbelanja, mengatar maupun menjempu anak ke sekolah. Mereka seolah sadar betul bahwa sebagai seorang perempuan sudah sepantasnya menutup aurat karena ketika seorang perempuan pergi keluar rumah tanpa mengenakan kerudung, maka setiap langkahnya akan menyeret ayah atau suaminya ke dalam jurang neraka. Menakutkan sekali, terkena panas matahari saja sudah kegerahan dan seakan tidak mau keluar dari rumah apalagi berada dalam jurang neraka, pasti tak akan ingin.

 

---------------------------

 

Penggunaan hijab cukup popular di masyarakat, khususnya masyakat kota. Di Jakarta, banyak sekali perempuan yang mengenakan jilbab sebagai penutup aurat, tapi tidak sedikit pula yang tidak mengenakannya. Andini misalnya, ia adalah seorang anak perempuan berdara aceh. Kebayang dong, Aceh adalah sebuah propinsi di Indonesia yang ajaran Islamnya begitu kuat dan saat ini telah diberikan kewenangan khusus untuk menjalankan syariat Islam. Orang tua Dini, nama panggilan Andini, telah tinggal dan hidup di Jakarta selama delapan belas tahun, selama itu pula andini tinggal bersama mereka.

 

--------------------

 

Semakin lama orang tua Dini takut akan pergaulan hidup di Jakarta, karena semakin remaja seorang gadis, maka ia akan semakin cenderung mendengarkan kata teman dari pada kata orang tua.

“Kak, sepertinya abi menginginkan kita sekeluarga kembali ke Aceh.” Ummi mulai membuka pembicaraan. “Untuk apa ummi?” Tahun ini kakak sudah mulai kuliah dan kakak sudah diterima di UI (Universitas Indonesia). Kenapa mendadak seperti ini ummi? Apa ada masalah dengan pekerjaan abi?” tanya dini dengan penuh penasaran.

 

“Bukan seperti itu kak, lebih baik kita tunggu abi pulang, biar abi yang menjelaskan kepada kakak.” Ummi mencoba memberi penjelasan. Dini pun semakin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi, setelah sekian lama tinggal di Jakarta, baru kali ini Ummi dan Abi mengambil keputusan sebesar ini. Mau tidak mau, suka tidak suka Dini harus menunggu Abinya pulang dan mendengarkan penjelasan langsung dari Abi.

(Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu di kamar dini. Tok…tok…tok)

“Assalamu’alaikum, boleh Abi masuk kak?” tanya Abi.

“Waalaikum salam, boleh Abi.”, jawab Dini

“Gimana kak, sehat? Kakak jadi kuliah di UI?”, tanya abi

“Alhamdulillah sehat abi, InsyaAllah jadi, ada apa abi, kok abi bertanya begitu?” tanya Dini dengan penuh rasa penasaran.

“Oh…. tidak apa-apa, Abi hanya sekedar bertanya saja. Gimana persiapan kuliahnya, sudah beres?”, tanya Abi.

“Sejauh ini persiapannya sudah 80 persen Abi, Dini sudah beli buku-buku, pulpen, dan juga pakaian untuk kuliah, lengkap dengan jilbabnya. Modis loh Abi, Abi mau lihat?”, jawab Dini seraya ingin menunjukkan segala yang ia persiapkan untuk masuk perguruan tinggi pada Abinya.

“Kak, Abi lihat kakak sudah persiapkan semua dengan baik. Tapi ada satu hal yang abi ingin tanyakan, kakak apakah sudah persiapkan hal-hal untuk menjadi wanita sholehah?”, tanya Abi kepada Dini.

(Dini terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Abinya dan hanya menggelengkan kepala dengan wajah sedikit cemberut.)

“Kak, kalau abi lihat kakak saat ini sudah tidak mengenakan hijab syar’i lagi. Terkadang kakak keluar dengan memakai celana ketat, sebenarnya apa yang terjadi kak?”, tanya Abi dengan nada yang lembut.

“Kak, dulu, waktu Abi masih kecil Abi selalu diajarkan oleh kakek tentang Islam. Kakek selalu bilang bahwa Aceh tempat kelahiran Abi adalah daerah yang pertama kali dimasuki Islam di Indonesia. Kakek selalu mengajarkan Islam kepada Abi dan Ummi. Abi dan Ummi pun kemudian selalu mengajarkan Islam kepada kakak dan memberitahu agar kakak selalu menutup aurat. Dan ketika Abi tahu anak Abi mengikuti tren dengan hijab yang hanya menutupi setelah dada, disitulah rasa kecewa Abi dan Ummi muncul. Sepertinya, apa yang kami ajarkan dan contohkah hanya sia-sia saja.” keluh Abi.

“Abi, apa salah kakak mengikuti tren zaman sekarang, apa salah Abi? Kakak kan tetap memakai hijab.”, bela Dini.

“Anakku, coba kamu renungkan ketika Abi membawamu ke toko perhiasan. Saat itu, ada dua macam perhiasan, yang pertama adalah perhiasan yang dijual murah dan dapat dipegang dan dilihat oleh orang lain. Yang kedua ada perhiasan yang berada dalam kotak dan dipajang di tempat yang berbeda. Kedua benda tersebut sama-sama adalah perhiasan yang terbuat dari emas, tapi coba kakak renungkan lebih mulia mana menurut kakak, yang di biarkan saja di luar tanpa adanya kotak yang indah atau yang berada dalam kotak? Perhiasan yang pertama atau yang kedua.”, Abi mempertegas pertanyaan.

“Yang kedua bi.”, jawab Dini sambil menundukkan kepala

“Anakku, begitu pun dengan berhijab, memang tren saat ini tetap membuatmu berhijab, tetapi itu bukan semakin meninggikan derajatmu di mata Allah, melainkan semakin merendahkannya. Semakin ke sini, Abi melihat kakak semakin terbawa arus pergaulan berasama teman-teman. Oleh sebab itu, abi berniat agar kita semua  kembali ke kampung halaman di Aceh agar kita terhindar dari azab Allah di hari akhir kelak. Ini penting anakku, demi akidah kita sekeluarga.”, terang abi.

“Abi, apa harus sampai seperti ini melarang kakak soal hijab?”, tangis Dini

“Nak, menjaga anak perempuan tidaklah mudah. Jelas dalam Al-Quran Allah menyuruh semua perempuan untuk menutup aurat. Abi sangat khawatir bila kakak terus berada di Jakarta. Yang Abi pikirkan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin kalau larangan Allah saja bisa kakak langgar, apalagi perintah Abi? Kan kakak tahu, berhijab itu pasti ada nilai baiknya untuk kakak. Ketika Abi tidak disamping kakak, hijablah yang dapat menjagamu dari orang-orang yang gelap mata nafsu.”

Seketika Dini tersentak, menyadari apa yang telah ia lakukan selama ini adalah salah dan begitu polosnya dia sehingga mengikuti tren tersebut. Dini merasa sangat bersyukur atas teguran halus yang disampaikan oleh Allah melalui ayahnya itu. Begitu sayang Allah kepada semua perempuan dan membalutnya dengan rasa nyaman. Oleh sebab itu, terlahir sebagai seorang perempuan adalah sebuah anugerah terindah yang Allah berikan, Dini pun menyadari hal demikian.

“Abi, InsyaAllah kakak istiqomah dalam berhijab syar’i. Kakak tidak akan menyeret Abi ke neraka. Abi, kakak sangat bersyukur dan bahagia karena Abi telah mengingatkan kakak.”, seru Dini.

“Alhamdulillah anakku, kamu begitu cerdas dalam memahami kalimat Abi. Istiqomah ya kak, insyaAllah kita akan sama-sama meraih ridha Allah.”, kata Abi.

“Iya Abi, amin.” Jawab Dini

 

--------------------------

 

Begitu indah bila kita tidak melenceng dari ajaran agama, begitu mulia seorang perempuan yang menutup auratnya. Begitu mulia seorang perempuan yang berusaha tampak cantik dihadapan Allah dengan menutup auratnya. Allah tidak pernah butuh tren yang abal-abal, tetapi Allah membutuhkan kesungguhan seseorang dalam menggunakan hijab, lebih lagi menjilbabkan hatinya dengan nama-nama Allah dengan istiqomah.

 

--------------------------

 

“Kak, ketika kakak telah istiqomah berhijab syar’i, perlahan-lahan kakak harus memperbaiki akhlak kakak. Karena ketika kakak sudah memutuskan untuk istiqomah dalam berjilbab, berarti kakak harus memiliki akhlak yang baik agar seiring dengan hijab yang kakak kenakan.”, Abi menjelaskan.

“Tetapi Abi, orang-orang saat ini pasti sudah open minded dan jarang menjudge seseorang dari jilbabnya.”, sahut Dini.

“Anakku, yang kamu lihat hanya orang di sekitarmu. Saat ini kakak bukan anak SMA lagi. Kakak akan bertemu banyak orang di luar sana dengan pikiran yang berbeda-beda. Iya jelas sekarang banyak orang yang open minded, tetapi dari segi apa dia open mindednya. Agama tetap agama, ketika kakak berakhlak bagus menjalankan perintah dan larang agama insyaAllah penilaian orang juga pasti akan baik. Coba kak, yang pertama kali orang perhatikan dari diri kakak apa? Sudah pasti hijab, tidak mungkin seseorang langsung bertanya apa agama kakak? Pasti yang dilihat adalah hijabnya, karena ketika seseorang mengenakan hijab syar’i dia langsung teridentifikasi bahwa ia adalah seorang muslim.

 

-------------------------------------

 

“Abi, terima kasih abi telah mendidik kakak sesuai dengan ajaran agama Islam. Saat ini kakak paham.”, puji Dini.

Siapa yang tidak bahagia ketika mempunyai orang tua yang begitu taat terhadap agamanya. Ketika kita berserah kepada Allah dan menjalankan sunnah serta ajaran-Nya InsyaAllah, Allah akan menitipkan kita kepada orang-orang yang baik di sekeliling kita.

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
13 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.