Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

Khairunnisa;Konflik itu Membawaku Masuk Islam (Lanjutan)

Surat inilah yang saya kirim kepada orang tua untuk memberikan pemahaman kepada mereka dan menjelaskan kondisi yang sebenarnya saya alami di pesantren. Ini mungkin dapat menenangkan mereka karena setelah membaca surat ini, menurut pak Zainuddin, mereka kelihatan lega dan tidak lagi berpikir hal-hal buruk terjadi pada diri saya. Sejak surat yang kedua ini diterima oleh ayah dan ibu, mereka berdua tidak lagi menghiraukan hasutan yang disampaikan oleh warga sekitar mengenai keadaan saya di pesantren. Saya pun bersyukur kepada Allah karena telah memberikan orang tua saya pemahaman tentang keadaan saya di Jawa. Saya yakin, pada suatu saat nanti mereka akan memahami bahwa yang terjadi pada diri saya adalah sebuah proses pendisipilinan yang nantinya akan menguntungkan saya pribadi, bukan orang lain.
Apa yang saya sampaikan kepada orang tua mengenai yang saya alami ketika memeluk Islam dan berada di pesantren ternyata dilebihkan oleh Allah. Saya merasa, meski baru 6 bulan memeluk Islam, akan tetapi telah merasakan betapa nikmatnya hidup seperti ini. Saya merasa lebih teratur, tidak sembarangan seperti ketika masih beragama Katolik dulu. Dari mulai bangun tidur, hingga saya tertidur kembali, saya rasakan begitu Islam mengatur urusan pribadi dan publik sangat mendetail. Apalagi rasa persaudaraan yang ada di pesantren tidak pernah saya dapati di tempat lain sebelumnya. Ketika saya sakit, teman-teman merawat saya dengan tulus, memberikan perhatian yang seyogyanya bagi sang penderita tanpa mengharapkan pamrih sedikit pun. Ini tentunya yang menjadikan hubungan kami melebihi seperti saudara kandung sendiri, dan ini tidak saya rasakan ketika di kampung halaman dulu.
Permasalahan yang ada pada benak saya pun terasa lebih ringan karena satu dengan yang lain saling membantu. Meski terkadang tidak mendatangkan solusi, namun kesediaan teman-teman untuk mendengarkan cerita dan keluh-kesah saya adalah sebuah obat yang dapat meringankan beban. Itulah yang mereka lakukan, menjadi pendengar yang baik tanpa sedikitpun memojokkan saya. Berbeda sekali ketika saya masih Beragama Katolik. Teman-teman saya ketika itu tidak mau mendengarkan, bahkan mereka bersikap acuh tak acuh antara satu dengan yang lain. Ini tentunya tidak baik dalam menjaga hubungan sosial kemasyarakatan.
Pembaca mungkin bisa membayangkan, seandainya saja kami yang tinggal di desa sudah hilang semangat kekeluargaan dan rasa gotong royongnya, bagaimana pula dengan masyarakat kota? Mungkin sudah semakin cuek bukan? Inilah yang terjadi ketika saya berada di Kampung dan masih beragama Katolik dulu. Biarpun sering bertemu di gereja, akan tetapi kalau ada masalah di satu keluarga, belum tentu keluarga yang lain datang dan segera membantu. Kamu ya kamu, saya ya saya, begitulah prinsip orang kampung ketika itu. “ya…..begitulah kehidupan saya dahulu sebelum mengenal Islam.”, tutur saya dalam hati.
Sungguh indah dan nikmat saya rasakan tinggal bersama teman-teman di pesantren. Meski pada awalnya sangat membosankan dan ingin kabur saja rasanya, tapi perlahan demi perlahan, sepertinya hidayah Allah datang menghampiri saya. Secara perlahan, saya merasa begitu menikmati bergaul bersama teman-teman, hingga tidak terasa saya telah berada di pesantren Al-Ikhlas selama enam tahun, mulai dari Tsanawiyah hingga Aliyah. Di situ pula saya merasakan begitu persaudaraan di antara kami terjalin dengan erat. Teman-teman saya ketika berada di pesantren ketika itu sudah saya anggap seperti saudara kandung saya sendiri. Atik, Mega, Yanti, Nia, semuanya seperti keluarga yang saya miliki. Inilah yang membuat saya merasa betah tinggal di pesantren dan hanya sesekali merindukan kampung halaman.
Suasana yang ramai dipenuhi dengan canda, tawa, tangis, sedih, dan berbagai perasaan menjadi kenangan yang terindah di pesantren yang saya alami ketika itu. Apalagi ketika kami diajarkan keterampilan agar bisa mandiri, seperti membuat kue dan jajanan yang dapat kami jual ke pasar. Maklum saja, pesantren Al-Ikhlas tempat kami tinggal sangat bergantung kepada para donatur yang datang, sehingga agar bisa mandiri kami diajarkan berbagai keterampilan yang dapat mendukung ekonomi pesantren dan untuk kami pribadi. Meski ada saja donatur yang datang, namun tetap saja masih belum mencukupi karena jumlah santri yang ada di pesantren jumlahnya ratusan orang sementara donatur yang datang jumlahnya relatif sedikit begitu pula donasi yang mereka berikan.
Dengan berbagai keterbatasan inilah, kami semua diajarkan membuat sesuatu yang bisa kami jual. Waktu itu, saya membuat kue bersama teman-teman dan menitipkannya ke warung-warung warga. Setiap pagi kami mengantarnya, dan esok hari kami datang lagi untuk mengambil uang dari penjualan kue tersebut. Tidak banyak, keuntungannya hanya berkisar lima belas sampai dua puluh ribu rupiah saja. Akan tetapi, ini cukup untuk sekedar menambah uang jajan kami dan sedikit untuk dipergunakan oleh Yayasan. Ini saya lakukan mulai sejak Aliyah karena ketika Tsanawiyah, saya masih belum bisa mengerti bagaimana cara membuat dan menjual kue-kue tersebut, jadi hanya melihat dan belajar cara membuatnya saja.
Menjual kue kami lakukan selama beberapa bulan, hingga ketika itu kami mengusulkan kepada salah seorang ustadz yang mengajar di pesantren “Bagaimana kalau kue-kue yang kita jual di warung-warung ini kita jual juga di pesantren. Apalagi pesantren kitakan  belum punya kantin, jadi sudah barang tentu akan laku.”, ucap salah seorang teman yang mengusulkan hal ini kepada ustadz. Mendengar apa yang disampaikan oleh teman saya tadi, ustadz tersebut pun sangat bersemangat untuk menyampaikannya kepada pimpinan yayasan. Menurutnya, ini adalah hal yang sangat baik, mengingat selama ini para santri jajan di luar pesantren, lebih lagi pada malam hari mereka pun terkadang harus keluar pesantren mencari makanan karena lapar.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, pak kiyai pun mengizinkan kami untuk membuka kantin di pesantren. Dari situlah kami semakin giat bekerja, namun tetap tidak melalaikan tujuan awal kami datang ke pesantren, yaitu untuk menuntut ilmu. Melalui kantin yang dibuka inilah, kami mendapatkan pemasukkan. Meski terbilang tidak seberapa tapi kami bersyukur atas hasil kerja keras yang kami lakukan, kami dapat menabung untuk membeli kebutuhan sekolah. Tidak banyak, waktu itu hanya terkumpul kira-kira sebanyak 360 ribu rupiah, tentu ini cukup buat saya dan beberapa orang teman untuk membeli buku dan peralatan sekolah yang lain. Berawal dari sistik dan makanan-makanan ringan yang lain ternyata kami bisa membeli perlengkapan sekolah. Ini juga yang membuat kami menjadi semakin akrab dalam suasana kekeluargaan karena merasa satu nasib, sehingga susah dan senang selalu dijalani bersama.
Uang yang kami peroleh setiap orang sejumlah 15 ribu rupiah per minggu. Kami kumpulkan sampai satu bulan, jadi total yang kami dapatkan sejumlah 60 ribu rupiah per orang selama satu bulan dikali 6 orang totalnya 360 ribu rupiah. Alhamdulillah, Allah memberikan jalan yang terbaik bagi kami. Selain bisa sekolah, kami juga bisa belajar keterampilan dan mendapat uang pula. Saya sangat bersyukur akan hal ini. Pengalaman inilah yang tidak dapat saya lupakan, dan dari sini pula saya menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak mesti dengan kekayaan atau harta yang melimpah, namun dengan hal kecil seperti ini saja saya merasa begitu bahagia.
Setelah menyelesaikan studi di pesantren Al-Ikhlas, saya pun memberikan kabar kepada kedua orang tua. Waktu itu handphone sudah mulai marak di pasaran, saya pun dengan mudah berkomunikasi dengan kedua orang tua, tidak seperti awal mula datang ke Jawa. Ketika itu saya katakan bahwa saya ingin pulang ke Kupang, agar bisa bersama keluarga. Akan tetapi, ayah malah melarang. Ayah malah berkata, “Sekarang kamu kan sudah selesai SMA, kamu harus lanjut kuliah lagi supaya nanti adik-adikmu juga bisa mengikuti jejakmu.”, kata ayah.
Mendengar perkataan ayah tersebut, tentu saya merasa sedih. Sudah hampir sepuluh tahun saya tidak pulang, namun ketika hendak pulang malah mereka berkata demikian. Di satu sisi saya merasa seperti sudah tidak dianggap sebagai anak lagi, namun di sisi yang lain, saya menanggapi positif apa yang ayah katakan. “Ada benarnya juga bila saya melakukan apa yang ayah perintahkan. Ini demi masa depan saya. Lagi pula, bila saya berhasil kata ayah, adik-adik bisa mengikuti jejak saya, termasuk memeluk agama Islam.”,tutur saya dalam hati.
Entah mengapa, saran ayah saya seperti diiyakan oleh Allah Swt. Para ustadz yang ada di pesantren juga melarang saya untuk kembali ke NTT, mereka berpendapat belum waktunya saya kembali ke rumah, mengingat pemahaman dan keilmuan saya tentang Islam masih sedikit. “Nisa, kamu lebih baik jangan kembali ke kampung dulu karena pemahaman Islam kamu belum kuat. Kami khawatir ketika kamu kembali ke NTT nanti, kamu malah dimurtadkan oleh masyarakat setempat.”, kata salah seorang ustadz. Saya pun merasakan demikian, setelah mendapat nasehat tersebut malam harinya saya berpikir, “Benar juga apa yang dikatakan oleh ustadz, sekarang belum waktunya, tapi aku tetap bertekad, bila suatu saat nanti aku sudah memahami Islam dengan baik, aku akan kembali ke kampung halaman bersama keluargaku!”, tekad saya.
Singkat cerita, beberapa hari kemudian, saya memutuskan mencari jalan agar bisa kuliah di perguruan tinggi. Tidak disangka-sangka, mungkin Allah telah memberikan jalan kepada saya, yaitu melalui kak Muhammad Orlando, seorang kakak yang juga berasal dari Timor Leste, alumni pesantren Al-Ikhlas yang lebih dahulu berada di Jakarta untuk belajar di perguruan tinggi. Kak Orland, panggilan akrabnya, waktu itu ia sudah kuliah di LIPIA Jakarta. Saya pun meminta tolong kepadanya agar bisa ikut kuliah ke Jakarta. Akhirnya, kak Orlando pun membantu saya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi, diapun menyuruh saya untuk mempersiapkan berbagai berkas yang diperlukan agar bisa kuliah diperguruan tinggi.
Surat keterangan dari desa adalah salah satu surat yang saya perlukan ketika itu. Karena orang tua saya tinggal di Kupang, maka saya pun kembali ke sana untuk mengurus surat keterangan tersebut. Setelah sekian lama pergi merantau untuk menuntut ilmu, akhirnya saya pun kembali ke kempung halaman.
Sejak masuk Islam saya memang belum pernah pulang sama sekali, hingga pada tahun 2012, itu pun tidak lama dan hanya mengurus surat-surat untuk keperluan masuk kuliah saja. Setelah sekian lama tidak pulang, tentunya orang tua saya heran dan “pangling”, hampir tidak mengenali saya. Ini salah satunya karena setelah memeluk Islam saya mengenakan hijab dan pakaian gamis, sepintas mereka tidak tahu bahwa yang datang ketika itu adalah saya. Setelah beberapa saat, mereka baru menyadai bahwa yang berada di hadapannya adalah anak kandungnya yang lama pergi merantau untuk menuntut ilmu. Apalagi saya ketika berangkat menuntut ilmu masih dalam usia yang sangat kecil, lebih lagi di kampung halaman kami mayoritas menganut agama Kristen, pakaian mereka pun tidak seperti orang-orang Muslim. Ini tentunya membuat saya semakin terlihat aneh ketika pulang ke kampung.
Busana yang saya kenakan ketika itu memang layaknya seorang yang berasal dari tanah Arab. Kepala saya tertutup oleh hijab, mengenakan gamis, bahkan kaki saya pun tertutupi oleh kaos kaki. Beberapa orang kampung berpikir bahwa saya sedang terjangkit penyakit karena mengenakan kaos kaki dan berpakaian demikian, tapi bukan karena itu, saya berpakaian menutup aurat karena itu yang diajarkan Islam kepada umat Muslim.
Tak lama setelah saya sampai dan memberi salam sambil mencium kedua tangan orang tua saya dan kemudian menjelaskan prihal mengapa saya pulang ke kampung. Tentunya ayah dan ibu serta adik-adik sangat senang melihat saya kembali, mereka pun bertanya kepada saya; “Bagaimana, sehat di sana? Bagaimana dengan orang-orang Islam? Kamu bisa ya sampai selesai SMA, terus datang ke sini cuma untuk mengurus surat-surat untuk kembali kuliah. Berarti orang-orang Islam itu benar-benar bertanggungjawab kan?”, kata ibu kepada saya. Saya pun tidak banyak memberikan jawaban, yang saya katakan kepadanya  hanya keadaan saya saat itu seperti yang mereka lihat; “Begini ibu keadaan Odet, alhamdulillah sehat, seperti yang ibu liat sekarang ini. Odet sudah menyelesaikan sekolah tepat waktu dan insya Allah akan melanjutkan kuliah seperti perintah ayah.”, kata saya kepada kedua orang tua.
Mendengar jawaban yang saya sampaikan itu, ibu pun kemudian melanjutkan perkataannya; “Berarti orang-orang Islam itu benar-benar bertanggung jawab, kalau mereka mau mencelakai kamu dan tidak mengurus kami pasti kamu gak bisa pulang lagi ke sini setelah pergi selama 10 tahun.”, kata ibu. Sejak saat itulah kedua orang tua saya semakin yakin bahwa orang Islam itu tidak seperti yang diberitakan di media atau dibicarakan oleh orang-orang kampung selama ini. Hasilnya, adik saya yang keempat pun kemudian tertarik untuk mengikuti jejak saya, ia sempat berkata kepada saya ketika itu; “Wah….kakak saja bisa sekolah sampai selesai SMA sekarang pulang untuk ngurus berkas-berkas buat kuliah, aku juga mau.”, katanya kepada saya. Dari situlah niatnya kemudian muncul untuk ikut bersama saya merantau agar bisa bersekolah.
Atas berkat hidayah Allah, kedatangan saya ke kampung halaman membawa hasil. Adik saya yang keempat mau memluk Islam dan orang tua saya pun mempercayakannya untuk ikut bersama saya berhijrah. Ibu pun kemudian berpesan kepada saya; “Ya sudah, kamu sekarang sudah jadi orang Islam, jalannya sudah beda dengan kami. Tapi, ya udah, walau bagaimanapun kamu tetap anak kami dan masih dalam pantauan kami juga.”, kata ibu. Saya pun sangat senang mendengarnya karena orang tua saya masih mendukung apa yang saya lakukan. Entah mengapa ketika itu saya spontan berucap dalam hati, sambil merasa sangat senang mendengar perkataan ibua; “Yaa Allah….berilah hidayah kepada kedua orang tuaku. Aku sangat ingin berkumpul dengan mereka, menjadi satu keluarga yang sama-sama berjuang di jalan-Mu ya Allah….”, ucapku dalam hati dengan perasaan senang bercampur sedih.
Apalagi ketika melihat kedua orang tua hanya sibuk dengan pekerjaan mereka di sawah, hampir tak ada waktu sedikit pun untuk beribadah. Jangankan untuk mengenal Islam, tahu tentang Kristen saja pun amatlah sedikit. Ke gereja yang satu kali satu minggu tidak mereka lakukan. Mereka hanya tahu bahwa natal dan paskah sajalah ibadah yang mungkin dikerjakan. “Ini ibadahnya kapan? Kalau nanti mereka dipanggil oleh Allah dalam keadaan masih jahiliyah seperti ini nanti bagaimana?”, pikir saya dalam hati.
Saya amat sedih melihat keadaan orang tua yang seperti itu, bahkan muncul kekhawatiran dalam hati saya akan keadaan orang tua saya ini. Oleh sebab itu, ingin sekali rasanya saya mengajak mereka untuk beribadah seperti saya. Menjalankan ibadah Islam ini dengan segala kemampuan yang dimiliki, dengan keindahan dan ketenangan hati, mengenal lebih dalam ajaran Islam, pastilah ini sangat membahagiakan kami. Akan tetapi, saya hanya bisa berharap kepada Allah semoga kedua orang tua saya mendapatkan hidayah dari-Nya, amin yaa rabb.
Singkat cerita, sebulan lamanya saya mengurus surat-surat untuk keperluan kuliah di kampung halaman. Saya pun kembali berangkat meninggalkan kampung halaman, ketika itu tidak sendiri, melainkan dengan adik saya yang keempat yang juga akan bersekolah seperti saya dulu di Pesantren Al-Ikhlas, Jawa Timur. Ibu saya pun berpesan kepada kami; “Kalian di sana nanti baik-baik ya nak, jangan macam-macam, ikuti nasehat-nasehat guru kalian. Nanti kalau kalian sudah selesai belajar, jangan lupa pulang lihat ibu sama bapak di sini.”, katanya sambil menitihkan air mata.
Ibu berkata demikian karena setelah kami bertiga memeluk Islam, keluarga di rumah dipojokkan tidak hanya oleh keluarga dari ayah dan ibu, melainkan juga dengan masyarakat sekitar. Mereka berpikiran bahwa ayah dan ibu memberikan kami keleluasaan untuk memeluk Islam dengan harapan pasti mendapat tunjangan uang perbulan dari umat Muslim. Ini yang membuat mereka tidak kuat, dan ibu juga berpesan kepada kami ketika nanti sudah selesai sekolah kemudian selesai kuliah harus kembali ke kampung supaya bisa mengabdikan diri dikampung dan membimbing orang-orang yang tidak tahu Islam jadi mengenal Islam dan memeluknya.
Setelah mengalami tekanan dan disudutkan oleh masyarakat sekitar, kini keluarga kami telah pindah rumah dan tinggal di suatu tempat yang hanya di huni oleh empat kepala keluarga di wilayah itu. Untungnya orang tua dan adik-adik tidak merasa terganggu dengan gunjingan-gunjingan yang dilakukan oleh penduduk kampung. Mereka berpikir biarlah penduduk kampung mengejek dan menjelek-jelekkan kita, yang penting anak-anaknya bisa dididik, selesai kuliah dan memiliki akhlak yang baik. Prinsip inilah yang teguh dipegang oleh kedua orang tua saya, sehingga mereka tetap sabar menghadapi berbagai macam cemooh dari penduduk kampung.
Sekarang, kami sekeluarga menjalani kehidupan sebagai mana mestinya. Tidak menghiraukan perkataan orang yang justru dapat menghambat niat baik kami dalam menuntut ilmu. Begitu pula dengan ayah dan ibu, mereka tidak terlalu mendengarkan ocehan-ocehan penduduk sekitar, bahkan belakangan saat kembali ke kampung halaman, saya melihat mereka berdua sudah mulai tertarik kepada Islam, hanya saja waktu dan tempat yang belum tepat. Saya paham bahwa apabila mereka nanti memeluk Islam, maka akan dimusuhi oleh keluarga besar. Oleh sebab itu, mereka juga harus ikut pindah dari tempat tinggal yang sekarang agar tidak diancam dan diganggu oleh warga kampung. Begitulah keadaan ayah dan ibu di sana yang saya lihat dan saya pahami dari informasi yang diberikan kepada saya ketika kami sudah tiba di Jawa.
Beberapa bulan berselang, kabar gembira pun sampai kepada saya. Kak Orlando memberi kabar bahwa saya memiliki kesempatan yang sama dengannya untuk bisa kuliah di perguruan tinggi. Waktu itu kak Orland berkata kepada saya; “Nisa, kamu pasti bisa kuliah seperti kakak, asalkan kamu memiliki tekad yang kuat. InsyaAllah pasti Allah memberikan jalan kepada Nisa.”, kata kak Orland. Perkataan kak Orland tentu membakar semangat saya untuk bisa hijrah dan kuliah seperti beliau. Maka, sejak kak Orland berkata demikian, saya pun semakin mempersiapkan diri untuk hijrah ke Jakarta.
Keesokan harinya, tepat pada tanggal 12 Maret 2013, saya pun pergi hijrah bersama kak Orlando ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, saya diperkenalkan kepada ustadz H. Syamsul Arifin Nababan, pimpinan pondok pesantren pembinaan muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia. Beliaulah yang mengizinkan saya beserta teman-teman muallaf yang lain untuk tinggal di pesantren dan mendapat pembinaan di pesantren khusus muallaf ini. Memang pada saat itu saya tidak langsung tinggal di pesantren, bahkan hingga buku ini diterbitkan, karena pesantren putri belum selesai dibangun. Namun, saya dan beberapa orang teman perempuan yang datang belakangan tinggal di rumah kontrakan yang khusus disewa oleh pesantren untuk membina kami tentunya masih dalam pengawasan pesantren sembari menunggu bangunan pesantren putri selesai didirikan.
Saya sangat bersyukur kepada Allah karena telah diberikan jalan untuk tinggal di pesantren, sehingga saya bisa belajar dan tinggal di Jakarta. Melalui rekomendasi dari pesantren Annaba Center pula, kak Orlando dapat memasukkan saya ke perguruan tinggi STIDDI Al-Hikmah, mampang. Ketika itu, kak Orlando menceritakan latar belakang saya kepada rektor Al-Hikmah dan memberi tahu bahwa saya adalah santri ustadz Syamsul Arifin Nababan. Mendengar  hal tersebut, alhamdulillah, saya pun akhirnya diterima di perguruan tinggi Al-Hikmah. Pada tahun 2013 yang lalu, saya pun resmi menyandang status sebagai mahasiswi di perguruan tinggi itu. Ini semua berkat upaya kak Orlando, rekomendasi dari ustadz Nababan, dan kebaikan dari rektor Al-Hikmah. Semoga mereka semua mendapat balasan yang lebih baik dari Allah Swt., amin.
Singkat cerita, setelah saya kuliah selama satu semester, teman-teman yang berasal dari pesantren Al-Ikhlas yang lain pun dapat berkuliah seperti saya. Mereka juga datang ke Jakarta dan kuliah di tempat yang sama dengan saya dan juga tinggal di pesantren pembinaan muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia. Ini adalah sebuah jalan yang terbaik yang diberikan oleh Allah kepada kami dan kami sangat mensyukurinya. Kami juga sangat berterima kasih kepada orang tua kami KH. Syamsul Arifin Nababan, semoga kelak Allah membalas jasa baik beliau dengan yang lebih baik lagi. Diberikan kesehatan, keselamatan hidup di dunia dan akhirat kelak, serta di karuniai keluarga yang harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shaleha, amin.
 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
3 + 1 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.