Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam

Suasana yang begitu indah, sejuk dan jauh dari keramaian kota, aku menulis sebuah cerita yang mungkin dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca atau mungkin hanya sekedar untuk berbagi pengalaman melalui “curhatan hati” yang aku lakukan ini. Sebelum aku menceritakan mengenai kisah perjalananku dalam menemukan Islam, perkenankanlah aku memperkenalkan diri kepada pembaca. Namaku adalah Saidah Raoulie Boru Parapat. Mendengar namanya saja mungkin pembaca sudah dapat mengetahui dari mana aku berasal. Ya! Aku berasal dari Tanah Batak yang terletak di wilayah Barat Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Boru Parapat artinya adalah marga Parapat, marga yang harus aku sandang sama seperti yang lainnya yang harus menyandang marga bagi setiap orang yang mengaku berdarah Batak.
Aku anak ke lima dari delapan bersaudara. Berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan tidak memiliki keyakinan yang terlalu kuat dalam beragama. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari mengurusi rumah, sedangkan ayah seorang yang kesehariannya mengurusi kebun kami yang tidak terlalu luas. Melihat latar belakang yang singkat ini, tentunya pembaca sudah dapat memahami bahwa kami bukanlah berasal dari keluarga yang kaya dan taat, melainkan keluarga yang biasa-biasa saja, namun berjumlah banyak, dalam istilah sekarang KB, bukan keluarga berencana, tapi keluarga besar. Kenapa keluarga besar? Bukan karena berbadan besar, melainkan anak dari kedua orang tua kami berjumlah delapan orang. Maklumlah, namanya juga orang desa jadi tidak mengenal adanya KB, kalaupun tahu atau sudah pernah dengar, namun tidak pernah dilakukan. 
Keluarga kami memang bukanlah dari keluarga yang taat. Mungkin pembaca berpikir bahwa karena saya berasal dari keluarga yang tidak taat, maka sudah pastilah saya dapat dengan mudah menerima Islam. Eit.........tunggu dulu, biarpun kami bukan berasal dari keluarga yang taat, tapi tentunya aku berpindah agama bukan tanpa analisis dan mempelajari lebih dalam tentang Islam serta membandingkannya dengan Kristen melainkan justru aku mempelajari dan membandingkannya, mengenai hal ini akan aku ceritakan lebih lanjut pada bab selanjutnya.... “hehehehe.” (tawaku dalam hati kepada pembaca). Sekarang aku akan lebih dahulu menceritakan bagaimana ketidaktaatan beragama bisa terjadi pada keluargaku, khususnya kedua orang tuaku.
Ketidaktaatan keluarga kami dalam beragama bukan semata-mata karena faktor ekonomi, melainkan faktor sosial, tepatnya dengan pihak gereja. Gereja yang didirikan di kampung halaman kami yang seyogyanya menjadi tempat beribadah masyarakat Kristen di sana dan menjadi wadah pemersatu jemaat, namun kenyataannya gereja tersebut dikuasai oleh satu orang saja. Ini dikarenakan melalui ialah berdiri gereja tersebut dan di atas tanah miliknya pula, sehingga ia merasa dominan dan menguasai gereja tempat kami beribadah. Bermula dari sikap pendiri gereja yang seperti itulah, maka beberapa orang jemaat, termasuk keluargaku kurang begitu taat beribadah dan melakukan ritual-ritual di gereja. Ini tidak lain dan tidak bukan disebabkan sikap salah seorang pendiri gereja tersebut yang angkuh dan menganggap gereja yang berdiri di atas tanahnya itu adalah miliknya, tentu perasaan memiliki tersebut sangat membuatnya angkuh dan sombong, bahkan ia tak ragu menegur orang yang tidak ia sukai ketika masuk ke dalam gereja, termasuk ayahku.
Ayah memang cukup kritis mengkritik kelakuan pendiri gereja yang menganggap gereja tersebut sebagai miliknya. Kritik yang diberikan oleh ayah juga mendapat dukungan dari beberapa orang jemaat, akan tetapi mereka kalah jumlah. Lambat laun ayah beserta beberapa orang jemaat yang juga melakukan kritik terhadap salah seorang pendiri gereja tersebut mulai terpinggirkan dari gereja. Apalagi antara ayah dengan pendiri gereja sempat berkelahi, sehingga semakin memperkeruh hubungannya dengan gereja. Sejak peristiwa perkelahian itulah kami sekeluarga jadi tidak begitu dekat dengan gereja, padahal gereja tersebut adalah tempat ibadah satu-satunya bagi umat Kristen di kampung kami. Sedangkan bila berangkat ke gereja yang lain dibutuhkan waktu yang cukup lama dan belum tentu dapat diterima oleh mereka karena dalam sistem yang ada pada gereja tidak seperti di mesjid yang bisa masuk siapa saja tanpa membedakan jemaat dan penduduk dari mana. Inilah yang menyebabkan iman Kristen orang tua dan kami sekeluarga tidak terlalu kuat. 
Ibadah-ibadah yang dilakukan oleh kami sekeluarga akhirnya hanya yang bersifat umum saja, seperti natal dan paskah. Bukan karena ketaatan terhadap agama, tetapi justru karena lingkungan sekitar beragama Kristen, jadi mau tidak mau kami juga memperingati hari besar agama Kristen, tapi sekali lagi, bukan karena taat, melainkan karena ikut-ikutan. Sedangkan kebaktian minggu belum tentu diikuti oleh ayah dan ibu, juga beberapa orang di antara anaknya. Budaya batak yang ada pada kampung kami pun sedikit berbeda dengan orang-orang yang ada di perkotaan. Kebanyakan di antara para lelaki menghabiskan waktunya di warung-warung sambil minum tuak, minuman memabukkan yang berasal dari tetesan sari pelepah buah aren yang dipotong, dan bermain gitar. Sedangkan para wanita justru berladang dan ada juga yang mengurus anak di rumah. Hal ini juga yang menyebabkan keluarga kami tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama, bahkan sekarang kami memiliki agama yang berbeda antara satu dengan yang lain. 
Begitulah cerita singkat mengapa kami tidak taat dalam beragama Kristen. Selanjutnya, aku akan mulai menjelaskan mengenai abang dan kakak saya kepada pembaca, sehingga pembaca bisa tahu agama apa saja yang kami anut saat ini......
Sebagaimana yang aku katakan di awal tadi, bahwa kami adalah keluarga besar, jadi aku akan mulai menceritakan dengan singkat mengenai saudara-saudaraku dari abang tertuaku dulu. Abang yang pertama masih menganut agama Kristen Protestan. Ia menekuni usaha perbengkelan yang ia dirikan sendiri karena memang memiliki keahlian di bidang mesin, jadi ia membuka bengkel sebagai usaha untuk menghidupi keluarganya. Yang kedua adalah seorang perempuan, berbeda dengan abang, ia beragama Katolik dan sekarang berada di Sibolga. Kakak yang ke tiga beragama Islam. Ia sudah lama memeluk Islam dan sekarang tinggal di Aceh bersama keluarga kecil yang mereka bina. Alhamdulillah, melalui ia pula saya mengucapkan kalimat syahadat setelah melalui berbagai macam proses diskusi yang cukup panjang. Yang keempat juga seorang perempuan yang menganut agama Kristen Protestan juga sudah berkeluarga. Anak yang kelima yaitu aku sendiri yang telah memeluk Islam dan sekarang tinggal di Jakarta bersama dua orang anakku, di bawah pengasuhan pesantren pembinaan muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia. Yang keenam adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai kuli bangunan. Yang ketujuh juga laki-laki yang mana beberapa bulan yang lalu sempat mengucapkan kalimat syahadat di pesantren Annaba Center, namun karena bisikan dan pengaruh yang sangat kuat dari Istri abangku, maka ia kabur dari pesantren. Yang terakhir juga seorang laki-laki yang kini masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Inilah sedikit cerita mengenai keluargaku dan mengapa kami bisa memiliki keyakinan yang berbeda satu dengan yang lain. Sekarang aku akan mulai bercerita tentang diriku.
Aku lahir pada tahun 1993, saat ini usiaku tepat 22 tahun. Usia yang cukup muda bagi seseorang yang menyandang gelar ibu. Ibu? Pembaca mungkin kaget mengapa aku menyebut diriku sebagai seorang ibu. “Ya......apalah yang mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Toh aku juga yang dahulu meminta untuk segera menikah, karena itulah aku harus bertanggung jawab atas apa yang aku putuskan.” Menjadi seorang ibu di usia muda memang bukan pilihan utama bagiku. Dulu aku bercita-cita sekolah sampai ke perguruan tinggi karena aku yakin pendidikan akan membawaku pada khidupan yang lebih baik. Tapi, ternyata takdir Allah berkata lain. Aku menikah dan kini memiliki anak, padahal dulu aku sempat didaftarkan ke perguruan tinggi untuk kuliah.
Perguruan tinggi ilmu komputer adalah tempat dimana aku didaftarkan ketika itu. Aku memilih manajemen informatika komputer sebagai jurusan yang aku ambil. Ini karena aku ingin menjadi seorang wanita karir yang bekerja di sebuah perusahaan, “Syukur-syukur bisa bekerja di BUMN ternama.”, niatku ketika itu. Pembaca mungkin ingin tahu mengapa aku gagal kuliah, padahal waktu itu keinginan dan tekadku sudah bulat, tapi tetap saja aku gagal melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Ini adalah bagian yang cukup bersejarah bagiku, dan aku akan menceritakannya. “Baiklah, akan aku ceritakan.” Aku akan berbagi cerita sedikit tentang kegagalanku untuk kuliah dan kemudian dilanjutkan dengan mengapa aku masuk agama Islam. Begini ceritanya:
Ujian Nasional sudah berlalu. Aku senang karena dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup baik. Berbekal nilai yang aku dapatkan itulah, aku yakin bisa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Akhirnya aku putuskan untuk berangkat ke kota medan dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi ilmu komputer. Berkas-berkas sudah rapi ku persiapkan, menelepon kakak dan abang pun sudah, sebagai salah satu caraku untuk meminta dukungan agar aku bisa melanjutkan sekolah. “Maklum saja pembaca, kami bukan dari keluarga yang kaya, sehingga harus bahu membahu agar bisa menyekolahkan salah seorang di antara kami.”
Singkat cerita, pendaftaran pun tiba dan proses demi proses sudah aku lalui. Akan tetapi, aku masih tetap belum bisa melanjutkan tahap berikutnya karena terganjal biaya untuk membayar SPP. “Ya…waktu itu aku mendaftar ke perguruan tinggi swasta, jadi aku harus membayar SPP di awal karena sudah pasti lulus tanpa seleksi yang rumit seperti di perguruan tinggi negeri.” Memang aku baru melakukan pembayaran untuk pendaftaran semata, sementara uang kuliah harus di bayar di muka, ini tentunya membuatku bingung. Aku yang sudah meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak pulang untuk sementara waktu demi bisa kuliah hanya bisa melakukan aktifitas yang tidak begitu berarti di kota Medan. Situasi ini yang membuatku berpikir harus kembali menelepon ibu agar bisa membantu. “Aku tidak mungkin menelepon kakak lagi, karena dia yang sudah memberikan uang saku sama aku untuk berangkat ke Medan dan mendaftar ke perguruan tinggi. Dia juga punya keluarga, aku gak boleh ngerepotin dia terus.”, pikirku.
Aku pun menghubungi ibu di kampung dengan harapan ibu bisa membantu aku untuk memberikan uang kuliah. “Mak, aku mau bayar kuliah. Uang SPP nya wajib dibayarkan di muka, kalau gak aku gak bisa kuliah mak.”, kataku kepada ibu. Sebagai seorang ibu, tentu ia sangat peduli terhadap anaknya, ia pun berkata kepadaku, “Mau bayar berapa kau Roulie, biar mamak nanti usaha cari duitnya dulu.”, kata ibu kepadaku. “Sekitar empat juta mak, dari uang kuliah, sama nanti beli buku-buku paket juga jas almamaternya.”, kataku kepada ibu. 
Aku tahu bahwa ibu mungkin saja tidak memiliki uang yang cukup untuk aku agar bisa kuliah. Biaya yang dibutuhkan sekitar empat juta rupiah pun aku rasa terlalu mahal, tapi untungnya bisa dicicil, sehingga mungkin bisa sedikit meringankan. Kami memang bukan berasal dari keluarga yang mampu. Pembaca mungkin bisa memaklumi, “ya....namanya orang kampung, mata pencaharian kami pun hanya sekedar bertani atau berkebun saja. Ini pun hanya cukup untuk kami bertahan hidup karena memang ladang dan kebun yang kami miliki tidak begitu luas, sehingga hasil garapan yang kami miliki pun tidak terlalu banyak.”
Setelah mengatakan kepada ibu bahwa aku harus segera membayar SPP, ibu pun sempat bingung. Ia tidak tahu harus dapat uang dari mana. Waktu itu, ayah sedang sakit, sudah seminggu tidak pergi mengurus kebun, jadi tidak ada hasil panen yang bisa mereka jual untuk biaya kuliahku. Ibu pun berupaya dengan sekuat tenaga agar bisa mendapatkan uang yang aku butuhkan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, dalam waktu dua minggu ibu berhasil mengumpulkan uang yang aku butuhkan meski jumlahnya hanya sekitar satu jutaan saja. Entah bagaimana caranya, tapi waktu itu aku berharap jangan sampai ibu berhutang kepada orang lain, mungkin dengan menjual perhiasan yang ia miliki agar aku bisa kuliah. Apalagi ayah sempat berkata kepada ibu ketika ibu mengatakan bahwa aku butuh uang untuk membayar uang kuliah. Katanya; “Ah gak usah, bukannya serius dia itu mau kuliah! Nanti Cuma mau ngambil duitmu aja dia itu. Yang maen-maen aja kerjanya dia di Medan itu!.”, kata ayah yang belakangan aku tahu dan membuat hatiku nelangsa. 
Dana yang hanya sekitar satu jutaan itu tentu tidak cukup. Meski uang kuliah bisa dicicil, tapi tidak dengan biaya kos dan kehidupan sehari-hari. Akhirnya, ibu menghubungi kakakku yang lebih dahulu memeluk Islam. Ibu meminta bantuan kepadanya supaya membantu aku yang akan masuk kuliah. “Fatimah.....tolong bantu dulu adik kau itu si Roulie, dia mau kuliah gak ada uang buat bayar SPPnya. Katanya harus dibayar di awal, kalok gak dibayar gak boleh masuk katanya.”, kata ibu kepada kakakku yang telah mengganti namanya menjadi Fatimah semenjak ia memutuskan memeluk Islam. 
Tanpa berpikir panjang, kakak pun kemudian mengirimkan uang kepadaku untuk biaya kuliah di Medan. Sebenarnya masih banyak lagi kakak dan abangku yang bisa membantu aku untuk membayar uang kuliah, tapi entah mengapa mereka tidak membantu. Mungkin karena ekonomi mereka juga sedang sulit atau ada kebutuhan yang harus mereka punuhi, sehingga sulit bagi mereka untuk membantuku. Akan tetapi, aku tetap berbaik sangka kepada mereka. “Semoga Allah memudahkan rezeki mereka di dunia ini agar bisa menghidupi keluarga mereka masing-masing.”, pintaku.
Kak Fatimah-lah yang sejak awal membantuku untuk kuliah. Dari mulai memberangkatkan aku ke Medan, pendaftaran, sampai pada saat aku membutuhkan uang untuk membayar uang kuliah, dialah yang selalu membantu. Bukan karena ia memiliki banyak uang, tapi kepeduliannya kepadakulah yang membuat aku bisa sampai di kota Medan. Mungkin ini juga bagian dari dakwah yang dilakukan olehnya kepadaku karena belakangan aku mengenal Islam pun atas dialog yang aku lakukan dengannya di kemudian hari.
Singkat cerita, kak Fatimah hanya mampu memberikan uang sebesar lima ratus ribu kepadaku. Uangnya telah habis untuk keluarganya dan sebagian untuk memberangkatkan aku dari desa ke kota. “Apalah mau dikata, kak Fatimah cuma ibu rumah tangga yang mengandalkan gaji dari suami. Tentu ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membantuku lagi.”, pikirku dalam hati dengan perasaan yang sedih dan bingung haru berbuat apa. Hal lain yang membuatku semakin sedih adalah ketika mendengar ibu tidak jadi mengirimkan uangnya kepadaku. Ternyata ibu mendengarkan apa yang bapak bilang. Ia mendengar dan menuruti perkataan bapak yang tidak mendukung dan malah mengatakan nanti akan menghabiskan uang ibu karena dianggap tidak serius dengan niatku untuk kuliah, akhirnya aku pun tidak dapat kuliah. 
Kekecewaan yang sangat mendalam aku alami ketika itu. Aku tidak dapat kuliah karena ayahku sendiri yang tidak mau memperjuangkan aku. Aku pun sudah putus asa; “Kalau tidak kuliah mau ngapain, kerja? Mau kerja apa? Ujung-ujungnya juga nikah, ya udah kalau gitu aku nikah aja sekarang.”, pikirku dalam hati. Kebetulan pada waktu itu aku sedang dekat dengan seorang laki-laki yang belakangan menjadi suamiku. Dialah yang membantuku saat dalam perantauan di kota Medan. Maklum saja, aku tidak memiliki keluarga di Medan, yang ada hanya suamiku yang berasal dari kampung yang sama yang membantuku untuk di Medan. 
Suamiku yang membantu mencarikan tempat kos-kosan. Membelikan makanan, pulsa, dan perhatian yang cukup kepadaku. Meski ia hanya serorang buruh bangunan, tapi rasa tanggung jawabnya membuatku merasa ia adalah lelaki yang baik dan berkepribadian yang mulia. Perhatian yang ia berikan lambat laun membuatku tersentuh dan aku pun mulai jatuh hati padanya. Persoalan yang menimpaku, sehingga membuat aku tidak dapat kuliah kemudian perlahan mulai tidak aku ambil pusing. Aku pun sedikit demi sedikit melupakan keinginanku untuk bisa kuliah. “Untung saja waktu itu ada abang, kalau tidak mungkin aku sudah stress bukan main.”, kataku.
Kami pun menjalani hubungan cinta kasih yang cukup singkat, hanya sekitar tiga bulan saja. Suamiku yang berusia lebih tua dariku merasa dirinya sudah siap dan memiliki kemampuan untuk menikah kemudian mengajaku menikah. Tanpa berpikir panjang, aku mau saja diajaknya untuk menikah. “Mau gimana lagi, kuliah tidak, kerja tidak, pilihan yang memungkinkan ya nikah. Toh orang tua tidak tidak mendukung buat sekolah, ya…sudahlah.”, pikirku. Singkat cerita, akhirnya, aku pun menikah dengan suamiku dan sekarang telah memiliki dua orang anak.
Awal pernikahan berlangsung dengan baik, tidak ada sesuatu yang mengganjal apalagi membuat keretakan dalam rumah tangga. Semuanya berjalan sebagaimana keluarga kecil yang baru dibina, memiliki anak, tidak satu, tapi dua orang anak. Ya! Hingga awal anak kedua lahir, semuanya berjalan dengan baik tanpa hal-hal yang dapat menghancurkan rumah tangga. Barulah ketika empat tahun usia perkawinanku aku melihat suamiku sudah tidak lagi seperti dulu. Ia mulai berubah, terlihat dari tingkah lakunya yang sangat membuatku kecewa. Aku dan anakku pun mengalami penderitaan yang cukup memilukan. Aku yang dahulu mendambakan jalanin kasih keluarga dengan penuh rasa sayang harus menelan kenyataan pahit yang sangat sakit kurasa. Mungkin pembaca mulai bertanya-tanya hal apa yang sebenarnya dilakukan oleh suamiku? Begini ceritanya: (Bersambung)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
7 + 6 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.