Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam III

Tak terasa waktu begitu cepat beralalu. Saat ku hitung hari di kalender, ternyata aku sudah hampir tiga bulan tinggal di Jakarta. Setelah Aku memutuskan memeluk Islam, kondisiku dan anak-anak memang sedang labil. Apalagi karena aku membawa serta dua buah hati pergi ke Jakarta tidak dalam keadaan sehat. Anak keduaku sakit. Waktu itu, saat berangkat ke Jakarta hanya dalam keadaan demam. Aku pikir itu hanya demam biasa, tapi sudah hampir tiga bulan di Jakarta demam itu tidak sembuh-sembuh. Bang Nababan pun sudah membantuku membawa si kecil, anak keduaku, berobat ke rumah sakit Sari Asih yang ada di Ciputat pada bulan pertama kedatangan kami di Jakarta, namun hasil cek laboratorium menunjukkan bahwa anakku tidak terjangkit penyakit yang berbahaya, hanya demam biasa. Akan tetapi, beberapa bulan berselang hingga penyakitnya tidak kunjung sembuh dan kami membawanya lagi ke rumah sakit yang sama, ternyata anakku terjangkit penyakit TBC akut. Belakangan aku baru mengetahui bahwa mungkin ia tertular penyakit dari warga sekitar yang kerap mengajaknya beramain.

Aku sangat kaget dan terpukul. Rasanya baru saja aku mengucapkan kalimat syahadat, tapi Allah sudah mengujiku dengan cobaan yang begitu berat. Mungkin ini yang Allah maksud dalam kitab sucinya:

 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S. Al-Ankabut [29] : 2)

 

Memang benar bahwa Allah menguji setiap hambanya yang mengaku beriman dan mengucapkan kalimat syahadat seperti aku ini. Meskipun pertengkaran dalam rumah tangga yang membawaku memeluk Islam, namun ini pula yang membawaku dalam cobaan yang begitu berat. Barangkali inilah suratan takdir yang diberikan Allah bagi kehidupanku. Kondisi kesehatan anakku yang tidak kunjung membaik memaksaku untuk kembali pulang ke kampung halaman. Aku pun meminta izin kepada bang Nababan untuk pulang segera melihat kondisi anakku yang semakin memburuk.

Akhirnya, tepat pada satu bulan sebelum tulisan ini aku tulis, aku dan kedua anakku kembali pulang ke kampung halaman. Di sana anakku diobati dengan berbagai macam cara, mulai dari pengobatan tradisional sampai dengan pengobatan yang ada di rumah sakit besar di Kota Medan. Tapi apalah daya, ternyata Allah berkata lain. Baru seminggu kami mengupayakan kesembuhan anakku, Allah memanggilnya untuk kembali pada-Nya. Hatiku pun semakin terpukul. Rasanya tak sanggup lagi aku menahan kesedihan karena anak yang kulahirkan dari rahimku harus lebih dahulu meninggalkan aku di dunia ini. “Sungguh, waktu itu, rasanya ingin pengsan saja diriku ketika mengetahui Hasan telah meninggal. Aku seperti seorang yang langsung kehilangan darah saat dokter mengatakan bahwa anakku telah tiada.”

Keesokan harinya, aku pun memberi kabar kepada suamiku. Memang sebelumnya aku tidak memberi tahunya kalau kami pulang ke kampung halaman. Barulah ketika anak kedua kami meninggal aku memberi tahunya. “Bang, si adek udah meninggal.”, kataku dengan suara merintih menahan tangis. “Apa kau bilang? Si adek meninggal? Kok bisa meninggal, bukannya sama kau mereka semua?”, kata suamiku. “Ia bang, sekarang mayatnya sudah di rumah mamak, sudah seminggu kami pulang dari Jakarta.”, kataku lagi. Mendengar kabar itu, suamiku kaget! Isak tangis pun tak terbendung lagi. Suamiku menangis seolah tidak menyangka bahwa anaknya yang kedua telah meninggal. “Kok tega kali kau sama aku….kau pisahkan aku sama anakku, sekarang kau bawa pulang dia sudah jadi mayat. Kejam kali kau sama aku.”, kata suamiku seolah tidak menyadari bahwa aku berbuat demikian juga akibat dari perbuatannya.

Apa yang dikatakan oleh suamiku disambut pula oleh keluarganya. Mereka semua memojokkan aku, seolah semua kesalahan ada padaku. Padahal, aku pergi dari rumah awalnya juga karena tingkah laku suamiku, tapi mereka semua tidak mau tahu. Saat itu, di mata mereka, kesalahan terbesar ada pada diriku. Lebih lagi, menurut mereka penyebab kematian anak kedua kami adalah karena perbuatanku yang membawa pergi mereka. Tuduhan itu pun bertubi-tubi diberika kepadaku, hingga seolah aku tak kuasa lagi menahan cemooh dan gunjingan yang dialamatkan keluarga suami kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa pasrah, tunduk diam, tanpa mampu memberikan pembelaan atas diriku. Keluargaku pun juga tidak mampu berbuat banyak karena memang kami semua dalam posisi terpojok.

Akhirnya, mau tidak mau, aku harus menerima jenazah anakku disemayamkan dan dimakamkan dengan tata cara Kristen. Jenazahnya disemayamkan selama dua hari di rumah, padahal dalam Islam seorang yang sudah meninggal harus segera di makamkan karena tidak baik bagi si mayit dan orang yang masih hidup. Jenazah anakku dinyanyikan lagu-lagu kerohanian, di dalam peti ia diberikan pemberkatan oleh seorang pendeta. Semua yang datang mayoritas juga seorang penganut Kristen, jadi semua tata cara penyemayaman hingga pemakaman tidak ada yang menggunakan tata cara Islam. Hatiku semakin sakit, tapi seolah tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya berkeyakinan bahwa Allah Maha Tahu, meski anakku dimakamkan dengan tata cara Kristen, tapi Allah tetap akan menempatkannya di Syurga, apalagi ia masih bayi.

Usai prosesi pemakaman selesai dilakukan, aku pun kembali dihadapkan pada ujian berikutnya, yaitu suamiku dan keluarganya. Rasanya belum berakhir duka dan lara yang aku rasakan karena kepergian anak yang sangat aku sayangi, kini aku harus merasakan kepedihan berikutnya. Ya! Aku diceraikan oleh suamiku. Meski aku sudah tahu ini akan terjadi, apalagi karena aku telah memeluk Islam dan dalam Islam bila seorang perempuan bersuami mengucapkan kalimat syahadat, maka secara otomatis ia akan bercerai dengan suami yang tidak seiman dengannya. Akan tetapi, aku tidak menduga akan secepat itu terjadi padaku. Saat anakku baru saja selesai dimakamkan, thalaq diberikan kepadaku. Saat itu juga aku diceraikan oleh suamiku dan hanya bisa tunduk terdiam membisu, menerima semua keadaan yang ada.

Perih sungguh perih, Allah benar-benar memberikan cobaan yang teramat berat bagiku. Beban berat yang sangat menekan hati dan pikiran; “Astaghfirullah ya Allah….. aku berlindung dari semua cobaan yang datang dari makhluk-Mu.”, rintihku dalam hati. Sejak saat itu, aku telah resmi menjadi seorang janda yang telah diceraikan oleh suami.

Dua hari berselang setelah perceraian yang dilakukan secara lisan oleh suamiku, kami pun mengurus lebih lanjut ke kementerian agama Kristen. Alhamdulillah, hampir sebulan lamanya, segala urusan menyengkut perceraian kami telah selesai. Aku pun akhirnya memutuskan untuk berpindah dan menetap di Jakarta. Aku membulatkan tekad untuk belajar Islam terlebih dahulu sampai aku benar-benar mapan dalam memahami Islam. “Biarlah masa laluku menjadi sebuah catatan kelam dalam hidupku, namun aku tidak akan mengingat-ingatnya lagi. Masa lalu yang buruk ini akan menjadi lembaran pahit yang tidak akan ku buka. Kini aku sudah memiliki lembaran baru, yaitu aku dan anakku, Ibrahim.”, tekadku. (Bersambung)

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
16 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.