Yayasan An naba' Center

Get Adobe Flash player

SONIA SOARES MEMILIH ISLAM

Nama saya Sonia Soares, biasa dipanggil Sonia. Saya adalah gadis kelahiran Timor Leste, tanggal 08 Nopember 1999. Saya seorang muallaf yang saat ini sedang menempuh pendidikan formal di salah satu sekolah Islam swasta dan menjadi santri di Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia. Menjadi seorang muallafah bukanlah sesuatu yang begitu saja terjadi pada diri saya. Latar belakang keluarga yang beragama Katholik, menjadikan saya harus memikul beban yang tidak ringan karena saya berhadapan dengan mayoritas penganut Katholik dalam lingkungan keluarga. Meski ayah hanyalah seorang yang bekerja sebagai tukang ojek dan ibu adalah pedagang sayur, tapi dalam diri mereka terdapat keimanan Katholik yang cukup kuat. Ini dapat dilihat dari keseharian mereka yang juga aktif dalam kegiatan ke-katholik-an.

 

Saya memilih masuk Islam ketika saya masih berumur sekitar dua belas tahun. Usia yang sangat muda, namun waktu itu saya sudah baligh, karena ukuran baligh dalam Islam bukan dilihat dari usia melainkan dari perkembangan organ reproduksi. Waktu itu saat masih SD, saya berteman dengan seorang anak yang kebetulan beragama Islam. Meski hanya seorang diri di kelas yang beragama Islam, namun teman saya ini tetap konsisten menjalankan ajaran agamanya. Mungkin pembaca bertanya, bagaimana saya bisa tahu jika teman saya tersebut konsisten terhadap agamanya? Jawabannya karena ketika kami semua hendak memulai pelajaran di sekolah, dan kemudian berdoa menurut agama Katholik, tapi teman saya itu berdoa dengan cara Islam meski hanya mengucapkannya dengan suara berbisik.

 

Pembaca mungkin menganggap bahwa hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Ya! Memang itu sesuatu yang biasa bagi anda, tetapi tidak bagi saya. Mempertahankan keyakinan (agama) sebagai minoritas di lingkungan yang mayoritas bukanlah hal mudah, dan itulah yang terjadi pada teman saya. Singkatnya, ini pula yang membuat saya bertanya mengapa begitu penting mempertahankan keyakinan (aqidah) dalam Islam.

 

Berawal dari kebiasaan dalam berdoa itulah kemudian terlintas dalam benak saya tentang aktifitas kebaktian yang selama ini saya lakukan. Kalau dalam agama Islam, peribadatan diatur sesuai dengan porsinya, namun dalam Katholik agaknya tidak. Ibadah, khususnya shalat, dalam Islam dilakukan dengan ketentuan yang tidak menyulitkan penganutnya. Ketika hendak shalat misalnya, seorang Muslim terlebih dahulu berwudhu kemudian mengenakan pakaian yang bersih dan suci, tidak mesti baru apalagi yang mewah. Berbeda dengan ajaran yang disampaikan oleh pastor kami dulu. Setiap berangkat ke gereja diharuskan menggunakan pakaian yang bagus, dan jika mungkin mengenakan pakaian yang baru. Tidak mesti suci, yang penting “wah” dipandang. Oleh sebab itu, meski kami tinggal di desa, kebanyakan pria penganut Katholik di kampong kami memakai jas ketika datang ke gereja, sedangkan para wanita mengenakan kebaya.

 

Perbedaan inilah yang akhirnya membuat saya berpikir, mengapa harus demikian. Di tengah kesusahan dan kesulitan ekonomi yang kami rasakan di desa, agama justru semakin mempersulit umatnya untuk beribadah. “Bagaimana logikanya, seorang yang susah secara ekonomi harus membeli pakaian dengan harga mahal hanya untuk beribadah? Bahkan mengganti pakaian ini dianjurkan setiap kali berangkat kebaktian di gereja, sedangkan untuk makan sehari-hari saja pun sudah susah. Belum lagi iuran yang harus dibayarkan setiap bulan sebagai bentuk kewajiban bagi kami.”, ujarku waktu itu. Sepertinya agama hanya untuk orang kaya saja, tidak bagi orang yang kekurangan seperti kami.

 

Alasan itulah yang membuat saya berpikir bahwa hanya Islam-lah satu-satunya agama yang mengerti akan keadaan pemeluknya. Bahwa ketakwaan seorang individu dilakukan sesuai kemampuan pemeluk agama, seperti yang ustadz di Annaba Center Indonesia jelaskan; “bertakwalah semampu kalian.” (Q.S. At-Taghabun : 16), bukan karena keterpaksaan. Singkatnya, perpindahan agama yang saya alami didasari atas ketidaksesuaian antara perintah agama dengan kondisi yang kami alami, sehingga saya berpikir agama saya yang dulu tidaklah menjadi agama yang sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. 

Add new comment

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.
CAPTCHA
This question is for testing whether or not you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
13 + 5 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.