Kisah Muallaf

Hendri Tyas Waluyo: Mengapa Aku Memilih Islam?

Dikirim tanggal 30 Jun 2014 06.21.36 1.120 Kali dibaca

Hendri Tyas Waluyo:  Mengapa Aku Memilih Islam?
Oleh: Ozi Setiadi   Assalamu'alaikum warhmatullahi wabarakaatuh Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, aku ucapkan kehadirat Allah  Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya serta tidak lupa mengucapkan salawat beserta salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw. yang telah membawa kita menuju ke jalan yang diridhai Allah Swt. sehingga menjadi umat yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.             Sebelumnya perkenankanlah saya memperkenalkan diri. Namaku Hendri Tyas Waluyo. Lahir di Purwokerto Jawa Tengah. Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga kami, yang lainnya adalah perempuan. Aku adalah seorang piatu, karena ibuku telah meninggal sejak aku berusia 21 bulan. Saat itulah aku sudah tidak lagi mendapat kasih sayang dari seseorang yang aku panggil ibu. Tak lagi aku merasakan hangatnya dekapan kasih sayang yang diberikannya karena Allah telah memanggilnya sebelum aku dewasa seperti sekarang.             Ibu meninggal karena sakit. Sejak saat itulah aku diasuh oleh kakak dari ibu yang akrab kami panggil bu de. Usiaku yang masih terlalu kecil mengharuskan aku untuk mendapat pengasuhan intensif dari keluarga, sedangkan kakakku, karena usianya lebih besar dariku, maka ayah menitipkannya di asrama yayasan Katolik yang terletak di Purworejo. Adapun adikku yang paling kecil diasuh oleh saudara sepupu ayah. Jadi sejak ditinggal ibu, kami tidak hidup satu rumah lagi, layaknya sebuah keluarga yang harmonis yang dapat menikmati kebersamaan dan kehangatan kasih sayang orang tua. Sejak saat itulah kami menjalani kehidupan masing-masing karena keterbatasan ayah dalam mengasuh kami, ayah terpaksa melakukan hal ini.             Beranjak pada usia empat setengah tahun, aku diberitahu ayah bahwa ia akan pergi bekerja ke luar kota tepatnya di Semarang agar bisa mencari rezeki demi menafkahi dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, khususnya untuk kebutuhan sekolah kakakku. Ayah berjanji akan pulang untuk menjenguk kami sebulan sekali, untuk memastikan kondisi kesehatan dan keadaan kami baik-baik saja. Meski jarak memisahkan kami sekeluarga, namun dalam hal beribadah kami masih sering melakukan ibadah di gereja. Bu de selalu mengajakku ke gereja untuk beribadah kebaktian setiap minggunya.             Bu de sudah ku anggap seperti ibu kendungku sendiri. Tak ada lagi perempuan yang bisa kuanggap seperti ibu kandung selain bu de. Beliau yang mendidik dan membesarkan aku, khususnya dalam keseharian dan persoalan agama, beliau selalu rajin mengingatkan aku. Pernah suatu sore, tepatnya menjelang maghrib, aku dimarahi oleh bu de karena berteriak mengikuti suara adzan yang dikumandangkan di dekat tempat tinggal kami. Aku masih ingat dengan baik, bagaimana bu de memarahi saya ketika menirukan suara adzan tersebut. "Hendri! Kamu jangan menirukan perlakuan ibada orang lain, itu tidak dibenarkan dalam agama kita!", katanya padaku.             Waktu berjalan begitu cepat. Usiaku pada waktu itu telah menginjak enam tahun. Tak terasa sudah lebih dari lima tahun aku ditinggal ibu. Ibu yang seharusnya melihat anaknya naik kelas di sekolah dasar, tapi tak kunjung tiba saat pengumuman itu dibacakan. "Semoga Allah memberikan tempat yang terindah bagi ibuku di sisi-Nya.", doaku. Tak lama setelah aku  naik kelas, aku pindah ke Wates Yogyakarta bersama dengan kakak sepupuku.  Di sanalah aku mulai menjalani hidup mandiri dan belajar beradaptasi dengan keluarga baruku, teman-teman dan lingkungan di sekitar tempat aku tinggal, serta belajar bagaimana beribadah dengan baik pada agama Katolik. Seiring bertambahnya usia, aku pun mulai menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas keagamaan di Wates. Setiap selasa malam kami mengikuti ibadah doa ke tetangga se-RT yang biasa kami sebut dengang "sembahyang". Tidak lupa pula setiap hari minggu pagi kami pergi ke gereja, kemudian dilanjutkan sekolah minggu di mana aku dididik untuk mempelajari ajaran Katolik secara lebih mendalam. Setelah sekolah minggu selesai, lalu dilanjutkan dengan sakramen krisma, sebagai syarat untuk dapat menerima sakramen komuni yang ditandai atau disimbolkan dengan menerima roti tak beragi ketika misa di gereja. Saat itu dalam benakku, apa yang kulakukan itu adalah tahap dan kewajiban sebagai salah satu anggota keluarga yang beragama Katolik. Aku pun menjalani kegiatan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada gereja. Selain itu, kakak sepupuku juga menekankan pentingnya menjaga hubungan pribadi dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Karena inilah aku adan sepupuku rela berjalan kaki jauh-jauh dari rumah ke gereja sejauh lebih dari enam kilometer agar kami bisa beribadah di gereja. Tak jarang kami pergi menggunakan sepeda, bahkan berjalan kaki hingga meniti jembatan hanya untuk melakukan ibadah. Padahal pada waktu itu, kami masih kanak-kanak yang gemar bermain, tapi karena doktrin yang ditanamkan kepada kami sangat kuat, maka kami pun bersemangat untuk melakukan peribadatan tersebut. Mulai dari latihan koor (bernyanyi bersama-sama), hingga drama teaterikal yang menjadi kegiatan rutin menjelang Natal atau Paskah kami lakukan sebagai bentuk partisipasi anak-anak dalam memeriahkan Paskah serta Natal.             Enam tahun berikutnya, tepat usiaku dua belas tahun, aku pindah ke panti asuhan Santa Maria di daerah Kulon Progo, Yogyakarta. Di asrama tersebut, kegiatan keagamaan semakin intensif dan menjadi rutinitas sehari-hari yang wajib diikuti oleh semua penghuni asrama. Seperti ibadah ke gereja, berdoa bersama, maupun kegiatan yang bersifat pengabdian kepada masyarakat juga harus diikuti. Bruder (pengasuh) kami selalu menekankan untuk berdisiplin dalam membagi waktu sehari-hari. Disiplin dalam beribadah di panti maupun di gereja, hingga tidak jarang jika kami melanggar disiplin tersebut, maka kami akan mendapatkan hukuman dari pengasuh kami itu.             Ajaran Katolik memang berbeda dengan ajaran Islam. Ada hal-hal yang diharamkan bagi umat Islam namun tidak bagi kami. Kami bisa melakukan banyak hal salah satunya seperti memakan daging babi dan dan anjing. Setiap hari Paskah dan Natal, asrama kami pasti menyembelih babi untuk dikonsumsi semua penghuni asrama. Ini mejadi sebuah rutinitas yang kami lakukan setiap tahunnya, karena di asrama babi-babi itu diternak sehingga kami tidak kesulitan untuk medapatkannya. Selain untuk dikonsumsi, babi-babi tersebut juga kami jual untuk menambah biaya operasional panti kami. Untungnya, masyarakat sekitar tidak merasa terganggu dengan peternakan kami karena memang mayoritas warga di sekitar tempat kami tinggal beragama Katolik, sedangkan hanya sebagian kecil dari mereka yang Muslim. Tak jarang warga yang beragama Katolik juga membudidayakan babi untuk dijual, sama seperti kami.  Itulah yang aku lakukan dulu, tanpa banyak pertanyaan aku pun melahap hidangan yang disediakan asrama, termasuk memakan daging babi yang kami budidayakan.             Berselang beberapa tahun kemudian, aku telah menyelesaikan studiku di sekolah menengah kejuruan. Aku pun keluar meninggalkan asrama yang selama ini membesarkanku dan banyak mengajariku tentang Kristen. Karena usiaku yang sudah menjelang dewasa ini, maka aku pun bekerja di Jogja untuk memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari. Ini ku lakukan karena aku sudah tidak lagi tinggal di asrama, maka mau tidak mau aku harus bekerja untuk kehidupanku sendiri. Sudah hampir lima belas tahun aku tidak bertemu ayah. Ayah telah pergi merantau sejak aku masih berusia empat tahun. Sejak saat itulah aku tidak pernah bertemu dan hanya mendapat kabar melalui surat atau melalui perkataan orang-orang di sekitar tempat tinggalku. Tepat saat usiaku Sembilan belas tahun, aku mendapati kabar bahwa ayah sakit keras. Akupun segera untuk menemuinya, namun tetap saja aku tidak dapat berbuat banyak karena aku masih terlalu muda untuk bisa mendapatkan uang banyak sehingga bisa membiayai pengobatan ayahku. Akhirnya, ketetapan itu pun tiba, aku tidak dapat melawan atau menolaknya. Ayah telah pergi menyusul ibu. Ia dipanggil Yang Maha Kuasa untuk menghadap-Nya. Aku sungguh terpukul, setelah sekian lama aku tidak bertemu dengan ayah, aku harus menemuinya dalam keadaan sakit dan kemudian meninggal. Alangkah sakit dan pilunya hatiku. Tidak ada lagi yang bisa ku panggil ayah, setelah ia meninggal. Aku merasa penderitaanku begitu besar. Sulit bagiku untuk bisa menerimanya, tapi aku pun tak tahu harus berbuat apa. Aku sangat sedih, kenapa di saat aku, kakakku dan adiku tidak pernah bertemu, malah harus dipertemukan Tuhan pada prosesi pemakaman ayahku. Sangat perih rasanya hatiku. Aku seperti sebuah batang pohon yang kering yang hanya menunggu waktu hingga akhirnya aku roboh dan terguling di atas tanah. Perlahan aku mulai menyadari bahwa ini sudah takdir ilahi. Tidak ada yang bisa menolaknnya, aku pun pasrah akan hal ini. Sejak saat itulah aku merasa bahwa tidak ada lagi orang yang bisa menjadi sandaran hidup bagiku, dan aku pun menyadari hanya Tuhanlah yang bisa ku jadikan tempat bersandar agar aku tegar dalam mengarungi kehidupan. Kedukaan yang kualami ini membuatku harus berpikir keras bagaimana untuk segera bangkit dan menjalani hidup yang baru. Karena satu dengan lain hal, aku pun memutuskan untuk berpindah dari Jogjakarta ke Bogor. Di sinilah awal kesadaranku akan kebenaran yang hakiki mulai mucul. Aku seakan mendapat hikmah dan hidayah dari Allah atas apa yang telah menimpaku selama ini. Allah memberikan jawaban dengan menunjukkan Islam kepadaku sebagai penyejuk hati dan pembawa kebenaran dalam kehidupanku yang kering ini. Ini yang tidak aku temukan dalam agama Katolik sebagai agama yang selama ini kuanut. Meskipun aku telah lama menjadi penganut Katolik, namun ia tidak dapat memberikan jawaban atas kegelisahan batin yang selama ini kuderita. Setelah beberapa waktu bermukim di Bogor, aku pun mulai menjalin pertemanan dengan warga sekitar. Aku beradaptasi dengan baik di sana, mungkin karena aku telah terbiasa hidup berpindah-pindah dan bergaul di asrama, ini bukan hal sulit bagiku. Aku berteman baik dengan pemuda di sekitar tempat tinggalku, bahkan ia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Ia bertanya kepadaku mengapa Yesus disebut sebagai Tuhan atau anak Tuhan? Dan kenapa masih ada Allah Bapa juga? Ini sebuah pertanyaan yang sulit bagiku, sehingga aku tidak bisa beradu argumen dengan kuat karena memang konsep ketuhanan Kristen ini sangat berbeda dengan Islam. Beberapa waktu kemudian, secara kebetulan aku bertemu dengan teman lamaku di Bogor. Ia adalah sahabatku ketika kami berada di Jogja dulu. Pada waktu itu, dia sedang belajar mengenai Kristen saksi Yehuwa. Aku banyak mendapat masukan dari dia, khususnya mengenai kesalahan-kesalahan dalam ajaran Katolik. Mulai dari doa salam Maria yang salah satu kata di dalamnya memuat kata bunda Allah. Kemudian dari penelitian tentang kelahiran Yesus yang tidak terjadi saat musim dingin dan salju, yang dalam penanggalan Masehi jatuh pada bulan Desember. Lalu ajaran trinitas yang dibuat untuk menyatukan umat Katolik yang terpecah-pecah. Segala puji bagi Allah, mulai saat itu aku mulai mencari kebenaran yang mutlak. Dalam pikiranku, saat itu ada dua agama yang menarik, yaitu Kristen Saksi Yehuwa dan Islam. Mulai dari situ, aku banyak membaca dan mencari informasi tentang Kristen saksi Yehuwa dari artikel, majalah, dan buku-buku. Ini juga kulakukan dengan "Islam". Aku mencari sumber-sumber bacaan yang berkaitan dengan Islam, kemudian membandingkan antara Islam dengan Kristen saksi Yehuwa. Aku bergegas membandingkan dan mencari mana yang paling benar dari keduannya, disertai dengan alasan-alasan yang jelas yang menyokong dan membenarkan bahwa itulah yang paling benar. (bersambung)