Kisah Muallaf

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN I

Dikirim tanggal 1 Nov 2012 06.06.32 376 Kali dibaca

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN I
Oleh: Ozi Setiadi Sesungguhnya aku menyakini bawah agama yang benar, agama yang menunjukan jalan yang betul-betul lurus dan di ridhai Allah SWT., Sang Pencipta Alam semesta ini adalah Islam. Alhamdulilah (segala puji bagi Allah). Dikesempatan yang sangat mulia ini, aku ahkirnya bisa menceritakan perjalanan kenapa aku memilih Islam sebagai agamaku sekarang. Subhahanallah (Maha Suci Allah). Sebelum aku menceritakan mengapa aku meninggalkan agama Kristen yang merupakan agama nenek moyangku dan berpindah ke agama Islam yang bukan merupakan agama nenek moyangku sama sekali, mungkin lebih baik aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu sebelum aku bercerita liku-liku pengalaman hidupku dalam beragama. Nama baptisku (nama waktu aku beragama Kristen) adalah Tommy Maldini Sinaga, alhamdulillah sekarang sudah berganti nama menjadi Muhamad Khalifah. Lahir di Bengkulu 15 Mei 1996. Aku anak ke tujuh dari sembilan bersaudara. Usiaku sekarang 16 tahun, usia yang relatif muda dalam proses pencarian kebenaran. Aku lahir dari rahim seorang ibu dan ayah yang berbeda agama. Ibuku bernama Linda, seorang ibu yang sangat berjasa dalam membesarkanku, meski agama yang dianutnya adalah Budha. Sedangkan ayah aku bernama K. Sinaga, beragama Kristen Protestan, agama yang sangat diyakini dan ditaati beliau. Dari namanya terlihat jelas bahwa ayah aku merupakan suku batak yang berasal dari Sumatera Utara. Pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang sayur keliling dari pagi hingga petang mencari rezeki tak kenal lelah demi menghidupi keluarga kami. Berbeda dengan ayah, ibu aku adalah keturunan Tiongkok (Cina). Ibu adalah seorang pedagang pempek, makanan khas Palembang yang sangat terkenal, khusunya di pulau Sumatera. Sepintas sudah tergambar bahwa aku adalah anak dari keluarga sederhana. Ayah dan ibu aku bukan pejabat apalagi pengusaha kaya, hanya seorang pedagang kecil yang hidup apa adanya. Kehidupan kami sangat membingungkan karena ayah dan ibu berbeda agama sehingga aku dibesarkan dalam keluarga yang "kacau balau" dalam hal agama. Pertanyaan yang mungkin muncul dari para pembaca adalah mengapa orang tuaku berbeda agama? Inilah pertanyaan yang aku sendiri sulit untuk menjelaskannya, namun aku akan menjelaskan alasan tersebut berdasarkan pada penjelasan ibundaku tercinta. Begini menurut beliau; Ibuku itu dahulu sudah pernah menikah, suami pertamanya adalah warga Padang-Sumatra Barat, namun aku tidak pernah tahu siapa nama lelaki yang beruntung yang menikahi ibuku itu. Agamanya Islam, baik, sopan dan santun kepada beliau, sehingga menambah kecintaan ibundaku kepada lelaki tersebut. Tapi, perbedaan agama menjadi kendala saat itu, hingga ibuku memutuskan berpindah agama dan masuk agama Islam agar hubungan cinta kasih mereka mendapat rahmat dari Allah SWT. Keseriusan yang diperlihatkan ibuku, diperlihatkan dengan berpindahnya ia dari agama lamanya, Budha, ke dalam Islam. Mendengar cerita tersebut, hatiku bergetar, tak tahan rasanya hati ini mendengarkan cerita ibunda tercinta sambil terlihat mata yang berkaca-kaca sewaktu menjelaskan hal itu. Alhamdulliah, segala puji bagi Allah, aku sangat senang sekali mendengar cerita itu, hingga penjelasan yang membuat hatiku kembali tersentak dan jantung berdegup kencang tatkala ibunda tercinta mengatakan "beliau sudah meninggal empat tahun silam pasca pernikahan itu terjadi". Beliau meninggal karena sakit parah yang dideritanya, dan membuat beliau lemah tak berdaya melawan penyakit tersebut, tutur ibuku menjelaskan lebih lanjut. Ibu memiliki dua orang anak dari hasil cinta kasihnya dengan sosok almarhum, lelaki yang beruntung menikahi beliau. Bagi aku,ibu adalah orang yang sangat berharga, tiada yang lebih berarga lebih dari ibuku. Beliau adalah mutiara yang tak tergantikan oleh siapa pun, maka siapa saja yang menikahi beliau adalah orang yang sangat beruntung. Dua anak tersebutlah yang kelak menjadi abang dan kakakku karena keduanya laki-laki dan perempuan. Malangnya, belum lagi aku merasakan dekapan pelukan kedua abang dan kakakku, mereka sudah tidak lagi bersama ibu, karena keterbatasan kemampuan ekonomi ibu menitipkan mereka berdua ke panti asuhan. Panti yang terletak di Kota Padang-Sumatera Barat yang hingga kini aku tidak tahu dimana letak panti itu. Ibu pergi merantau ke Kota Bengkulu, tempat dimana aku dilahirkan. Disitulah ibu bertemu dengan ayah kandungku. Mungkin sudah menjadi takdir Allah, ibu dan ayah berjumpa dan akhirnya berjodoh. Mereka menikah, malangnya ayah kandungku beragama Kristen sendangkan ibuku masih mua'allaf. Tentu keyakinannya terhadap Islam tidak sekuat keyakinan orang-orang yang sejak lahir Islam, selain karena latar belakang perpindahan agama yang bukan berdasarkan atas pencarian kebenaran Allah, tapi berdasarkan tali pernikahan. Lemahnya keimanan dan keyakinan ibu membawanya masuk Kristen bersama ayah. Ayah adalah sosok yang sangat kuat keyakinannya terhadap Kristen sehingga ibu, dengan pertimbangan status janda yang diembannya, rela masuk agama Kristen. "Mana ada lelaki yang mau dengan perempuan janda miskin beranak dua ini nak?" tuturnya sambil terlihat mata yang berkaca-kaca kala menjelaskan hal itu. Jadilah ibunda tercintaku berpindah agama menjadi umat Kristen bersama ayahku. Ibu dan ayah telah mengarungi bahtera rumah tangga lebih dari tiga puluh tahun, selama itu pula mereka dikaruniai Sembilan orang anak. Malangnya, dari Sembilan orang anak itu, cuma aku yang muslim. Adik dan kakak-kakakku masih beragama Kristen dan ada pula yang mengikuti keyakinan lama ibuku, yakni beragama budha. Singkat cerita, karena ibuku mendapat perkerjaan di Palembang dan aku bersama ayah serta saudara yang lain di tinggal ibu selama kurang lebih dua tahun. Aku sangat tertegun mendengar cerita ibu, Ibu bekerja di perusahaan swasta yang mana pemilik dari perusahaan tersebut beragama Budha. Ia sangat fanatik, sehingga paling tidak suka ada karyawan yang beragama selain agama yang dianutnya, termasuk agama Kristen. Mau tidak mau, ibu kembali ke agama asalnya demi pekerjaan agar bisa memberi nafkah bagi kami sekeluarga. Setiap bulan ibu mengirim hasil jerih payahnya di rantau orang. Penghasilan ayah yang pas-pasan membuat tidak ada pilihan lain bagi ibu selain melakukan hal ini. Bagi ayah, tidak ada jalan lain selain pasrah dengan keadaan yang menimpa kami. Sedih, hingga tak sadar aku menitihkan air mata saat ibu menjelaskan kenapa mereka berdua sampai berbeda keyakinan. Lebih sedih lagi, ibu belum memilih Islam sebagai keyakinan yang saat ini ku yakini. Inilah cerita singkat mengenai kenapa kedua orang tuaku berbeda keyakinan. (Bersambung)