Kisah Muallaf

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN II

Dikirim tanggal 2 Nov 2012 04.16.43 340 Kali dibaca

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN II
Aku memilih Islam sebagai agamaku, bukan Kristen atau Budha agama nenek moyangku dulu. "Allahuakbar (Allah Maha Besar),Alhamdulillah, mantan kafir yang dahulu sesat dan nakal bisa memeluk agama Allah yang sangat mulia ini" aku bergumam dalam hati. Aku sangat bersyukur diberi hidayah oleh Allah, Tuhan Sang Pemilik langit dan bumi. Aku dibesarkan di lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Islam karena kedua orang tuaku membangun rumah sederhana di lingkungan tersebut. Berbeda dengan kebanyakan orang, di lingkungan tersebut keluarga kamilah satu-satunya non muslim. Lingkungan ini yang membentuk karakter pribadiku, "karena lingkungan yang mayoritas muslim maka teman-temanku juga pasti muslim dong", aku menjelaskan dengan bangga. Pada saat aku berusia tujuh tahun, aku disekolahkan SD Negeri 60 Kota Bengkulu. Di sekolah hampir 100% murid beragama Islam, hanya aku dan beberapa rekanku yang masih Kristen, hingga saat aku naik kelas ke kelas empat SD sampai kelas enam, tinggal aku sendiri yang beragama Kristen. Sering sekali aku mendapat pilihan yang diberikan oleh ibu guru kepadaku, khususnya ketika akan memulai pelajaran agama Islam. "Tommy, kamu boleh keluar ruangan karena ini pelajaran agama Islam jadi tidak sesuai dengan agama kamu, atau kamu boleh duduk di kelas tapi jangan membuat keributan dan jangan mengganggu teman-temanmu ya?", kata guruku memberikan pengertian kepadaku. Apa yang dikatakan oleh guruku membuatku berfikir sejenak, hingga akhirnya aku putuskan untuk tetap berdiam diri di kelas sambil mendengarkan penjelasan tentang agama Islam yang diberikan oleh guruku. Pilihan ini kuambil dengan pertimbangan jika aku keluar dari kelas toh aku juga tidak punya teman, karena teman kelasku semuanya muslim, maka lebih baik aku mengikuti pelajaran ini. Karena memang ibu guru yang memberikan pilihan itu kepadaku, maka akupun diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Aku tak tahu apa yang ibu guru ajarkan kepada teman-temanku. Aku hanya duduk diam, tanpa bertanya kepada ibu guru walaupun ada banyak sekali pertanyaan dalam hatiku yang ingin kusampaikan padanya. Ahkirnya, pelajaran agama Islam itu selesai dan tibalah waktunya untuk istirahat. Aku yang sangat nakal kala itu ditakuti oleh taman-tamanku sehingga aku tidak memiliki banyak teman. Mungkin karena ilmu beladiri yang pernah kupelajari dulu membuatku seperti orang yang memiliki keberanian lebih disbanding dengan taman-temanku waktu itu. Paman yang mengajariku bela diri tersebut, dan hanya aku yang memiliki kemampuan bela diri di kelas. Inilah yang membuatku merasa aku punya kelebihan dibanding teman-temanku yang lain. Terkadang aku tergelitik bila mengingat kenakalan dan keberanianku waktu kecil. Badanku yang tidak terlalu besar ini, berani menantang dan berkelahi dengan kakak kelasku. Tak elak, mereka pun takut padaku. "Siapa yang tak kenal Tommy, kerjaku hanya berkelahi, malak, dan jahil terhadap teman-teman", ucapku dalam hati. Alhamdulillah, kenakalanku ini tidak sebatas kenakalan belaka. Meski terkenal nakal, namun Allah memberikan kelebihan kepadaku. "ya walaupun nakal tapi aku juga cerdas loh...", kataku sambil membanggakan diri. Aku rajin membaca, sehingga kerajinanku ini membuatku dengan mudah memahami agama Islam yang sebelumnya diajarkan ibu guru kepada teman-teman kelasku. Nilai-nilai hasil pelajaranku selalu unggul dibanding kebanyakan teman-teman kelasku. Meski kebiasaanku selalu saja memalak teman-temanku, baik laki-laki maupun perempuan. Sungguh kenakalanku ini membuatku kadang berfikir, jahat sekali aku sewaktu kecil. Tidak kurang dari enam belas ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah kuperoleh dari hasil kenakalanku ini, "astaghfirullah ya Allah", dalam hatiku ingin memohon maaf kepada teman-temanku sewaktu kecil. Alangkah nakal dan bandelnya aku waktu kecil, uang yang kuperoleh bukannya ku pergunakan untuk membeli makanan atau keperluan sekolah, malah ku habiskan untuk bermain billiard bersama teman-teman di lingkungan rumahku. Entah karena hobi atau hanya senang-senang, kegiatan ini kulakukan hamper setiap hari. Rasanya tak ingin berpanjang lebar, agar pembaca tidak semakin menghardikku dan menghakimiku sebagai anak yang super bandel, jadi aku percepat cerita pada sesi ini. Singkat cerita, pada saat kembali belajar pelajaran agama Islam, aku pasti ada di dalam kelas dan perlahan ini menjadi kebiasaan bagiku, bila ada pelajaran agama islam aku pasti berada di dalam kelas. "Apa sih susahnya, murid-murid yang lain belajar agama Islam, mereka menulis, menghafal, dan sesekali mengerjakan soal latihan, aku hanya duduk diam tanpa melakukan sesuatu", kataku lagi. Begitulah seterusnya, hingga suatu ketika aku sangat kaget mendengar penjelasan ibu guru. Kenapa kaget? Ya, karena ia menjelaskan mengenai Nabi Isa as. Nabi yang bagi umat Kristen adalah sebagai Tuhan Yesus, tapi tidak dengan umat Islam. Penjelasan ibu guru ku dengarkan dengan seksama, tak terelakkan kadang hatiku juga membenarkan apa yang ibu guru jelaskan. Penjelasannya mirip sekali dengan apa yang telah kupelajari saat ini, "ini sama persis dengan sejarah Tuhanku", kukatakan dalam hati. Sesekali ibu guru membacakan ayat Al-Quran berikut dengan terjemahannya. Seingatku, surat yang dibaca olehnya adalah surat Al-Maidah. Seperti sudah digariskan oleh Allah, teman yang duduk sebangku denganku membawa Al-Quran berikut lengkap dengan terjemahannya. Aku ikut membaca dan menyaksikan, dan merasa kagum "ternyata di dalam Al-Quran benar-benar menceritakan sejarah Nabi Isya dengan jelas", aku bergumam. Tentu aku yang kala itu masih beragama Kristen, kaget dengan hal ini, dan membuatku bertanya lebih dalam mengenai ini semua agar aku bisa memperoleh jawaban mengapa demikian? Saat pelajaran itu berakir, aku pergi dari kelas dan langsung mengahadap ibu guru yang mengajarkan agama Islam tadi. Aku bertanya, "bu guru tadi ibu kenapa menceritakan Tuhan aku?". Sang ibu guru tersenyum dan memberikan penjelasan dengan sabar dan lembut. "Begini ya Tommy, Yesus itu bila dalam agama Islam dia bukan Tuhan, melainkan seorang nabi yang diutus oleh Allah, Tuhan Sang Pencipta kepada kaum Bani Israil", kata bu guru. Penjelasan singkat ini sepontan menimbulkan berbagai pertanyaan kepadaku, kenapa dalam agama Kristen mereka menganggapnya sebagai Tuhan? Ibu menjelaskannya lagi kepadaku, "Karena orang-orang yang beragama Kristen tidak mengerti bagaimana asal mula agamanya, dan mereka tidak mau mencari kebanaran siapakah Yesus itu sesungguhnya, inilah yang membuat mereka menjadikan Nabi sebagai Tuhan. Mereka, orang-orang yang memeluk agama Kristen tertipu oleh keeyakinan yang selama ini mereka yakini", jelas ibu guru lebih lanjut. Aku yang mendengar jwaban ibu guru itu kaget, tidak hanya kaget, tapi kaget sekali. Ini benar-benar sangat membingungkanku, "jadi, yang benar agama mana?", cetusku dalam hati. Para pembaca yang sangat aku hormati, mungkin tidak aku cukup goresan tinta ini menjelaskan berbagai macam kisah perjalananku dalam menemukan Islam. Oleh sebab itu, agar menghemat waktu, aku akan mempersingkat ceritaku ini agar para pembaca tidak terburu-buru menyelesaikan membaca kisahku. Singkat cerita, tahun ajarab 2009/2010 telah ku lewati, aku pun dinyatakan lulus sekolah dasar (SD). Bergegas setelah dinyatakan lulus, aku melanjutkan pendidikanku ke sekolah menengah pertama alias SMP. Aku yang terkenal nakal namun cerdas ini bersekolah di sekolah yang mayoritas muridnya beragama Islam. Berbeda dengan ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Kini aku mulai merasa malu dengan agamaku sendiri. Aku mulai jarang masuk sekolah, karena hanya aku yang beragama non muslim. Hal ini perlahan yang membuatku putus sekolah. Orang tuaku marah besar, mereka yang membanting tulang demi menghidupi kami, tidak kuturuti apa kemauan mereka. Entah apa yang mendorongku berbuat demikian, terkadang aku berfikir jauh mengapa aku  melakukan ini semua. Ayah dan ibuku tidak pernah tahu mengapa aku memutuskan untuk berhenti sekolah, dan aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada mereka berdua. Aku mengalami kegalauan yang sangat luar biasa. Teman-temanku kebanyakan berbuat semau mereka, berbuat maksiat seperti tidak memiliki aturan dan tujuan hidup. Inilah yang membawaku larut bersama mereka, hinga akhirnya aku terkejut melihat mereka. Mengapa mereka kini selalu berada di dalam masjid? Seperti percaya tidak percaya, temanku mulai menjelaskan hal itu kepadaku. Hingga pada akhirnya mereka mengatakan, "kami sudah bertobat, melihat ada Bandar narkoba yang tobat dan kemudian menjadi ustadz, kami pun ingin mengikuti jejaknya", ujar salah satu temanku menjelaskan. (Bersambung)