Kisah Muallaf

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN III

Dikirim tanggal 5 Nov 2012 10.30.29 424 Kali dibaca

Muhammad Khalifah: KISAHKU DALAM PENCARIAN KEBENARAN III
Adalah ustadz Ghofar Hidayat yang selalu menasihati teman-temanku, bahkan biliau juga yang nantinya mengislamkan aku. Ternyata beliau inilah yang selama ini menjadi bandar narkoba di daerah kami. Entah apa yang membuatnya jadi seperti sekarang, perubahan yang terjadi 180 derajat ini tentu sangat membuatku heran. Teman-temanku yang mendengar jalan cerita hidup belau, membuat hati mereka tersentuh, sehingga membuat mereka seakan tidak mau terjerumus pada keburukan yang sama dengan beliau. Mereka segera memperbaiki diri, seiring dengan penjelasan dan pengajaran yang diberikan oleh ustadz Ghofar. Setiap adzan berkumandang, mereka bergegas berangkat ke masjid. Kontras sekali dengan perbuatan mereka yang lama, yakni selalu berbuat kemaksiatan dan kejahatan. Sungguh ini membuat aku tersentuh. Entah apa yang selama ini kulakukan. Mereka yang dahulu bekumpul bersamaku saat malam hari, kini mereka malah mendengarkan pengajian di masjid. Perbedaan jelas sangat terasa pada diriku. Aku yang masih berada pada agama lamaku pada waktu itu, sangat merasa malu dan terasing dari mereka. Aku merenung, lebih dari dua hari tidak keluar rumah. Dalam pikiranku, begitu indah bagi mereka, teman-temanku, yang sangat baik dalam proses transisi tersebut. Mereka mendengarkan lantunan Adzan, dan pergi ke masjid guna melakukan salat berjamaah. Aku selalu bertanya, " yang mana agama sesuangguhnya yang benar, agama ayahku atau agama ibu? Ibu begini, ayah begitu. Ini benar-benar membuatku pusing dan lelah memikirkannya." Akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar rumah dan menemui ustadz Ghofar, yang pada saat itu sedang berceramah di masjid. Aku masuk ke dalam masjid. Sontak saja semua orang kaget dan memandang sinis padaku...., termasuk teman-teman akrabku yang sedang mendengarkan ceramah dari ustadz Ghofar. Aneh, mungkin itulah yang dirasakan oleh teman-teman dan warga yang melihatku, namun aku tetap saja memberanikan diri untuk mendengarkan ceramah tersebut hingga selesai. Tak lama setelah ceramah yang disampaikan ustadz Ghofar selesai, aku segera menghampirinya. Tanpa basa-basi, aku bertanya kepada beliau, "ustadz Ghofar, ustadz Ghofar.....,sebenarnya agama yang benar itu agama yang mana?", Ustadz Ghofar tersenyum kepadaku, dan bertanya mengapa aku berkata demikian? Aku menjawab sebenarnya apa yang sedang ada di dalam hatiku.... Orang tuaku berbeda keyakinan, ayah penganut agama Kristen, sedangkan ibu penganut agama Budha. Aku bingung, sudah berhari-hari aku memikirkan hal ini. Ku mohon ustadz berikan penjelasan atas pertanyaanku ini", tuturku kepada beliau. Ustadz Ghofar menjawab; agama yang paling benar adalah Islam. Islam adalah agama keselamatan, sehingga siapa saja yang memeluknya pasti akan selamat. Aku kembali bertanya kepada beliau, "Aku ini beragama Kristen, bagaimana denganku beserta agama yang kuyakini sekarang?". Beliau kembali menjelaskan bahwa, "sejatinya agama Kristen adalah agama yang dibawa oleh Nabi Isa as., agama yang melanjutkan agama sebelumnya dan mengajarkan kebaikan hingga muncullah agama Islam. Namun, seiring dengan perkembangan peradaban, agama tersebut telah dicampuri oleh manusia. Kitab sucinya juga tidak lagi murni seperti yang dahulu yang pernah ada. Berulang kali kitab tersebut direvisi, hingga kini dikenal dengan adanya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, agama Kristen tidak lagi menjadi agama yang menyelamatkan umat, berbeda dengan Islam", jelasnya. Aku yang sedang kebingungan ini spontan merasakan kebingungan yang semakin dahsyat. Keyakinanku goyah, aku seperti tidak lagi bisa berkata-kata. Aku merasa apa yang dikatakan oleh beliau benar adanya. Teman-temanku yang masih berada di dalam masjid mendekatiku. Mereka berusaha menenangkan pikiranku yang sedang galau ini. Perlahan aku mencoba untuk memahami penjelasan ustadz, hingga aku berfikir, ya! Ini adalah sebuah jawaban atas berbagai bertanyaan yang telah melanda pikiranku selama ini. Kemudian teman-temanku mengajakku masuk Islam. Mereka mulai memperlihatkan video mengenai perdebatan antara mantan umat kristiani (mu'allaf) dan mantan muslim (murtadin). Begitu aku melihat video tersebut, aku masih tidak percaya. "Mengapa seseorang yang telah menjadi pendeta besar, ahli Injil kemudian masuk Islam, dan kenapa pula sebaliknya?", ucapku dalam hati. Anehnya perdebatan itu seperti tidak memberikan upaya yang signifikan bagi para murtadin untuk menjelaskan isi Al-Kitab lebih lanjut, malah kebalikannya, penjelasan yang disampaikan oleh para mu'allaf lebih jelas dan rasional. Ini tentu memberikan penguatan keyakinan dalam diriku bahwa agama yang benar dan menjadi agama penyelamat bagi penganutnya adalah agama Islam. Apalagi mendengar bahwa kitab yang selama ini dianggap suci oleh umat Kristiani adalah hasil dari campur tangan manusia. Ini benar-benar menusuk relung hatiku yang paling dalam. Ahkir nya tiga hari setelah melihat video tersebut, aku memberanikan diri untuk masuk Islam dan aku yakin betul akan kebenaran agama Islam. Aku menemui ustadz Ghofar kembali dan aku meminta kepada beliau untuk disyahadatkan pada saat itu juga, namun ustad Ghofar bertanya kepadaku,bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apakah mereka mengizinkan kamu? Aku pun menjawab; "Ayah tidak akan mungkin mengizinkanku. Ayah adalah penganut Kristen yang taat, sehingga tidak akan mungkin ayah mengizinkanku untuk keluar dari agama yang ku anut saat ini", jawabku. "Namun, aku tidak akan pernah takut, tekadku sudah bulat. Aku sanggup di usir dari rumah daripada aku mati dalam keadaan sesat", kataku lagi Ustadz Ghofar yang mendengar perkataanku ini, langsung pergi dan mengambil air wudhu. Entah apa yang hendak dilakukannya, aku tetap saja diam dan memandanginya. Beliau salat dua rakaat, seperti meminta petunjuk dari Allah akan keputusan yang ku ambil saat ini. Kemudian setelah beliau selesai melakukan salat, beliau berkata kepadaku; "Kamu pulanglah, bersuci dan kemudian mandi dengan niat ingin bersuci karena Allah swt.", kata beliau. Aku pun pulang dan bersuci seperti apa yang beliau katakan. Menjelang maghrib dengan penuh keyakinan, aku kembali menemui sang ustad. Aku berkata kepada beliau; "ustadz aku sudah siap untk disyahadatkan'. Aku ingin masuk agama Islam dengan kaafah (Keseluruhan)", kataku. Beliau menjawab, insya Allah,dengan petunjuk Allah, ustadz akan membimbingmu masuk Islam". Kemudian aku langsung disayahadatkan oleh beliau. Asyhadu anlaa ilaha ila Allah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah...... (Aku bersaksi bawah tiada Tuhan selain Allah Dan aku bersaksi bawah Nabi Muhamad adalah utusan Allah). Aku sungguh sangat bahagia. Teman-teman yang melihatku sangat kagum denganku, hingga tiba maghrib dan isya' aku ikut melaksanakan salat bersama mereka. Aku yang masih merasa kaku dengan gerakan-gerakan yang ada dalam salat, tetap saja mengikuti mereka, walaupun belum tahu bacaan-bacaan yang ada dalam salat tersebut. Sesudah menjalankan ibadah salat Isya, aku diberi buku oleh ustadz Ghofar, yaitu buku tentang tata cara salat. Aku pun dengan semangat menerima dan memperlajari buku tersebut. Walau belum mengetahui bacaan bahasa Arab, aku tetap saja membaca dan menghafal tata cara melakukan salat tersebut hingga larut malam. Aku pun bertekad untuk bisa membaca dengan baik bacaan salat hingga tiba waktunya salat subuh esok karena ada tulisan latin yang bisa membantuku dalam membaca bacaan salat tersebut. Alhamdulillah, dengan tekadku yang kuat, aku bisa membaca bacaan salat, meski masih belum tepat, ketika mengerjakan salat subuh. Subanallah (Maha Suci Allah), hidayah yang allah berikan kepadaku begitu dahsyat. Orang tuaku masih belum mengetahui apa yang telah aku lakukan ini. Aku masih menyembunyikan status bahwa aku adalah seorang muslim. Aku tetap belajar dan selalu bertanya dari satu ustad ke ustad yang lain, apabila aku tidak memahami apa yang sedang ku pelajari. Setiap ustad yang ku tanya selalu memberi masukan-masukan ilmu agar aku benar-benar meyakini Islam dengan kaafah dan tidak ada keraguan di dalamnya. Tiga hari aku menjadi seorang muslim aku sudah bisa azdan, bahkan aku selalu adzan di mesjid ketika kami hendak melakukan salat. Begitu banyak kenikmatan yang aku dapatkan yang tidak terbayang oleh seiapapun, inilah perbedaan yang sangat luar biasa yang kurasakan ketika menjadi seorang mu'allaf, berbeda dengan ketika aku masih menjadi penganut Kristen. Karena kedua orang tuaku masih belum mengetahui kalau aku sudah menjadi seorang muslim, aku melakukan shalat malam(tahajud) di rumah secara sembunyi-sembunyi. Hingga pada akhirnya ibu mengetahui hal ini karena ada warga yang memberi tahunya, itu pun ketika aku sudah menjadi muslim selama satu bulan. Anehnya, ibu sama sekali tidak marah kepadaku, justru ia malah tersenyum dan bangga kepadaku. Ini tentu membuatku heran, kenapa ibu demikian? Bukankah aku berpaling dari agama mereka? Sungguh membingungkan. Ternyata, ibu tersenyum dan bangga kepadaku melihat perubahan pada diriku. Aku yang dahulunya nakal, menyusahkan orang tua, berubah 180 derajat menjadi anak yang baik dan menurut kepada orang tua. Aku merasa sangat tersanjung melihat sikap ibu yang demikian, "hihihiihi.....", dalam hati aku meringis. Ibu berpesan kepadaku, "jangan sampai ayah mengetahui akan hal ini! Jika ia mengetahuinya, pasti ia akan marah kepadamu", kata ibu. Untungnya ayah selalu pergi pagi dan pulang malam, sehingga aku tidak pernah bertemu dengan dia. Singkat cerita..... Pada akhirnya, saat aku ingin melakukan salat subuh berjama'ah di masjid dan keluar dari rumah, aku melihat ayah juga ingin keluar rumah. Aku begitu kaget dan takut, ayah bertanya kepadaku, "mau pergi kemana kamu?". Aku yang masih ketakutan, spontan menjawab, aku ingin melakukan salat subuh di masjid. Subhanallah........Aku yang berfikir ayah akan marah besar atas tindakan yang kulakukan ini ternyata tidak. Sambil tersenyum ayah mengelus kepalaku. Begitu dahsyatnya kebesaran Allah, hingga mataku berkaca ketika ayah mengelus kepalaku tanpa marah sedikitpun. "Terima kasih Allah" ucapku dalam hati.    Dengan kejadian itu, aku yang selama ini masih bersembunyi-sembunyi akhirnya melakukan salat dengan terang-terangan. Sontak saja ini membuat saudara-saudaruku tercengang melihat apa yang aku lakukan. Namun, aku tidak menghiraukan hal ini. Aku semakin merasa dekat dengan Allah, tanpa ada keraguan sedikitpun terhadapnya dan aku sangat yakin sekali bahwa Allah itu Maha segala-segala nya.             Mereka yang selama ini mencurigai dan memandang buruk kepadaku, perlahan mulai kagum akan perbuatan yang aku lakukan. Ini tidak lain karena aku telah melakukan salat lima waktu di mesjid, tidak meninggalkannya satu kali pun. Allahu rahman, Allahu rahim (Allah Maha Pengasih dan Allah Maha Penyayang), aku mendapat anugerah dari ini semua. Selain orang tuaku yang tidak marah kepadaku, berkali-kali warga sekitar memberiku hadiah berupa uang dan benda lain. Uang yang kuperoleh dari pemberian warga melebihi penghasilan ayahku, bahkan aku tidak lagi meminta uang saku kepada ibu jika akan berangkat ke sekolah. Dengan dukungan dari berbagai pihak ini, aku semakin yakin dan percaya diri untuk mendakwahkan Islam kepada ibu dan keluargaku. Setiap hari aku selalu berdoa, semoga mereka dapat masuk Islam bersamaku dan merasakan indahnya berislam sama seperti aku dan umat Muslim pada umumnya. Aku mulai mengurangi patung salib yang ada dirumahku, hingga ada peristiwa yang sangat membuatku jengkel, ketika aku melakukan salat tahajud, dan berdoa kepada Allah dengan menengadahkan tangan tiba-tiba tanpa kusadari, ketika aku melihat ke atas ada patung salib di hadapanku. Spontan aku sangat kesal, aku merasa sangat bodoh karena belum bisa mendakwahi keluargaku, hingga masih ada patung salib dihadapanku. Akirnya, pada suatu ketika, aku menceritakan hal ini kepada ustadz yang kukenal. Mereka menyarankan aku untuk masuk pondok pesantren dan menjadi santri di sana. Aku merasa Allah benar-benar menunjukkan jalan kepadaku. Aku memang berniat untuk belajar agama di pondok pesantren.Subhanaallah, keesokan harinya aku mendapat kabar dari salah seorang ustadz bahwa ada pesantren yang menerima santri khusus mu'allaf. Nama pesantren itu Pesantren Pembinaan Mu'allaf-Yayasan An-Naba' Center, terletak di Jakarta, tempat yang jauh dari kampung halamanku. Kini, aku menjadi santri di pondok pesantren tersebut. Tepat pada tanggal 02 Oktober 2012 aku diterima dengan baik oleh pimpinan pondok pesantren yakni ustadz H. Syamsul Arifin Nababan. Beliaulah yang membantuku dalam perjalanan pencarian kebenaran yang selama ini ku arungi. Aku sangat senang sekali, karena beliau merupakan sosok yang sangat ku idolakan. Sungguh anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku, aku langsung bertemu dengan tokoh yang ada dalam video debatmu'allaf vs murtadin yang selama ini aku tonton dan membuat keimananku semakin kuat. Alhadulillah, kini ibuku juga memeluk Islam. Ini lah kebahagian yang paling luar biasa dalam hidup aku. Akhirnya, salah satu tujuanku berhasil. Dan aku bisa menceritakan perjalananku dalam pencarian kebenaran. Inilah ceritaku dalam memeluk agama Islam. Sebelum aku menyudahi kisahku ini, izinkanlah aku berpesan kepada pembaca. Para pembaca yang budiman, inilah pesanku; "Hidup ini sangat singkat.......hidup ini bagaikan pintu, jikalau pintu itu dibuka dan kita keluar dari pintu darinya, maka kita tidak akan bisa melangkah kemana-mana lagi (maksutku kematian)..Kita manusia, dahuluhnya hidup di surga dan memang sepantasnya kembali ke surga. Kehidupan ini adalah semu, jangan sia-siakan hidup kita hanya untuk bersenang-senang, kejarlah surga itu karena seseungguhnya Allah telah menyediakannya utuk kita..... Ingat sekali lagi wahai para pencari kebenaran!!!".