Kisah Muallaf

Muhammad Orlando: Mutiara dari Timor Leste

Dikirim tanggal 27 Jun 2014 09.19.46 379 Kali dibaca

Muhammad Orlando: Mutiara dari Timor Leste
Oleh: Ozi Setiadi Timor Leste, merupakan sebuah Negara yang pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nama sebelum merdeka adalah Timour Timur. Di Negara inilah aku dan keluargaku dulu tinggal. Negara yang penduduknya pada waktu itu bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang. Oleh sebab itu ayah dan ibuku juga seorang petani dan pedagang. Perkenanlah aku memperkenalkan diri kepada para pembaca sebalum aku memulai cerita tentang perjalanan hidupku dalam menemukan Islam. Nama babtisku adalah Arnaldo Pinto, nama ini diberikan oleh kedua orang tuaku ketika aku masih beragama Kristen. Kini, sejak aku memeluk Islam, namaku berubah menjadi Muhammad Orlando. Aku adalah seorang anak laki laki yang dilahirkan dari keluarga yang bisa dibilang sederhana. Ayah adalah seorang petani yang kerjanya hanya bertani di ladang menanam berbagai macam tanaman pertanian seperti padi, umbi-umbian, kelapa, pinang dan sayur-mayur. Sedangkan ibu adalah seorang pedagang yang menjual hasil kebun kami di pusat kota. Keluarga kami adalah keluarga yang taat beribadah. Terutama ayah dan ibu, mereka adalah aktivis gereja. Kegiatan aktivis seperti membersihkan gereja, membawa patung-patung dan perlengkapan gereja sudah sering mereka lakukan. Jiwa militansi yang ada pada diri mereka sangat kuat, sehingga bisa dibilang mereka berdua adalah orang yang fanatik dalam beragama. Tidak pernah meninggalkan ibadah, kahususnya ketika tiba waktu kebaktian pada hari minggu. Keyakinan mereka terhadap Yesus sangat kuat, mereka meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Yesus adalah Tuhan. Keyakinan ini dibuktikan ketika aku sedang sakit demam, mereka tidak memberikan obat sama sekali kepadaku, hanya meletakkan salib di atas kepala sambil membacakan doa-doa agar aku lekas sembuh dari penyakit yang kuderita. Begitulah sangking fanatiknya mereka terhadap ajaran Kristen tersebut. Ayah adalah seorang mantan veteran Timor Leste yang sangat penyayang, lembut, sabar, dan taat kepada Kristen. Begitu pula dengan ibu. Mereka tidak pernah marah, bahkan jika dicaci maki oleh orang lain. Mereka berperinsip bahwa cacian ataupun makian yang dilontarkan kepada mereka nantinya akan kembali kepada orang yang melakukannya. Kedua orang tuaku sangat militan dalam berdakwah. Mereka membawa patung Yesus dari satu tempat ke tampat yang lain. Tentunya ukuran patung tersebut tidaklah kecil. Ukurannya bisa sebesar pintu rumah, dan mereka membawanya melewati jalanan yang berbukit dengan berjalan kaki. Aku lahir di Timor leste, tepatnya di sebuah desa kecil bernama Bauguia pada tanggal 3 Mei 1986. Aku adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Jumlah anak yang cukup banyak bila dibandingkan dengan keluarga yang ada di kota-kota besar sekarang. Anak pertama dan kedua adalah laki-laki, namun telah meninggal lebih dari 20 tahun yang lalu. Mereka meninggal ketika aku masih kanak-kanak, ketika aku belum menginjakkan kaki di bangku sekolah. Anak keempat adalah seorang perempuan, sekarang masih berada di Timor Leste. Ia membantu orang tua berdagang barang dagangan seperti sembako, perlatan lain dan buah-buahan. Dagangan ini adalah hasil dari kebun kami yang kami bawa ke kota, dan ada beberapa tambahan dari warga di sekitar rumah, tempat kami tinggal. Anak yang kelima adalah laki-laki dan masih kelas lima SD. Uniknya usianya sudah 20 tahun. Bisa pembaca bayangkan jika anak SD seusia dia bagaimana postur tubuh, sikap, tingkah laku dan gaya berbicaranya. Namun, ini semua tidak menyurutkan niatnya untuk tetap sekolah. Keinginannya yang sangat kuat, hingga tak mengikis semangatnya untuk belajar. Satu hal lagi, kini ia satu kelas dengan adikku yang kelas lima yaitu adik yang ketujuh. Sayangnya, semangat yang ia miliki tidak didukung oleh kemampuan fisiknya yang memadai. Pendengarannya agak sedikit terganggu, sehingga ia sulit untuk mendengar apa yang orang-orang katakan, khususnya bila berada pada jarak lebih dari dua meter. Adik yang keenam adalah seorang perempuan, ia putus sekolah karena usianya yang sudah 18 tahun. Ia merasa malu karena usianya sudah dewasa namun masih kelas tiga SD. Anak ketujuh juga perempuan dan masih kelas lima SD. Mungkin karena latar belakang orang tua kami yang sama sekali tidak pernah memperoleh pendidikan formal, sehingga kami semua disekolahkan pada usia-usia yang bisa dibilang sudah cukup besar. Budaya di tempat tinggalku agak sedikit berbeda dengan daerah-daerah yang lain. Di sana, laki-laki dan perempuan hampir tidak memiliki perbedaan yang signifikan, khususnya dalam hal melakukan pekerjaan. Inilah yang dilakukan oleh adik-adik perempuanku. Meskipun perempuan, mereka sudah terbiasa memanjat pohon pinang dan pohon kelapa di kebun. Pekerjaan yang sudah selayaknya tidak mereka lakukan, malah mereka lakukan dengan baik. Ini juga dilakukan demi membantu keluarga karena kami bisa dibilang keluarga besar, sehingga kebutuhan yang kami butuhkan sehari-hari juga cukup besar. Beginilah latar belakang kehidupan sehari-hari keluargaku. Agar tidak terlalu berpanjang lebar, maka aku akan beralih ke cerita pribadiku, supaya para pembaca tidak bosan mendengar ceritaku ini. Dahulu aku sekolah SD -kelas satu sampai kelas lima SD-, sama seperti anak kebanyakan di daerahku, aku selalu membantu orang tua setelah pulang sekolah. Jika anak-anak di kota setelah pulang sekolah mereka bisa beristirahat kemudian bermain, tidak dengan kami, kami haru bekerja membantu orang tua setiap hari. Ini tentu karena adanya kebutuhan ekonomi yang mendesak bagi keluarga kami, karena seperti yang telah kuutarakan sebelumnya bahwa keluarga kami adalah keluarga besar, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aku tinggal di dekat mesjid, hanya beberapa meter saja jaraknya dari rumah ke mesjid. Karena dekat dengan mesjid, tentunya pembaca bisa menebak bahwa sudah pasti teman-temanku adalah seorang muslim. Ya, memang benar. Mereka semua beragama Islam. Anehnya selain rumah kami dekat dengan mesjid, rumah kami juga dekat dengan gereja, hanya beberapa meter saja dari rumah. Mungkin entah ini sebuah hidayah atau apa, aku malah lebih sering bermain ke mesjid dari pada ke gereja. Setiap kebaktian pada hari minggu, aku juga jarang sekali mengikutinya, aku lebih sering berada di rumah atau bermain dengan teman-teman muslim di lingkungan kami. Terkadang, bila tiba waktunya kumandang takbir dikumandangkan pada malam akhir ramadhan, aku selalu mengikutinya dan tidak jarang pula aku melakukan takbir di rumah. Untungnya ayah dan ibu tidak pernah melarangku. Mungkin karena sudah sifat mereka yang baik dan lembut kepada kami, mereka tidak pernah memaksakan apa pun kepada kami. Malah sebaliknya, mereka berdua justru mengatakan, "Orlando tidak apa-apa jika kamu ingin masuk ke agama Islam", kata mereka. Aku sungguh kaget, namun tetap saja aku yang pada waktu itu masih kanak-kanak belum paham benar tentang apa sesungguhnya maksud mereka. Aku sekolah di SD Negeri Alawa Bawa. Nama ini masih sama sebelum terjadi pergolakan pada tahun 1999, sebelum Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia dan berganti nama menjadi Timor Leste. Selama lima tahun aku sekolah di sana, dan saat itu aku sudah menduduki kelas lima SD. Hingga terjadilah gejolak yang sangat luar biasa pada tahun 1999, ketika aku baru mulai duduk di kelas enam. Ceritanya begini, ketika itu, aku sedang berlibur ke kota karena waktu itu memang sedang liburan sekolah, jadi aku pergi berlibur bersama teman-teman ke kota. Tiba-tiba banyak sekali terjadi kerusuhan di mana-mana. Banyak terjadi pembunuhan antara pasukan TNI dengan militan pejuang Timor Leste merdeka. Kerusakan dan koban jiwa berjatuhan di sana-sini. Suasana sangat mencekam, tidak ada yang berani keluar rumah ketika itu. Aku sendiri dalam keadaan yang sangat bingung. Pembaca mungkin bisa membayangkan bagaimana keadaan anak seusiaku yang harus terpisah dari kedua orang tua karena tragedi ini. Sungguh sangat mengerikan, kebakaran, kerusakan, pembunuhan, suara letusan senjata ada di sana-sini. Untunglah ada seorang ustadz yang menolongku waktu itu. Namanya ustadz Zainuddin Halim. Beliau adalah seorang tokoh bekas penganut Kristen yang terkenal di daerahnya. Aku dan yang lain yang senasib denganku pada saat tragedi 1999 itu terjadi, di bawa ke sebuah kamp pengungsian, di sebuah wilayah yang terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena kejadian itu, aku terpaksa berhenti sekolah, selain karena situasi yang sangat mencekam, aku juga terpisah dari orang tua. Setahun kemudian, aku disekolahkan oleh ustadz Zainuddin di Kupang, tepatnya di SD Inpres Naibonat di Kupang Timur. Watu itu aku masih berada di kamp pengungsian. Suasana yang sangat tidak nyaman dan jauh dari kondisi layak yang harus aku dan para pengungsi lain alami. Namun, tidak ada pilihan, ini tentu lebih baik dari pada kami harus menanggung akibat dari peperangan yang terjadi antara pasukan TNI dengan para pejuang militant Timor Leste. Aku dan teman-teman belajar di kamp, meski aku sudah sekolah di SD di daerah Kupang, pulangnya aku tetap tidak bisa bermain layaknya anak-anak sekarang karena kondisi yang tidak aman pada waktu itu. Kami tetap belajar, sambil melihat berbagai macam bantuan datang silih berganti di kamp pengunsian kami. Di sela-sela itulah, ketika kekacauan mulai mereda, aku memeluk Islam. Ini terjadi tepat ketika tiga hari sebelum aku ikut melaksanakan ujuian Ebtanas, setingkat ujian nasional pada waktu itu. Tepat pada hari Jumat, aku masuk Islam. Aku diislamkan di salah satu mesjid kecil di daerah kupang. Karena aku diislamkan setelah salat Jumat, maka sudah barang tentu aku mengikuti salat Jumat tersebut. Tidak hanya sekali aku salah melakukan rakaat salat ketika itu. Ketika orang lain sedang rukuk aku langsung sujud, ketika orang sedang sujud aku justri berdiri. Hingga ustadz Zainuddin berbicara kepada aku, "ikuti gerakan orang, jangan mendahului!", ucapnya kepadaku. Adalah sebuah keajaiban. Aku yang kesehariannya bermain di mesjid bersama dengan teman-temanku tidak pernah merasakan rasa takut dan hati bergetar yang sangat luar biasa ketika hendak berpindah agama ke agama Islam. Ketika mengambil air wudhu saja aku sudah gemetaran, seperti memiliki rasa takut yang amat dahsyat. Bak ingin berhadapan dengan seorang penguasa. Namun, aku tetap merasakan kedamaian ketika masuk ke dalam mesjid. Meski aku dalam keadaan yang gemetaran, tatapi aku sangat merasa tenang ketika masuk ke dalam mesjid. Suasana yang kurasakan amatlah berbeda dengan suasana yang aku rasakan selama ini di gereja. Nyaman, tidak ada suara berisik, suara musik, nyanyian, posisi yang terpisah antara permpuan dan laki-laki, mengenakan pakaian yang sopan dan santun, tidak memakan makanan yang aneh-aneh, seperti darah tuhan dalam sebutan umat Kristen dan lainnya. Ketika selesai menunaikan salat Jumat barulah aku disyahadatkan. Ustadz yang mensyahadatkan aku terheran-heran, kenapa aku bisa sedemikian lancer mengucapkan kalimat syahadat? Padahal aku baru saja menjadi mu'allaf. Ini semua karena hidayah yang diberikan Allah kepadaku dan karena aku telah biasa bermain di mesjid sejak aku masih berada di Timor Leste. Aku benar-benar ikhlas masuk ke agama Islam, sehingga aku tidak mengalami kesulitan ketika melalui proses pensyahadatan tersebut, meski pada awalnya aku sangat gemetar ketika melakukan wudhu dan ikut serta dengan yang lain melakukan salat jumat. Mungkin karena aku ketika itu belum menjadi seorang muslim dan mengucapkan kalimat syahadat. Keluargaku yang sudah sejak awal mengikhlaskan aku, tetap tidak memarahiku. Ayah dan ibuku menyerahkan semuanya kepadaku. Mereka tidak memaksaku sama sekali untuk kembali kepada agama lamaku dan mengikuti keyakinan mereka. Hanya sebagian dari keluarga besar kami yang tidak suka, itu pun karena sangat fanatik dengan apa yang telah mereka yakini selama ini. Mereka sempat menghasut keluargaku agar membawaku kembali pulang ke Timor Leste untuk kembali mendapatkan bimbingan sehingga dapat memurtadkan aku dan kembali ke agama Kristen. Namun, Allah telah melindungiku, sehingga aku tidak kembali ke Timor Leste. Inilah kondisi yang bagiku merupakan sebuah pengalaman yang perlu aku bagikan kepada para pembaca. Cerita lain yang ingin kusampaikan adalah waktu itu, saat aku sedang berada di kelas, guru agama Kristen datang dan masuk ke kelas kami. Ia berkata, "bagi kalian yang beragama sekalin Kristen, silahkan keluar dari dalam kelas". Keluarlah teman-tamanku yang beragama Hindu dan Islam, tak elak karena aku juga beragama Islam maka aku juga keluar dari dalam ruangan. Guru dan teman temanku semua kaget melihatku keluar dari ruangan. Kemudia salah satu dari temanku yang beragama Kristen memanggilku. "Orlando...Orlando, kamu dipangil bu guru ke kelas", aku pun pergi menuruti panggilan ibu guru tersebut. Kemudian ibu guru menanyakan kepadaku, "kenapa kamu keluar dari ruangan?", tanyanya kepadaku. Aku menjawab, "Bu guru, aku sudah menjadi seorang Muslim, aku sudah masuk Islam". Sontak bu guru dan teman-temanku kaget mendegar perkataanku itu. Karena bu guru menghormati pilihanku ini maka aku pun dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan karena saat itu sedang akan dilangsungkan pelajaran agama Kristen. (Bersambung: Ozi)