Kisah Muallaf

Muhammad Orlando: Mutiara dari Timor Leste II

Dikirim tanggal 28 Jun 2014 03.57.38 1.087 Kali dibaca

Muhammad Orlando: Mutiara dari Timor Leste II
Oleh: Ozi Setiadi Mulai saat itu aku selalu mendapat ejekan dari teman-temanku. Mereka menghinaku dengan ucapan-ucapan yang sangat buruk. Mereka mengetakan, mengapa aku masuk Islam, bukankah agama Islam itu adalah agama yang sangat buruk? Umatnya tidak diperbolehkan memakan makanan yang enak-enak seperti babgi dan anjing. Mereka harus disunat, dan cara beribadahnya juga kotor haru mencium tanah atau semen. Padahal tanah dan semen itu sehari-harinya selalu kita injak-injak, kata mereka kepadaku. Aku yang masih kecil itu tentu saja merasa bingung. Ejekan yang mereka lontarkan kepadaku membuatku ragu mengenai hakikat kebenaran agama itu sebenarnya seperti apa? Kenapa satu dengan yang lain berbeda? Yang satu disunat sedangkan yang lain tidak, yang satu boleh memakan apa pun namun yang lain tidak. Meski ejekan itu sangat menyakitkan dan mebuatku pilu, namun aku tetap pada pendirianku dalam memeluk Islam. Sekembalinya dari sekolah aku langsung bertanya kepada uztadz yang mengajarkanku tentang Islam. Kebetulan yang mengajarkan aku salat dan mengaji pada waktu itu adalah ustadz ali akbar. Beliaulah yang mengajarkan kapadaku mengaji dan salat setiap hari. Ustadz Ali Akbar mejawab dan menjelaskan prihal apa yang ku tanyakan tadi. Katanya, babi adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang kotor dan jorok. Ia tinggal dikubangan-kubangan yang tidak jarang kubangan itu berisi kotorannya sendiri. Apabila tidak ada makanan yang bisa dimakannya, babi tidak jarang memakan kotorannya sendiri dan tidak jarang pula memakan tanah. Selain daging babi juga mengandung cacing pita di dalamnya yang dapat membuat manusia mengidap penyakit. Perihal sunat, ustadz juga menjelaskan bahwa sesungguhnya Yesus juga disunat. Sebagai umat yang taat dan menganggap Yesus sebagai Tuhan, seharusnya umat Kristen juga melakukan sunat, namun mereka justru tidak melakukan. Ini berarti bahwa mereka sendiri tidak taat kepada Tuhannya. Sedangkan mengenai cara beribadah kepada Allah dengan bersujud mencium tanah atau semen, ustadz menjelaskan bahwa sesunggungnya kita semua berasal dari tanah dan nantinya akan kembali ke tanah. Sujud juga mengandung makna bahwa sebagai ciptaa-Nya kita harus menyembah kepada-Nya, tidak menduakan-Nya dan meyakini kebesaran-Nya. Sehebat apa pun kita, kita harus tunduk kepada Allah. Penjelasan panjang lebar yang diberikan oleh ustadz Ali tersebut, membuatku semakin kukuh dalam mendalami ajaran Islam. Aku semakin semangat mengaji dan mempelajari ayat-ayat tentang keistimewaan Islam. Inilah yang nantinya kusampaikan kepada teman-tamanku ketika mereka kembali bertanya tentang prihal mengapa aku masuk Islam dan mengapa Islam mengajarkan dan melarang apa yang selama mereka anggap sebagai nikmat beragama Kristen. Adanya semangat ini membuat aku semakin cepat dalam belajar. Baru dua pecan aku belajar mengaji, aku sudah menghatamkan iqro' dua. Subhanallah, sungguh anugerah yang Allah berikan kepadaku amatlah besar. Semoga Allah juga memberikan anugerah kepada keluargaku yang kini masih Kristen dan kepada umat Muslim semuanya. Islam benar-benar mengajarkan kita berbagai kita berbagai kebaikan. Alhamdululillah, aku selalu bergaul dengan orang-orang yang baik ketika berada di pengungsian. Berbeda dengan ketika aku masih berada di Timor Leste, orang-orang Kristen di sekitar rumah kami sangat berbeda dari umat Islam. Dari mulai cara berbicara, bergaul, berbuat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh, ketika hendak melakukan salat, kita umat Islam pasti diharuskan untuk berpakaian yang tidak hanya bersih tetapi juga suci. Umat Kristen di daerah tempat tinggal kami berbeda, mereka berpakaian yang seperti tidak layak. Bukan karena tidak rapi, tapi karena tidak sopan. Pakaian perempuan mengumbar aurat, amatlah tidak sopan bila kita ingin menghadap kepada Tuhan tapi  berpakaian yang demikian. Belum lagi jika berada di dalam gereja. Laki-laki dan perempuan duduk saling bersebelahan, maka sudah dapat dipastikan jika ada dua orang lajang duduk saling berdekatan yang mana seorang perempuan mengenakan pakaian yang mengumbar aurat pastilah malah bukan menjadi ibadah justru menjadi ajang untuk berpacaran. Yang lebih mengherankan lagi, dahulu di daerah kami laki-laki, ketika ia selesai buang air besar, ia tidak mencucinya dengan air tetapi hanya dengan dedaunan. Sungguh sangat kotor, dan menjijikan. Anehnya mereka langsung berangkat ke gereja tidak mandi atau membersihkan bekas kotoran mereka. Inikah adap beribadah dalam ajaran mereka. Berbeda sekali dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan kesucian, terutama ketika hendak berhadapan dengan Allah. Mulai dari cara berpakaian, berwudhu, dan tata cara beribadah, Islam mengajarkan kebaikan dan kesucian dalam berbagai hal. Pandangan mereka juga berbada dengan kita. Mereka bepandangan bahwa hidup ini adalah sebuah kenikmatan, sehingga harus dinikmati. Mereka beranggapan bahwa semua umat yang memeluk Kristen pasti akan masuk surge, sehingga tidak boleh melewatkan apa pun yang enak-enak dalam kehidupan ini. Mereka berjudi, berbuat maksiat, dan memakan-makanan yang haram seenak hati mereka tanpa beban sedikitpun pada diri mereka. Anak-anak di sana juga memiliki sifat yang tidak baik. Mereka tidak segan-segan membajak bus kota ketika hendak pulang sekolah. Ketika bus tersebut tidak mau berhenti dan mengangkut mereka, maka sudah dipastika mereka akan menghancurkan bus tersebut dengan cara melemparinya dengan batu-batu yang ada di tepi jalan raya. Na'udzubillah tsumma na'uzubillah. Setelah menyelesaikan studi di sekolah dasar, aku mendapat kesempatan untuk meneruskan sekolah di SMP Negeri VI, Naibonat, Kupang TImur. Mulai menginjak SMP itulah aku mulai rajin beribadah, tidak pernah meninggalkan salat dan puasa ramadhan. Ini kulakukan karena aku sangat takut mendapat azab dari Allah swt. Perlahan-demi perlahan, aku mulai mengaji dengan baik. Selain aku belajar dengan guru yang mengajariku belajar membaca Al-Quran, aku juga mendapatkan pelajaran agama Islam di sekolah. Sepulang sekolah aku selalu mengikuti ceramah yang diadakan setiap satu minggu sekali, berikut dengan belajar bagaimana tata cara membaca Al-Quran dengan baik. Aku belajar berikut dengan keenam orang temanku. Belum begitu lama aku melanjutkan studi di SMP tersebut, ada sebuah kabar yang di pengungsian yang mengatakan bahwa siapa saja yang ingin belajar mejadi santri di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, maka akan mendapatkan fasilitas pemondokan dan fasilitas lain secara gratis, terkecuali ongkos transportasi dengan menggunakan kapal laut. Aku yang baru mendengarkan berita tersebut sangat tertarik. Aku langsung berpamitan dengan ustadz Zainuddi yang sekaligus orang tua angkatku. Biarpun beliau sangat galak, tetapi beliau juga sangat baik. Buktinya beliau merawat kami selama dalam pengungsian. Tepat tanggal 14 Juli 2001, aku bersama teman-teman yang lain berangkat menuju Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang ada di Magetan, Jawa Timur.  Aku sempat kecewa pada hari pertama ketika menginjakkan kaki di pesantren tersebut. Dahuu dalam bayanganku, pesantren itu sangat baik, enak, rapih dan penuh dengan nuansa religi. Namun, ini semua berbeda seperti apa yang ada dalam benakku. Pesantren ini adalah pesantren tertua di Jawa Timur, maka sudah dapat dipastikan bahwa bangunan pesantren tersebut juga pasti bangunan tua. Fasilitasnya juga ala kadarnya, yang membuatku semangat di pesantren tersebut hanyalah nuansa religi yang ada di dalamnya. Meski pun kami semua dalam keterbatasan, namun karena kami dekat dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah, maka kami harus tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan-Nya. Alhamdullliah, aku semakin giat belajar mengaji, selain berlajar membacakan doa-doa lainnya. Aku yang dahulu sekolah di SMP di Kupang, secara otomatis tidak lagi bersekolah di sana. Aku tinggal di pesantren yang juga sekaligus tempatku bersekolah, yakni sekolah di MTS Al-Ikhlas. Dari situlah aku belajar formal, mulai dari kelas 2 aku belajar, dari tahun 2001 sampai tahun 2007, waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan studi, tapi pembaca jangan kaget dahulu karena dalam kurun waktu tersebut aku sudah menyelesaikan studi hingga tingkat aliyah. Mengenai pemahamanku tentang Islam, mungkin karena kondisi kami yang pada waktu itu berada di kamp pengungsian ditambah lagi dengan kondisi mencekam dan ejekan-ejekan dari teman-temanku, aku mulai memahami Islam dengan cepat. Para ustadz yang mengajari aku di pesantren tidak ada yang komplain dengan sikap, perbuatan, dan pemahamanku. Mungkin karena sejak kecila aku sudah terbiasa dengan orang-orang Muslim, selain juga karena keluargaku juga termasuk orang yang taat beribadah, sehingga aku mudah memahami tentang Islam. Sewaktu berada di pesantren, aku merasa Allah benar-benar membimbingku. Dalam waktu yang singkat aku telah berhasil menghafal dua puluh surat juz ‘amma, dan itu aku hafal ketika aku belum bisa membaca Al-Quran. Sungguh sebuah anugerha yag diberikan Allah kepadaku sangat luar biasa, hingga aku seperti tidak ada hambatan sedikitpun melaluinya. Karena sudah berada di pondok, aku pun mulai belajar bagaimana cara melakukan salat dengan benar dan mulai untuk mempelajari hukum-hukum lainnya. Ini kulakukan tentu agar pemahamanku tentang Islam bisa lebih baik lagi sehingga aku tidak hanya menjadi umat Islam yang hanya dalam bentuk formalitasnya saja tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru jauh dari ajaran Islam. Mulai dari sejak aku di datangkan ke pondok pesantren, hingga beberapa tahun berikutnya, ustadz Zainuddin yang juga orang tua angkatku, terus mengirim lima belas orang anak setiap tahunnya. Ini dilakukannya selama lebih dari lima tahun, hingga total anak yang dikirim beliau ke pesantren mencapai lebih dari lima puluh orang. Karena aku adalah termasuk orang pertama yang dikirim beliau ke sini, maka akulah yang bertanggung jawab dan mengajari mereka tentang Islam. Beruntung aku telah mempelajari Islam dengan baik sebelum aku menjadi seorang guru. Ilmu pengetahuanku semakin bertambah. Selain aku belajar mengenai Islam, aku juga mengajarkan tentang Islam, sehingga aku termasuk beruntung, karena sebaik-baik belajar adalah mengajar. Ini membuatku semakin menguasai ilmu yang selam ini kuajarkan kepada rekan-rekan. Tidak hanya mengenai Al-Quran, aku juga mulai mempelajari hadis  dan hal-hal lainnya. Pembaca pasti bisabertanya-tanya dengan kapasitasku yang seperti ini, dan pesantren kami yang tertua dan sangat sederhana ini, berapakah gaji yang kuperoleh setiap bulan mengajarkan kebaikan Islam kepada yang lain? Ya, aku sama sekali tidak mendapatkan sepeser pun dari jerih payahku selama mengajar. Biarlah Allah yang akan membalas amal perbuatanku kelak, aku hanya berfikir bagaimana agar aku dapat mejadi orang yang bermanfaat bagi sesama umat Muslim, dan ikhlas adalah kunci pengabdianku. Setelah aku menjadi alumni dan telah mengabdi di pesantren selama satu tahun, barulah aku mendapatkan ijazah. Dengan modal ijazah itulah aku mulai membantu ustadz untuk mengajar. Aku dan teman-teman seangkatanku termasuk orang-orang yang baik dan tahan terhadap penderitaan. Ini terbukti karena dari sejak kami datang dan belajar di pesantren, jumlah kami tidak pernah berkurang, berbeda dengan angkatan yang lain, semakin lama semakin sedikit. Setelah selesai menempuh studiku, aku kembali ke NTT. Di sanalah aku melakukan pengabdian kepada masyarakat, agar mereka yang belum mengetahui mengenai Islam dengan baik, dapat belajar kepadaku. Karena pengalaman mengajar sejak kelas satu aliyah yang sudah ku lakoni, aku tidak mengalami kesulitan saat mengajar di NTT. Ditambah lagi dulu aku termasuk sosok yang rajin yang mengajar tidak hanya di satu tempat saja, di Taman Pendidikan AL-Quran (TPA), dari mesjid, pesantren dan tempat-tempat lain. Pembaca jangan dahulu membayangkan aku akan memperoleh penghasilan yang tinggi dari upayaku ini. Sebaliknya, untuk memenuhi kebutuhanku dulu, tak jarang aku harus berjalan kaki berkilo-kilo meter hanya untuk mencari barang rongsokan. Ini kulakukan tentu untuk medapat tambahan biaya hidup karena gaji yang kuterima dari hasil mengajar tersebut amatlah tidak mencukupi, namun sebagai umat dan hamba Allah sudah sepantasnya kita bersyukur. Di NTT inilah aku mulai mengenal ustadz Syamsul Arifin Nababan yang juga dikenal dengan ustadz Nababan. Aku kenal beliau melalui debat yang ada di kaset debat yang sengaja direkam pada saat itu. Judulnya Mu'allaf Versus Murtadin. Perdebatan yang menurutku sangat luar biasa dan dapat mengugurkan keyakinan umat Kristen jika mereka benar-benar mempelajarinya. Mulai dari situlah aku mengenal beliau. Selain itu, melihat kelihaian beliau dalam menyampaikan konsep-konsep Kristen yang telah mengalami penyimpangan, keimananku semakin kuat. Aku mulai berfikir bahwa sesungguhnya perbedaan Islam dengan Kristen seperti langit dan bumi, bahkan tidak bisa diukur. Aku mencoba membuktikan dengan membandingkan akhlak orang-orang Kristen yang dahulu pernah kulihat dengan orang-orang Muslim. Sungguh sangat jauh berbeda, dari pola hidup kesehariannya seperti cara mereka makan, berbicara, berpakaian dan praktek kesehariannya sangat jauh berbeda dengan apa yang ditampilkan umat Muslim. Bila umat Muslim jika ingin melakukan salat baik di rumah maupun di masjid harus terlebih dahulu melakukan wudhu dan mengenakan pakaian yang menutup aurat, berbeda dengan umat Kristen, mereka dapat dengan sesuka hati masuk ke dalam gereja dan mengenakan pakaian yang sesuka hati mereka. Tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan, saling berbicara ketika beribadah. Lalu inikah cara mereka beribadah kepada Tuhan? Sangat jauh sekali perbedaannya. Islam benar-benar mengajarkan cara yang baik ketika kita hendak menghadap kepada sang pencipta. Sungguh Islam adalah agama yang sangat mulia karena mengajarkan kemualiaan kepada setiap penganutnya. Beruntung aku mengenal ustadz Nababan, meski aku mengenal beliau melalui video debatnya itu. Sewaktu di NTT, ada seorang ustadz yang mengajakku ke Jakarta dan menawariku untuk menempuh studi S1 di LIPIA, salah satu lembaga pendidikan Islam Arab yang ada di Jakarta Pusat. Aku pun dengan senang hati mengiyakan ajakan ustadz tersebut, meski pada awalnya aku kebingungan dalam perkuliahan karena aku sama sekali tidak dapat berbahasa arab dengan baik, untunglah dahulu aku sempat mondok di pesantren, jadi aku sedikit tidak asing dengan bahasa Arab di LIPIA, aku benar-benar beruntung. Aku bertemu dengan tokoh yang sangat aku idolakan pada video debat mu'allaf versus murtadin, yakni ustadz Nababan. Waktu itu, aku sedang menduduki semester tiga, yang mana walaupun aku sudah semester tiga tersebut, aku masih belum bisa memahami dengan baik bahasa Arab tersebut. Beruntunglah aku bertemu beliau dan beliau mulai membantuku sedikit demi sedikit untuk memahami bahasa Arab. Singkat cerita, kami pun berkenalan dengan baik, hingga pada suatu saat di tahun 2008, ustadz Nababan mendirikan sebuah pondok pesantren yang khusus membina para santri-santri mu'allaf. Aku pun di ajak beliau untuk ikut tinggal di sana. Kini aku sudah menjadi santri di Pesantren Pembinaan Mu'allaf Yayasan AN-Naba' Center bersama para santri lainnya mendalami Islam dan kitab sucinya. Berbicara mengenai kitab suci, aku memang sedikit kurang paham dengan kitab suci agama lamaku, maklumlah aku masih sangat kecil waktu itu, sehingga belum paham benar mengenai Bibel. Namun, aku akan sedikit menjelaskan bahwa sesungguhnya Bibel itu bukanlah kitab suci dari Tuhan tapi adalah hasil dari rekayasa manusia. Ini terlihat dari kandungan dari Bibel itu sendiri, di dalamnya sangat jauh dari nilai-nilai akhlakul karimah. Maka, saranku bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, jika anda adalah seorang muslim, yakinlah bahwa anda memiliki pedoman hidup yang benar yaitu Islam. Jika anda seorang yang menganut agama Kristen, maka mulailah merenungi isi kandungan Al-Kitab, maka anda akan menemukan banyak hal yang sangat kontradiktif di dalamnya. Jika demikian, masihkah pantas anda meyakini kitab tersebut? Yesus tidak pernah mengaku sebagai Tuhan, jika ia adalah Tuhan mengapa pada saat proses penyaliban ia meminta pertolongan kepada Tuhan? Kini, sudah tidak ada lagi sisa-sisa keyakinan tentang Kristen dalam diriku. Aku sudah memantapkan diri untuk memilih Islam sebagai agamaku. Hubungan baik yang salami ini ku bina dengan para santri lain di An-Naba' Center dan para guru, cukup memberikan pemahaman bagiku bahwa Islam itu sangat indah, khusunya bagi para mu'allaf seperti kami. Harapanku, umat Islam di daerah asalku dalam bangkit dan semakin berkembang, tidak hanya memikirkan materi dan kehidupan duniawi semata sehingga dapat bermanfaat bagi Islam dan umat Islam. Sebelum aku mengakhiri cerita ini, ada yang ingin kusampaikan kepada para pembaca bahwa beberapa waktu lalu aku telah kembali ke daerah asalku yaitu Timor Leste. Daerah yang sudah kutinggalkan selama lebih dari tiga belas tehun itu, ternyata mengalami perkembangan yang cukup baik dari sisi perkembangan Islam. Di sana mulai banyak umat-umat lokal yang masuk Islam dan mempelajari Islam. Ini terjadi lewat proses akulturasi dan pernikahan yang dilakukan oleh umat muslim dengan penduduk setempat. Semoga Islam bisa semakin Berjaya, khususnya di daerah tempat tinggalku sehingga kita semua dapat merasakan keindahan Islam. Terakhir harapanku, semoga aku bisa meraih cita-citaku untuk menjadi seorang dai dan dosen, menjadi seorang pedakwah yang bisa membagikan ilmu kepada semua orang. Menyelesaikan studiku di LIPIA dan Al Hikmah, dan yang paling utama adalah aku bisa mengislamkan ayah-ibu dan keluargaku, sebelum ajal menjemputku.