Kisah Muallaf

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam

Dikirim tanggal 5 Mei 2015 11.02.38 165 Kali dibaca

Suasana yang begitu indah, sejuk dan jauh dari keramaian kota, aku menulis sebuah cerita yang mungkin dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca atau mungkin hanya sekedar untuk berbagi pengalaman melalui “curhatan hati” yang aku lakukan ini. Sebelum aku menceritakan mengenai kisah perjalananku dalam menemukan Islam, perkenankanlah aku memperkenalkan diri kepada pembaca. Namaku adalah Saidah Raoulie Boru Parapat. Mendengar namanya saja mungkin pembaca sudah dapat mengetahui dari mana aku berasal. Ya! Aku berasal dari Tanah Batak yang terletak di wilayah Barat Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara.

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam II

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam II

Dikirim tanggal 11 Mei 2015 09.39.08 148 Kali dibaca

Ketika itu seperti biasa kami menjalani hari-hari tanpa kekhawatiran, kegelisahan, dan kecurigaan. Semuanya berjalan normal layaknya keluarga kecil yang baru membina rumah tangga. Suamiku bersikap lembut kepadaku dan anak-anak. Ia pun berangkat bekerja sebagai seorang kuli bangunan yang berangkat pagi, pulang petang, tidak ada hal yang mencurigakan terjadi padanya. Ini berjalan selama satu bulan pasca persalinanku yang melahirkan buah hati kedua  kami.

 SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam III

SAIDAH RAOLIE: Aku dan anakku yakin akan kebenaran Islam III

Dikirim tanggal 15 Mei 2015 02.47.02 179 Kali dibaca

Tak terasa waktu begitu cepat beralalu. Saat ku hitung hari di kalender, ternyata aku sudah hampir tiga bulan tinggal di Jakarta. Setelah Aku memutuskan memeluk Islam, kondisiku dan anak-anak memang sedang labil. Apalagi karena aku membawa serta dua buah hati pergi ke Jakarta tidak dalam keadaan sehat. Anak keduaku sakit. Waktu itu, saat berangkat ke Jakarta hanya dalam keadaan demam. Aku pikir itu hanya demam biasa, tapi sudah hampir tiga bulan di Jakarta demam itu tidak sembuh-sembuh. Bang Nababan pun sudah membantuku membawa si kecil, anak keduaku, berobat ke rumah sakit Sari Asih yang ada di Ciputat pada bulan pertama kedatangan kami di Jakarta, namun hasil cek laboratorium menunjukkan bahwa anakku tidak terjangkit penyakit yang berbahaya, hanya demam biasa. Akan tetapi, beberapa bulan berselang hingga penyakitnya tidak kunjung sembuh dan kami membawanya lagi ke rumah sakit yang sama, ternyata anakku terjangkit penyakit TBC akut.

Ahmad Hidayatullah: Aku Tiong Hoa dan Aku Muslim

Dikirim tanggal 11 Jul 2015 11.21.15 159 Kali dibaca

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh… Selamat pagi saya ucapkan kepada para pembaca. Saya tahu, para pembaca pasti bertanya-tanya mengapa saya mengucapkan selamat pagi, sedangkan mungkin saja pembaca sedang tidak membaca cerita saya ini pada pagi hari. Namun, saya tetap mengucapkan selamat pagi karena saya menulis cerita ini tepat setelah saya selesai melakukan salat subuh dan membaca al-ma’tsurat dan telah mengulang sedikit hafalan Al-Quran. Selain itu, pagi hari adalah simbol bagi sebuah semangat yang mulai naik meninggi, sehingga banyak para motivator selalu menyapa audience-nya dengan ucapan selamat pagi! “Semoga saja saya bisa menjadi motivator kelak. Hehehehe… J tolong di-amin-kan ya para pembaca”, amin.

Ahmad Hidayatullah: Aku Tiong Hoa dan Aku Muslim (Habis)

Dikirim tanggal 13 Jul 2015 11.00.43 477 Kali dibaca

Tak sadar saya sempat menitihkan air mata ketika itu. Kalaulah boleh diibaratkan, beliau seperti air yang menyirami pohon kecil yang sudah kering bahkan sebentar lagi akan mati. Itulah saya. Rasa duka telah ditinggal oleh beliau pun saya tuangkan dalam sebuah doa. Meski saya sudah tahu bahwa saya masih berstatus sebagai seorang penganut Kristen ketika itu, namun saya tetap mendoakan beliau. Semoga saja Allah Swt., memberikan tempat yang terbaik baginya di syurga Allah, amin yaa rabbal ‘alamin. Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. (Q.S. At-Taubah [9]: 113)