Kisah Muallaf

Sekilas Batas: PERJALANAN ABDUL AZIZ LAIA DALAM MENEMUKAN ISLAM I

Dikirim tanggal 22 Okt 2012 04.56.47 376 Kali dibaca

Sekilas Batas: PERJALANAN ABDUL AZIZ LAIA DALAM MENEMUKAN ISLAM I
Oleh: Ozi Setiadi Abdul Aziz Laia, sosok pria sederhana yang berusia 32 tahun telah memeluk agama Islam sejak tahun 2012 silam. Bang Aziz, sebutan akrab yang disematkan kepada beliau oleh para santri pesantren Pembinaan Mu'allaf Yayasan-An Naba' Center, kini sedang menekuni studinya di dua universitas yang berbeda. Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah (STAI Al-Hikmah) adalah dua lembaga pendidikan yang dipilih untuk meningkatkan pengetahuan  keislaman pada dirinya. Aziz, dalam sebuah kesempatan menceritakan bagaimana awal mula ketertarikannya dengan agama Islam. Berawal dari bangku sekolah menengah pertama, Aziz dididik oleh seorang guru perempuan yang menurutnya sangat baik. Guru tersebut mengenakan kerudung dengan pakaian yang  menutup aurat hingga kakinya. Bagi Aziz, ini adalah sesuatu yang berbeda dengan penampilan guru lain yang menganut agama sama dengannya. Tutur katanya yang lembut, sopan dan santun, baik kepada siswa dan orang lain, sehingga memberikan rasa kekaguman tersendiri bagi Aziz. "Saya belum pernah menemukan orang seperti itu sebelumnya saat saya menempuh studi di sekolah dasar", tuturnya. Lianus Laia, nama sebelum ia mengucapkan syahadat, mengaku ada rasa ingin tahu yang mendalam tentang Islam ketika ia mulai masuk ke sekolah tingkat atas. Aziz yang dibesarkan di lingkungan Kristen tersebut semakin tertarik kepada Islam ketika ia mendengarkan tilawah Al-Quran yang diputar melalui Tape Recorder yang ada di masjid sekitar tempat tinggalnya. "Karena Islam di daerah tempat tinggal saya sangat minoritas, saya jarang mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Namun, setelah saya hijrah ke Kota Medan, saya sering mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut", tambahnya. Surat Maryam merupakan surat yang sering ia dengar saat pihak pengurus masjid memutar rekaman kaset tersebut. Ini adalah keistimewaan baginya, sehingga menimbulkan pertanyaan yang mendalam, ternyata Islam juga membicarakan mengenai nabi, dan mengapa Islam membicarakannya? Aziz mengungkapkan, rasa ingin tahu tersebut semakin meninggi ketika ia merasakan kegalauan yang lebih dalam saat ia mendengar rekaman tartil Alquran lengkap dengan terjemahannya dikumandangkan setiap menjelang Maghrib. Al-Anbiyaa' dan Maryam adalah dua surah yang paling sering diputar kala itu. "Aku sangat terheran-heran kala itu. Nabi-nabi yang disebutkan dalam Alquran sama persis dengan nabi-nabi yang pernah kami (umat Kristiani) pelajari," kata Aziz. Perlahan Aziz mulai mendengarkan khutbah Jumat yang sering dilakukan ketika umat Muslim melakukan salat Jumat. Berangkat dari situ, rasa ingin tahu semakin kuat, seakan berbanding lurus, kegiatan yang selama ini ia lakukan di gereja juga semakin jarang ia ikuti. Ditambah lagi, ketika ia melihat tata cara wudhu yang dilakukan oleh umat muslim yang hendak melakukan salat, "Itu seperti baptis dalam ajaran kami. Aku merasa Islam dekat dengan berbagai hal yang pernah kuketahui sebelumnya tentang agamaku", tambahnya. Meski Aziz belum mengucapkan kalimat syahadat kala itu, namun ia sudah aktif dalam kegiatan remaja masjid di masjid setempat, tak jarang pula ia mengikuti amalan-amalan umat muslim, seperti puasa dan lainnya. Entah apa yang mendorong Aziz untuk berbuat demikian. Pria kelahiran 25 Oktober 1980 ini seperti larut dalam arah hidayah Allah SWT. Setelah menyelesaikan studi tingkat kejuruannya, ia pergi merantau ke Riau dan bekerja selama lebih dari dua tahun. Dalam perantauannya, ia semakin dekat dan giat mendalami agama Islam. Rasa ingin tahu yang ia miliki mengantarkannya pada keinginan untuk membandingkan antara Islam dengan agama lamanya. Mulailah muncul keraguan dalam keyakinan Aziz terhadap agama lamanya, mengenai pengampunan dosa, "perayaan hari keagamaan mengapa harus dirayakan dengan mabuk-mabukan? Dan apakah itu tidak menimbulkan dosa? Lalu sedemikian mudahkan menebus dosa tersebut?" Pungkasnya. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah menganai nabi Muhammad SAW. dan bagaimana posisi Isya dan Maryam dalam Islam. "Aku bertanya tentang siapa Muhammad, bagaimana posisi Isa dan Maryam dalam Islam, dan mengapa babi haram dimakan", mulai pada pertanyaan yang ia anggap sebagai pertanyaan yang memerlukan jawaban segera guna menambah keyakinan pada dirinya. Pertanyaan ini dijawab dengan baik oleh orang yang kala itu berdiskusi dengan Aziz. Orang tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad juga disebutkan di dalam Injil, dan larangan memakan daging babi disebutkan dalam Alquran. Dan ia semakin takjub saat mengetahui bahwa Islam memiliki surah bernama Maryam, sementara agamanya tidak. Kebenaran inilah yang membuat Aziz tak sanggup untuk menolaknya. Tak ingin menunda lagi, Aziz meminta diislamkan saat itu juga, dua minggu setelah ia merayakan Natal. Meski tak disaksikan siapapun selain Allah dan kawannya, Lianus Laia pun resmi berhijrah dengan nama Abdul Aziz Laia. (Bersambung)