Kisah Muallaf

Syamsuddin: Hidayah menjatuhiku I

Dikirim tanggal 26 Jun 2014 07.14.30 398 Kali dibaca

Syamsuddin: Hidayah menjatuhiku I
Oleh: Ozi Setiadi Perkenankanlah aku menceritakan kisah hidupku kepada para pembaca, tanpa ada maksud apapun, hanya bermaksud untuk berbagi pengalaman pada para pembaca dengan harapan semoga kisah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sejak aku masih beragama Kristen hingga sekarang sudah masuk dan memeluk agama Islam, maka perkenankanlah aku untuk memulai ceritaku ini dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada para pembaca sekalian.             Namaku sebelum masuk Islam adalah Samsi. Nama inilah yang diberikan oleh kedua orang tuaku yang sangat menyayangiku. Namun, Allah Swt. kemudian mentakdirkan aku untuk berganti nama menjadi Syamsuddin. Subhanallah, ini semua diberikan oleh Allah kepadaku untuk menjalani kehidupan ini, dari segi nama sama-sama berawal dari huruf "S", mudah-mudahan huruf "S" ini memberikan manfaat bagiku, amin yaa rabbal ‘alamin.             Aku lahir di pedalaman Kalimantan Barat, di sebuah perkampungan kecil yang bernama kampung Lalang  pada tanggal 14 Desember 1996. Aku adalah anak ke lima dari lima bersaudara. Ya, pembaca pasti mengatakan bahwa aku adalah anak yang paling bontot, "benar seratus persen, sehingga masih ada sisa sembilan ratus persen agar genap seribu persen. Jadi, seratus persen buat para pembaca dan sembilan ratus persen buat saya. Hehehehehe...........", candaku. Sekarang usiaku baru lima belas tahun, usia yang sangat muda dalam upaya pencarian kebenaran. Namun, inilah jalan yang diberikan oleh Allah kepadaku, dan aku wajib bersyukur atas hidayah yang Allah berikan ini.             Agar pembaca tidak lama-lama penasaran tentang perjalanan kisahku, maka aku akan menyegerakan ceritaku ini. Awal aku berpindah agama karena hidayah yang diberikan oleh Allah kepada keluargaku. Aku sekeluarga memeluk Islam dan meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Swt. Kami meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah, Tuhan pemilik alam semesta ini. Sungguh kami sangat beruntung mendapatkan hidayah dan menjadi seorang Muslim. Malangnya, langkah kami ini tidak didukung oleh keluarga dari pihak ayah dan ibu. Mereka semua menentang kami. Keyakinan agama mereka sangat kuat, fanatik dan sudah tentu tidak akan menerima agama baru kami ini. Namun, inilah ujian yang diberikan oleh Allah kepada kami sekeluarga. Kami harus menghadapi semua ini tanpa ada seorang pun pemimpin yang memimpin kami sekeluarga. Ya, ayah sudah meninggal sejak usiaku baru sepuluh malam. Waktu itu aku masih menjadi bayi yang "merah", sangat kecil mungil dan menggemaskan. Bisa pembaca bayangkan bagaimana sosok bayi yang baru dilahirkan dan berusia sepuluh malam itu. Sangat lucu bukan? Tapi sayangnya, aku tidak pernah merasakan hangatnya pelukan ayahku, dari pertama kali aku di lahirkan ke dunia ini.  Sejak saat itulah ibu harus berjuang keras seorang diri untuk menghidupi kami berlima. Sungguh ini adalah sebuah perjuangan hidup yang harus kami lalui. Ibu seorang diri yang membesarkan kami berlima. Tanpa ada uluran tangan dari orang yang harusnya kami panggil ayah. Untungnya, Allah memberikan jalan dengan menguatkan kakak dan abangku untuk bisa membantu ibu mencari nafkah. Mereka membantu ibu dengan cara berjualan dan bekerja di ladang. Maklumlah, kami tinggal di pedalaman Kalimantan, kakak dan abangku bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi seperti orang-orang yang tinggal di perkotaan. Ibu dan ayah memang dahulu sewaktu menikah memiliki keyakinan yang sama. Mereka sama-sama beragama Kristen. Sedangkan pekerjaan ayah, aku tidak pernah tahu pasti apa pekerjaan ayahku karena aku dilahirkan sepuluh hari sebelum ayah meninggal. Tapi, menurut pengakuan ibu, ayah adalah seorang petani. Begitu pula dengan ibu. Ibu juga seorang petani yang tidak hanya mengurusi ladang, tetapi juga mengurusi kebun karet. Hari-harinya selalu disibukan dengan mengurusi kebun karet. Sejak ia masih muda hingga kini sudah berusia lanjut. Perjuangan ibu, bagiku sangat luar biasa. Ia tak kenal lelah dalam menghidupi kami berlima. Sungguh Allah menganugerahkan aku seorang ibu yang sangat luar biasa. Seorang ibu yang tak kenal lelah dalam membesarkan kami. Meski ibu bukan seorang yang berpendidikan, namun bagiku ibu adalah sosok pendidik yang tidak hanya mendidik tetapi memberikan kasih sayang yang sangat luar biasa kepada kami. Sampai ia merelakan hidupnya hanya untuk bekerja demi bisa menghidupi kami berlima. "Ibu, semoga Allah membalas jasa baikmu.....", doaku kepada Allah. Kondisi ekonomi yang memaksa kami untuk hidup sederhana dan apa adanya. Ini membuat kami tetap semangat karena ini adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada kami. Meski sulit, kebersamaan kami adalah hal yang terpenting bagi kami. Biarlah kami hidup dengan makanan dan tempat yang apa adanya yang penting Allah tidak memanggil salah satu dari kami lagi, seperti Allah memanggil ayahku. Kesulitan ini tidak lantas menjadikan kami menjadi umat yang kafir selamanya. Allah menyelamatkan kami dan meninggikan derajat kami dengan menjadikan kami seorang Muslim. Tepat pada tahun 2006, aku dan keluarga resmi menjadi seorang mu'allaf dan memeluk Islam. Meski usiaku masih sangat kecil pada waktu itu, namun aku tetap merasa yakin karena aku percaya kepada ibuku. Jika ia memeluk Islam, pastilah Islam agama yang baik karena ibuku juga adalah seorang yang sangat baik hatinya dalam merawat dan membesarkan kami. Waktu itu, aku masih sekolah di sekolah dasar. Tepatnya di SD Negeri 2 Tayan Hilir yang berada di Kota Kalimantan Barat. Sebuah sekolah yang di dalamnya jumlah siswa yang Muslim dan Kristen bisa dikatakan berimbang. Meski siswa sekolah tersebut juga menganut agama Kristen, tapi aku tidak pernah mengikuti keyakinan mereka lagi setelah aku memeluk Islam. Biarpun aku belum mengetahui maksud dari ayat dalam Al-Quran "bagimu agamamu dan bagiku agamaku", aku tetap meyakini bahwa apa yang sudah aku putuskan ini adalah jalan yang benar. Oleh sebab itu, aku tidak pernah mencampuri urusan agama teman-temanku. Aku tetap berhubungan baik dengan mereka, layaknya seorang anak yang suka bermain dan bercanda riang dengan teman-teman. Pembaca mungkin mulai bertanya kepadaku, apa sebabnya aku dan keluarga beramai-ramai memeluk agama Islam. Nah sekarang akan aku  ceritakan kronologi sehingga kami sekeluarga memeluk Islam. Begini ceritanya: Pada waktu itu ada seorang kakek yang mana beliau adalah seorang Muslim. Beliau adalah seorang yang sangat taat beragama. Rajin salat dan sangat baik berhubungan dengan penduduk sekitar. Kebetulah sang kakek ini tinggal di dekar rumah kami yang sangat sederhana. Tiap hari kakek ini selalu menyapa kami, tak bosan-bosannya ia mengucapkan assalamu'alaikum kepada kami. Meski beliau tahu bahwa kami bukanlah seorang Muslim pada waktu itu. Sangking rajinnya beliau bertegur sapa dengan kami sekeluarga, akhirnya aku dekat dengan beliau. Sering sekali aku menghabiskan waktuku di sore hari bersama beliau untuk bercanda dan membuat sesuatu yang bisa kami jadikan mainan. Maklumlah namanya juga masih anak-anak, tentu sangat senang bermain. Apalagi bisa bermain dengan seorang kakek, yang sudah kuanggap sebagai kakek sendiri. Begitu pula dengan sang kakek, beliau sudah menganggapku sebagai cucunya sendiri. Singkat cerita, karena kedekatanku dengan sang kakek, beliau mengajarkan aku banyak hal tentang Islam. Beliau mengajarkan bagaimana tata cara melakukan wudhu sebelum salat, dan apa sebenarnya makna wudhu itu. Perlahan beliau menjelaskannya satu persatu kepadaku. Berawal dari niat untuk melakukan wudhu karena Allah Swt. Katanya, "Allah adalah Tuhan semesta alam ini. Tidak ada yang mampu menandinginya. Pemilik alam beserta isinya, bahkan pemilik atas diri kita sendiri. Maka, sebagai hamba-Nya, sudah seharusnya kita berniat karena Dia dalam melakukan segala perbuatan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali." Pendeknya kata kakek dimulai dengan bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Setelah niat maka disunnahkan membaca bismillah sebagai bentuk penghambaan kepda Allah karena Dia-lah pemilik alam ini maka sudah seharusnya kita mengucapkan bismillah yang artinya "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang". Kakek kemudian melanjutkan, setelah kita membaca bismillah maka kita harus berkumur-kumur. Katanya, kumur-kumur itu bermakna dari apa yang selama ini kita makan maka harus dibersihkan. Mulut adalah alat pencernaan mekanis yang sangat dominan dalam proses memakan makanan. Makanan yang diharuskan dalam Islam adalah makanan yang tidak hanya halal tetapi juga yang baik. Dengan berkumur-kumur itu, kita diharapkan dapat menjaga diri, dan hanya memakan makanan yang halal lagi baik, kata kakek. Setelah berkumur-kumur barulah kita membersihkan hidung dan membasuh wajah. Ini bermakna ketiga indera kita berada tepat di wajah, mulai dari mulut, hidung dan mata ada di situ. Kakek malanjutkan perkataannya bahwa "menjaga diri dari memakan makanan yang tidak halal, perkataan yang tidak sopan, menggunakan nikmat yang Allah berikan melalui udara dengan baik, dan menjaga pandangan itu penting. Oleh sebab itu, Islam melalui wudhu mengajarkan untuk selalu membersihkan wajah, dengan maksud memperoleh kebaikan dan terhindar dari apa yang telah dikhawatirkan tadi.", kata kakek lagi kepadaku. Setelah wajah, barulah melanjutkan ke tangan. Tangan itu fungsinya untuk memgang, mengambil, meremas, dan banyak sekali. Maka, tangan sangat diperlukan oleh semua manusia. Oleh sebab itu, agar kita mampu menjaga diri agar tidak mengambil yang bukan milik kita dan merampas hak orang lain, tangan harus selalu kita jaga. Salah satunya dengan memahami makna membersihkan tangan dalam wudhu. Kakek berkata lagi kepadaku, "Nak, yang penting berikutnya dalam wudhu adalah telinga. Telinga kita pergunakan untuk mendengar. Dengan telinga semua orang bisa berkomunikasi dengan baik. Maka, Islam mengajarkan kepada kita agar selalu mendengarkan hal-hal yang baik, jangan membiasakan diri dengan mendengarkan yang terbaik, termasuk di dalamnya gossip yang sering diputar di televisi.", lanjut kakek. Terakhir adalah kaki. Kaki bisa membawa kita menuju tempat yang kita tuju. Berjalan ke mana pun tujuan kita, tanpa kita sadari terkadang kaki membawa kita untuk melakukan perbuatan yang tidak diajarkan dalam agama. Sungguh ini adalah cara Allah untuk mengingatkan kita, bahwa untuk tetap menjaga agar kaki kita tidak membawa kita pergi untuk melakukan hal-hal yang berbau maksiat, maka kita diharuskan untuk merenungi makna wudhu dengan membasuh kaki tersebut. "Aku coba mengulang penjelasan kakek yang disampaikannya kepadaku". (Bersambung; Ozi)