Kisah Muallaf

Syamsuddin: Hidayah Menjatuhiku II

Dikirim tanggal 27 Jun 2014 06.32.44 357 Kali dibaca

Syamsuddin: Hidayah Menjatuhiku II
Oleh: Ozi Setiadi Tidak ada agama yang semulia Islam yang mengajarkan hingga sedetail ini. Islam adalah agama yang kompleks yang mengajarkan kebaikan mulai dari tidur hingga saat tidur. Aku sungguh terkagum dan terpesona dengan keindahan Islam. Bila pembaca memahami benar, dalam agama lamaku, jika kita hendak menghadap Tuhan tidak sedetail Islam. Terkadang, mereka tidak mandi, berpakaian yang tidak menutup aurat, khusunya perempuan. Duduk berdekat-dekatan, tanpa membeda-bedakan laki-laki dan perempuan. Bahkan, terkadang tidak suci dari hadas besar karena belum mandi wajib. Kalau dipikir-pikir, inikah caranya manusia ketika hendak menghadap Tuhan Yang Maha Suci? Tentu tidak! Yang Maha Suci pasti hanya menerima mereka yang telah mensucikan diri. Inilah yang kudapati dalam Islam. Tidak ada agama lain di dunia ini yang mengajarkan kebaikan seperti agama yang kuanut saat ini, yaitu Islam. Aku yang pada waktu itu masih kecil, tentu belum paham benar tentang penjelasan kakek. Namun, aku telah memahaminya setelah sebesar sekarang. Dulu setelah aku dan keluarga mendengar berbagai penjelasan kakek mengenai Islam, kami pun berdiskusi tentang apa yang seharusnya kami lakukan. Ditengah hidup di kalangan umat yang menganut agama Kristen yang fanatik, masihkah kami bisa bertahan dengan berbagai hinaan dan cemoohan nantinya setelah memeluk Islam? Apalagi ayah sudah tidak ada, siapa lagi yang nantinya akan membela kami? Inilah ujian pertama yang diberikan Allah kepada kami. Namun, atas seizing-Nya pula, kami sekeluarga mendapat semacam kekuatan batin hingga tak lagi menghiraukan apa pun yang akan terjadi ke depan setelah kami masuk Islam. Akhirnya, tepat pada tahun 2006 kami berpindah dari kampung halaman dari Desa Lalang menuju Desa Tayan Hilir,  Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau, dan di sanalah kami sekeluarga di-Islamkan oleh kakek. Sejak saat itulah aku dan keluargaku beragama Islam dan aku pun telah dianggap sebagai anak sendiri oleh seseorang yang selama ini kuanggap sebagai kakek. Setelah berpindah agama, aku benar-benar merasakan perbedaan yang sangat dahsyat antara agama lamaku dengan agama Kristen. Mulai dari hal-hal kecil hingga beribadah, semuanya berbeda dengan agama lamaku. Islam mengajarkan tentang bagaimana itu Tuhan. Tuhan adalah Esa, yaitu Allah Swt., sedangkan dalam Kristen, Tuhan itu ada tiga dan yang lebih anehnya dalam wujud patung yang disalib. Aku yang pada waktu itu belum memahami dengan benar tentang hal ini tentu saja bertanya-tanya, mengapa Tuhan bisa disalib dan mengapa Tuhan justru tidak mengenakan pakaian yang layak ketika disalib? "Sungguh aku belum menemukan jawaban yang baik pada waktu itu". Berikutnya, masih mengenai patung Tuhan. Di setiap rumah umat Kristiani pasti ada patung Tuhan. Tidak ada yang kosong dari patung tersebut. Mereka pun terkadang memakainya sebagai kalung di leher. Ini benar-benar membuatku semakin berasa aneh, "masak Tuhan harus dipajang dan digantung di leher? Parahnya lagi, kok Tuhan itu hanya ada pada umat Kristiani, apakah Tuhan itu tidak berada di hutan, di gunung, di laut, di langit dan seluruh alam semesta ini. Ini hal yang aneh bukan?", kataku lagi. Berbeda bukan? Islam mengajarkan mengenai konsep ketuhanan dengan baik. Dalam Islam, Allah memang tidak dapat terlihat oleh mata dan panca indera yang lain. Tetapi, keberadan-Nya dapat dibuktikan dengan adanya segala ciptaan-Nya, yaitu alam beserta isinya. Oleh sebab itu, bukanlah panca indera semata yang membuktikan kebenaran Allah melalui ciptaan-Nya, melainkan juga dengan pikiran dan hati nurani manusia. Coba pembaca renungkan dengan baik, dari mana sebenarnya kita berasal? Jawabannya kita berasal dari dari yang satu, yaitu diciptakan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Adapun mengenai berhala dan patung-patung yang disembah dalam agama lain, ini semua tidak ada dalam Islam. Selain itu, kitab suci agama lamaku dengan Al-Quran juga sangat berbeda. Perbedaannya terletak tidak hanya dari segi makna, isi kandungannya, tetapi lebih dari itu Al-Quran adalah kitab suci yang sangat unik. Mulai dari proses turun, penulisan, penghafalan, kodifikasi, hingga pembukuan, sehingga dapat kit abaca sampai saat ini. Apalagi isinya, penuh dengan ilmu pengetahuan, tuntunan untuk hidup yang lebih baik, di dunia dan di akhirat kelak. Tidak pernah mengalami revisi dan mendapat campur tangan manusia. Mudah diingat dan dihafal oleh seluruh umat muslim yang ada di dunia. Sedangkan Al-Kitab, isinya bertentangan satu dengan yang lain. Sudah mengalami revisi berkali-kali. Kandungannya sangat kering dari ilmu pengetahuan. Dan, yang pembaca perlu ketahui, Al-Kitab ditulis jauh setelah nabi Isa meninggal dunia sehingga isi dan kandungannya 100 persen diragukan kebenarannya. Tidak ada satu orang pendeta pun yang dapat menghafal isi Al-Kitab karena sangking seringnya direvisi. Berbeda sekali bukan dengan Al-Quran? Al-Quran banyak dihafal oleh para hafidz, sangat mudah dihafal karena ia adalah wahyu (nur) yang diturunkan Allah untuk umat manusia. Inilah pertanda yang mana sebenarnya yang pantas untuk dianggap sebagai kitab suci, dan yang mana yang langsung diturunkan oleh Tuhan dan yang mana buatan manusia. Pengetahuan seperti ini aku peroleh ketika aku mengenal Islam selama lebih dari dua tahun. Sebelumnya  aku berserta keluargaku yang lain bisa dibilang menjadi Islam KTP saja. Abangku sangat bandal, tidak memahami apa makna berislam itu. Kakaku juga tidak memahami apa arti Islam sebenarnya. Sedangkan aku, hanya bermain tanpa ada rasa bersalah terhadap apa dan siapapun. Mungkin karena usiaku masih terlalu muda, sehingga aku belum paham benar tentang apa arti berpindah agama itu. Baru setelah tahun 2008, aku mulai mengenal salat. Meski sering terlupakan tapi waktu itu aku tetap melakukan salat. Salat bagiku adalah ibadah yang wajib, tidak ada tawar-menawar dalam salat. Tidak bisa berdiri, diperkenankan duduk. Tidak bisa duduk, diperkenankan berbaring. Tidak bisa mengucap/membaca ayat diperbolehkan dalam hati. Tidak bisa kesemuanya, maka alamat kita sudah disalatkan. Sungguh Allah memberikan kewajiban salat kepada umat Islam secara pribadi-pribadi, sehingga salat itu hukumnya fardhu ‘ain. Inilah yang terjadi pada kebanyakan umat Muslim, tidak hanya di daerah-daerah maju, di desaku juga demikian. Banyak warga yang enggan melakukan salat, padahal salat itu adalah rukun Islam yang harus dijalankan. Mungkin ini dikarenakan pengatahuanku dan yang lain yang sangat terbatas tentang Islam. Tapi untunglah aku masih memiliki semangat yang tinggi untuk berislam, berbeda dengan warga di sekitar tempat tinggalku. Bahkan abangku sekali pun. Mungkin sudah menjadi budaya lokal bahwa masyarakat di desaku sangat gemar dengan minuman keras. Baik tua maupun muda, mereka sangat gemar meminum minuman keras tersebut, termasuk dengan abangku. Abangku juga terikut budaya local. Na'uzubillahi min dzalik, semoga aku tidak demikian kelak. Pada tahun 2010 yang lalu, mulailah aku mengenal huruf-huruf dalam Al-Quran. Berawal dari Iqro' hingga aku bisa membaca Al-Quran dan mulai menghafalnya sekarang. Adalah seorang guru yang mengajariku untuk membaca ayat-ayat Al-Quran. Beliaulah yang mengajari aku belajar Al-Quran, muali dari mengenal huruf alif hingga alif lam mim. "hehehe...", kataku. Aku mulai memahami arti Al-Quran karena sekarang sudah banyak beredar Al-Quran terjemah. Ini semakin membantuku mengenal Islam lebih dalam. Sayangnya, hal ini tidak berlangsung lama. Menginjak kelas dua SMP aku mulai terkontaminasi dengan pergaulan bebas ala teman-temanku. Kondisi ekonomi keluarga yang kacau balau mengakibatkan aku sulit untuk bisa melanjutkan sekolah. Aku putus sekolah. Ekonomi keluarga yang tak lagi mampu untuk menopang biaya kehidupan kami sehari-hari, memaksaku untuk berhenti dari sekolah. Aku yang masih remaja ini, tentu mudah terikut oleh kebiasaan teman-temanku. Untungnya aku cepat sadar dari ini semua. Melihat kondisi ibu yang sangat memprihatinkan, berjuang dan bekerja di perkebunan karet mulai dari pagi hingga petang, membuatku tak tega melihatnya. Aku pun memutuskan untuk bekerja di toko pertanian. Ini kulakukan semata-mata karena kasih sayangku kepada ibu. Biarlah aku tidak sekolah, yang penting ibu tetap dalam keadaan baik dan selalu menyayangiku. Tak lagi aku berfikir untuk berbuat kenakalan. Tak lagi aku melakukan hal-hal yang dapat melukai hati ibuku. "Ibu, seandainya engkau tahu bahwa kami sangat menyayangimu", kataku dalam hati. Aku bekerja di toko pertanian. Pekerjaan yang tidak mudah bagi anak seusiaku. Aku harus mengangkat beban yang beratnya sampai lima puluh kilogram. Badanku yang kecil ini sangat sulit melakukannya, namun aku tetap saja bersemangat untuk bisa membantu ibu. Tak ada pengorbanan yang lebih dahsyat bagiku selain pengorbanan yang dilakukan ibu kepada kami. Oleh sebab itu, apa yang kulakukan ini bukanlah pekerjaan berat seberat apa yang telah dilakukan oleh ibu.  Ketika aku bekerja sebagai seorang kuli di toko pertanian tersebut, aku tidak lagi fokus pada upayaku untuk memahami Islam. Desakan ekonomi tak lagi membuatku mampu untuk mendalami Islam lebih intensive. Namun, aku selalu berdoa agar Allah tetap menjaga keyakinanku dalam Islam, sehingga aku tidak kembali lagi ke agama lamaku. "Biarlah kujalani semua ini, asal aku bisa membantu ibu untuk mencari nafkah", harapku. Kondisi lingkungan tampatku bekerja, yang mana pada waktu itu tidak semua beragama Islam, ternyata membawaku mengikuti kebiasaan mereka. Astaghfirullah, aku terikut dan memakan daging ayam yang telah mati. Layaknya memakan makanan yang dimakan oleh orang-orang non-Islam sebelumnya. Aku sungguh pada waktu itu sangat bimbang, dengan kondisi ekonomi yang seperti ini amatlah sulit bagiku untuk bertahan. Namun, aku masih tetap bersyukur di tengah pergaulanku yang seperti ini, aku tidak terjerumus untuk memakan daging anjing dan babi. "Begitu sayangnya Allah kepadaku sehingga Allah tidak membiarkan aku terlarut dengan orang-orang yang tidak baik yang ada di sekitarku. Sementara keadaanku yang seperti ini, kakak kandungku berangkat ke Jakarta. Ia melanjutkan sekolah, agar bisa mendapat penghidupan yang lebih baik dari aku. Untungnya, setelah ia menyelesaikan sekolahnya, ia mendapat jodoh seorang yang sangat baik dipilihkan oleh Allah, yaitu seorang penghafal Al-Quran. Kemudian ia menikah dengan lelaki tersebut. Tinggallah aku yang masih berada di desa bersama ibu. Selang beberapa bulan, aku dititipkan kepada seseorang yang sangat baik di daerah Ketapang Kalimantan Barat. Aku diangkat menjadi anak olehnya. Kebetulan keluarga mereka adalah keluarga yang baik dan sangat rajin beribadah. Berawal dari sinilah, ketika aku sudah tidak lagi mendalami Islam, tapi Allah memberikan jalan kepadaku untuk bisa mendalaminya kembali. Aku diajarkan banyak hal tentang Islam, tidak hanya tentang salat, tapi banyak hal lainnya. Orang tua angkatkulah yang kemudian menyekolahkan aku kembali, setelah sekian lama aku putus sekolah, yaitu sejak aku kelas dua SMP, akhirnya aku dapat bersekolah kembali. Sungguh sangat baik kedua orang tua angkatku, sehingga membuatku sangat sungkan kepada mereka berdua. Serasa tak ingin lebih banyak berhutan budi kepad mereka akhirnya aku putuskan untuk pergi menyusul kakakku yang ada di Jakarta. Alhamdulillah, doaku dijawab oleh Allah Swt. aku akhirnya bisa bertemu dengan kakaku di Jakarta. Aku merasa kasih sayang Allah kepadaku sangat besar, hingga Dia membukakan jalan yang begitu lebar kepadaku. Tepat pada pertangahan tahun 2011, aku tinggal bersama kakakku dan suaminya di Jakarta.             Tak lama tinggal bersama mereka berdua, karena latar belakang abang iparku yang seorang penghafal Al-Quran, aku pun dicarikannya pesantren agar aku bisa belajar membaca dan menghafal Al-Quran sama sepertinya. Aku yang masih terbata-bata dalam menghafal Al-Quran menguatkan diri untuk belajar Al-Quran. Alhamdulillah, Allah memberikan jalan dengan mempertemukan aku dengan Pondok Pesantren Raudhatul Hifaz, melalui abang iparku itu. Di sanalah aku belajar Al-Quran secara intensif, namun itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapat bulan saja, karena pondok pesantren tersebut sebenarnya hanya menerima santri secara formal, sedangkan aku bukanlah seorang santri yang menekuni pendidikan formal.             Melihat kondisiku yang seperti ini, selalu merenung dan hanya menganggur di rumah, Abang iparku mecarikan pesantren yang lain bagiku. Dan subhanallah, aku dipertemukan dengan pesantrenkhusus pembinaan mu'allaf, namanya Yayasan Pembinaan Mu'allaf An-Naba' Center, pimpinan seorang mantan penginjil yaitu ustadz Syamsul Arifin Nababan. Beliaulah yang akhirnya mengajarkanku mengenai Islam, dan sampai sekarang aku tinggal di pondok pesantren asuhan beliau. Inilah cerita perjalanan hidupku dalam mendapatkan hidayah Allah. Aku berharap, semoga kami tetap dalam keadaan istiqomah dalam berislam, mulai dari sekarang hingga aku meninggal nantinya. Amin ya Allah, yaa Rabbal ‘alamin. (Ozi)