Berita

DIALOG KRISTOLOGI DENGAN IBU MUDA TIGA ORANG ANAK

Dikirim tanggal 9 Feb 2015 05.05.28 319 Kali dibaca

DIALOG KRISTOLOGI DENGAN IBU MUDA TIGA ORANG ANAK
Siang itu, pada tanggal 7 Februari 2015, pesantren Annaba Center Indonesia kembali kedatangan tamu yang bertujuan untuk berdialog tentang kristologi dengan pimpinan pondok pesantren KH. Syamsul Arifin Nababan. Dia adalah seorang ibu muda yang memiliki tiga orang anak yang bekerja sebagai salah satu karyawan di perusahaan swasta. Ibu muda ini adalah seorang penganut Kristen Protestan yang cukup kritis dalam mempertanyakan perbedaan antara Islam dengan Krsiten. Ia menjadi begitu Kritis karena memiliki latar belakang yang bersinggungan dengan agama Islam.   Menurut pengakuannya, ibu tiga oranga anak ini dahulu penah menikah dengan seorang laki-laki yang berasal dari agama Islam dan kemudian menjadi murtad, memeluk Kristen. Sementara laki-laki yang menikahinya itu, kini sedang dalam proses perceraian dengan dirinya. Lanjut seorang ibu tadi, beberapa orang dalam keluarganya juga sudah ada yang memluk Islam, yaitu dari almarhum kakeknya. Maka, dengan latar belakang inilah dia merasa sangat dekat dengan Islam dan memberikan rasa penasaran yang dalam pada dirinya untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya Islam itu, terlebih bila dibandingkan dengan Kristen.   Seorang ibu yang belakangan diketahui oleh penulis berita ini sebagai seorang yang bernama Mcline itu, mengaku sudah meresahkan hal ini cukup lama. Terlebih lagi saat ini dia sedang dekat dengan seorang laki-laki yang hendak serius membangun bahtera rumah tangga dengannya dan kebetulan beragama Islam, sehingga membuatnya semakin terdorong untuk mengetahui bagaimana Islam sesungguhnya. Oleh sebab itu, ia menyempatkan diri bersama keluarganya datang ke pesantren Annaba Center Indonesia untuk berdialog tentang kristologi.   Pimpinan pondok pesantren Annaba Center Indonesia, KH. Syamsul Arifin Nababan menerima dengan baik kedatangan ibu Mcline bersama keluarga. Tanpa menunggu waktu lama setelah dialog awal yang membuka pertemuan mereka itu, pak kiai langsung mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal yang substansial menyangkut aqidah umat Muslim dan Kristiani. Pada pemaparan yang disampaikan oleh pak Kiai, berkali-kali ibu Mcline bertanya kepada beliau dengan membandingkan antara doktrin ajaran normatif yang ada pada agama Kristen dengan Islam, seperti dalam Islam tidak ada istilah dosa warisan, sedangkan dalam Kristen ada istilah itu. Kemudian, tentang penyaliban Yesus yang disalib untuk menebus dosa-dosa manusia. Tentang roti tak beragi yang diibaratkan sebagai daging Yesus yang diberikan kepada umat manusia dan anggur sebagai darah Yesus dalam keyakinan umat Kristiani, semuanya dipertanyakan oleh ibu tersebut dengan kritis kepada pak Kiai.   Berbekal pengetahuan akan ilmu perbandingan agama yang dimiliki oleh pak Kiai, beliau menjawab satu persatu pertanyaan yang disampaikan oleh ibu Mcline. Pertama, tentang dosa warisan. Menurut pak Kiai, dalam Islam tidak mengenal dosa warisan. Tidak mungkin seorang bayi yang baru terlahir ke dunia ini kemudian langsung memikul beban dosa yang pernah dilakukan oleh kedua orang tuanya atau orang-orang yang terdahulu yang pernah berbuat dosa, ini sungguh tidak mungkin. Dalam ajaran Islam setiap bayi yang dilahirkan oleh ibunya ke dunia ini dalam keadaan suci dan tidak berdosa. Bagaimana ia dapat berdosa sementara ia belum memiliki kemampuan untuk membuat dosa, serta ia belum memiliki akal yang bisa membawanya untuk berbuat dosa. Islam mengajarkan bahwa seorang bayi yang terlahir ke dunia itu sangat bergantung kepada kedua orang tuanya yang akan membawanya menjadi penganut Islam, Yahudi atau Nasrani. Sementara dalam Islam setiap pribadi adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Jadi, tidak ada istilah dosa warisan dalam Islam.   Pertanyaan kedua yang dijawab oleh pak Kiai adalah mengenai penyaliban. “Dahulu, orang-orang yang melakukan pelanggaran berat hukumannya adalah disalib di bukit Golgata, kalau di Indonesia kira-kira di Nusa Kambangan. Yesus dalam keyakinan umat Kristiani mati disalib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Pertanyaan kemudian yang muncul adalah di bukit Golgata itu juga  ada tiga orang yang disalib karena melakukan pembangkangan terhadap raja Kontius Pilatus. Lalu, tiga orang yang disalib itu menebus dosa siapa? Oleh sebab itu, dalam iman umat Muslim, nabi Isa atau Yesus tidak disalib, melainkan diangkat ke langit oleh Allah ruh dan jasadnya. Sedangkan yang disalib adalah orang yang diserupakan wajahnya oleh Allah Swt.”, kata beliau.   Jawaban demi jawaban yang disampaikan oleh pak Kiai semakin membuka mata hati ibu tiga orang anak itu. Ia pun semakin berpikir bahwa agama Kristen yang ia anut saat ini telah mengalami pengkaburan ajaran. Apalagi setelah oleh pak Kiai ditunjukkan ayat-ayat dalam Al-Kitab yang saling berbenturan satu dengan yang lain, menurut penuturannya, ia merasa sangat bodoh karena tidak mempelajari Injil dengan seksama, sehingga terlewatkan pengetahuan yang seharusnya dapat membukakan mata hatinya agar dapat menerima Islam dengan segera tanpa menunggu waktu yang selama ini.   Pada akhir kesempatan, meski ibu Mcline tidak langsung bersyahadat pada waktu itu juga, namun ia berjanji akan kembali datang dan berdiskusi lebih lanjut dengan pak Kiai agar pengetahuannya pada perbandingan agama semakin terbuka lebar, dan nantinya apabila ia telah yakin, maka ia akan berislam secara total, tidak setengah-setengah. (red.)