Berita

Dua Orang Nasrani Mengucap Syahadat Pada 05- 05-2015

Dikirim tanggal 6 Mei 2015 10.49.23 764 Kali dibaca

Dua Orang Nasrani Mengucap Syahadat Pada 05- 05-2015
                   Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Tadi malam, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center kembali kedatangan tamu. Kali ini adalah dua orang pemudi penganut Kristen Protestan yang datang bersama ibunya, Siska, yang telah mengganti nama menjadi Hamidah. Hamidah adalah seorang ibu yang lebih dahulu memeluk Islam 72 jam yang lalu. Ia merasa berkewajiban untuk membimbing dua orang anaknya agar memperoleh jalan yang benar. Kebenaran yang ia dapatkan dalam Islam kemudian ia dakwahkan kepada dua orang anaknya.                 Adalah Valerie dan Jenifer, dua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah kejuruan. Mereka mendapat pencerahan tentang perbedaan agama lamanya dengan Islam. Hamidah yang lebih dahulu memeluk Islam dan memperoleh penjelasan dari KH. Syamsul Arifin Nababan menjelaskan kepada anaknya bahwa Tuhan hanyalah Allah semata. Yesus bukanlah Tuhan karena ia tidak memiliki apa yang dimiliki Tuhan, baik berupa sifat, pengetahuan dan karya. Dengan penjelasan yang dibarengi dengan kedekatannya sebagai seorang ibu, akhirnya dua orang anaknya mau mengikuti jejak Hamidah untuk memeluk Islam.                 Tepat pada tanggal 05 Mei 2015, dua orang anak tersebut dibawa  ke Pesantren An-Naba Center. Didampingi ibu mereka, dua orang anak itu bertemu dengan pimpinan pesantren KH. Syamsul Arifin Nababan dan disambut dengan hangat oleh beliau. Pembicaraan pun mulai berlangsung. Hamidah menjelaskan mengenai kepribadian dua orang anaknya kepada pak Kiai, mulai dari yang paling tua dan anak bungsunya. Ia juga menjelaskan bahwa anak pertamanya, Valerie, sudah tertarik terhadap Islam, akan tetapi masih sedikit ada keraguan dalam hatinya. Hamidah pun meminta kesediaan pak Kiai agar pak Kiai berdialog dengan anaknya. Pak Kiai pun dengan senang hati mempersilahkan Valerie untuk berdialog. Valerie pun memulai bertanya kepada  pak Kiai; “Pak Kiai, sebenarnya Tuhan itu ada berapa, satu atau tiga jadi satu? Soalnya, di sekolah ibu guru bilang Tuhan itu tiga jadi satu, tri tunggal gitu pak..”, tanya Valerie. Pak Kiai pun menjawab pertanyaan tersebut sambil mengambil Al-Kitab agar Valeri tahu bahwa dalam Al-Kitab terdapat banyak hal yang kontradiksi, khususnya masalah ketuhanan. “Coba lihat dalam Injil Markus pasal 12 ayat 29 coba baca.”, seraya memberikan Al-Kitab kepada Valerie. Valerie pun kemudian membacanya, “Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”, bacanya dengan mimik yang kaget. “Terus pak Kiai, kenapa dalam keyakinan kami Tuhan itu ada tiga?”, tanya Valerie. Pak Kiai pun menjawab pertanyaannya lagi, “Karena Paulus yang merubah konsep ketuhanan tersebut. Dia adalah aktor yang membuat agama Kristen dan menyandarkan perkataannya pada Yesus, yang dalam keyakinan kami umat Islam adalah Nabi Isa as. Coba baca ini!”, seraya menyerahkan lagi Al-Kitab kepada Valerie. Valerie pun membaca Al-Kitab tersebut, “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu (1 Yohanes 5:7).”, bacanya sambil terkaget-kaget.                 “Pak Kiai jadi sebenarnya mana yang benar tiga jadi satu atau hanya satu saja?”, tanya Valerie dengan nada penasaran. “Dalam keyakinan kami, agama yang dibawa oleh Yesus atau Nabi Isa as. adalah Islam, namun dirubah oleh Paulus. Islam mengajarkan bahwa Tuhan hanyalah satu yaitu Allah Swt. Coba Valerie baca dalam Al-Quran surat Al-Ikhlas.”, kata pak Kiai yang kemudian disambut dengan cebat oleh Valeri yang langsung membaca terjemahan Al-Quran, “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.", baca Valerie. Ia pun semakin tahu bahwa kitab suci agamanya sangat tidak konsisten. Ayat yang satu dengan yang lain saling bertabrakan. “Kalau begitu pak Kiai, isi Al-Quran ini sama dengan isi Al-Kitab pada ayat pertama yang saya baca tadi. Berarti ayat Al-Kitab kedua yang saya baca tidak benar karena ia bertentangan dengan yang pertama. Kalau Yesus itu Tuhan, masak firman Tuhan ditentang oleh rasul-Nya. Ayat Al-Kitab yang kedua yang Valeri baca tadi kan surat kiriman Paulus. Masak bisa rasul menentang Tuhannya?”, kata Valerie dengan raut wajah yang sudah mulai paham akan penjelasan pak Kiai.                 Singkat cerita, dialog pun berlangsung sekitar 1,5 jam Valerie bersama adiknya perlahan memahami penjelasan yang disampaikan dengan baik oleh pak Kiai, hingga ia pun memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat karena keyakinannya sudah mantap terhadap Islam. “Pak Kiai, kalau begitu saya mau masuk Islam. Saya sudah yakin dengan Islam. Saya tidak lagi ragu. Dulu karena mama yang jelaskan jadi saya masih ragu. Mama kan baru masuk Islam jadi saya pikir belum tahu banyak, tapi setelah mendengar penjelasan pak Kiai saya paham dan mau syahadat malam ini.”, kata Valerie. Tentu mendengar perkataan Valerie tersebut pak Kiai bersyukur kepada Allah karena telah memberikan hidayah kepada Valerie, serta senang mendengar ucapan seorang pemudi yang begitu bersemangat untuk memeluk Islam. “Baik kalau begitu, sekarang juga Valerie akan kita syahadatkan. Apalagi tadi Valerie sempat bilang kalau tanggal sekarang tanggalnya bagus 05-05-2015 semua ujungnya angka lima. Ini sejalan dengan rukun Islam yang terdiri dari lima rukun, serta salat dalam satu hari terdiri dari lima waktu.”, kata pak Kiai yang mengiyakan keinginan Valerie untuk bersyahadat pada tanggal tersebut.                 Akhirnya, Valerie pun mengucapkan kalimat syahadat yang kemudian diikuti dengan Jenifer, adik kandungnya. Jenifer memang tidak banyak berbicara dalam dialog tersebut karena ia masih belia jadi belum paham dengan baik tentang dialog keagamaan, akan tetapi melihat kakaknya yang ia tauladani memeluk Islam, ia pun tidak mau ketinggalan, dengan tanpa paksaan ia meminta pula untuk disyahadatkan malam itu juga.                 Hamidah selaku ibu kandung mereka berdua, tentunya sangat merasa bahagia dan bersyukur karena dua orang anaknya dapat satu akidah dengannya. Sambil menitihkan air mata yang tak tertahankan, ia mencium dua orang anaknya yang telah mengucapkan kalimat syahadat. Ia pun merasa lega karena bisa seagama dengan mereka. Ia berharap dua orang anaknya itu akan menjadi anak yang soleha yang mendoakannya kelak dan mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga dan agama. (red)