Berita

KEMBALI KE PANGKUAN ISLAM

Dikirim tanggal 27 Jan 2015 10.11.21 823 Kali dibaca

KEMBALI KE PANGKUAN ISLAM
24 Januari 2015, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia kedatangan serombongan tamu. Rombongan pertama yang datang adalah keluarga ibu Yolanda yang berkunjung untuk berbagi kepada para santri pesantren sekaligus membawa seorang muallaf yang berkeinginan untuk belajar di pesantren Annaba Center. Rombongan kedua adalah saudara Rafi bersama dua orang rekannya  yang mana salah seorang di antara mereka berstatus sebagai seorang nasrani yang sangat tertarik kepada Islam, sehingga ingin melakukan dialog dengan KH. Syamsul Arifin Nababan. Rombongan ketiga adalah romobongan ibu Ati yang membawa salah seorang wanita yang sempat keluar dari Islam, untuk itu mereka datang ke pesantren dengan harapan melalui dialog yang dilakukan dengan pak Kiyai akan memberikan jalan hidayah kembali kepada wanita tersebut. Dan rombongan yang terakhir adalah bapak Erwin beserta keluarga yang datang untuk bersilaturahmi dengan pak Kiyai.   Malam itu, suasana yang ramai sangat sarat dengan diskusi tentang perbandingan agama. Tiga keluarga yang hadir pada waktu itu memang bertujuan untuk membawa saudara mereka agar mendapat wejangan mengenai perbandingan agama yang disampaikan oleh pak Kiyai. Saat diskusi sedang berlangsung penjelasan yang diberikan oleh pak Kiyai terfokus kepada salah seorang yang sempat keluar dari agama Islam. Penjelasan beliau bersifat general sehingga dapat diterima oleh orang-orang yang mendengarkannya. Melalui perbandingan dua kitab suci, Al-Quran dengan Al-Kitab, diskusi berjalan sangat serius, namun tetap santai. Hal yang paling mendasar yang didiskusikan pada malam hari itu adalah tentang aqidah. Bahwa orang yang beriman hendaknya mencari kebenaran terlebih dahulu baru kemudian meyakini kebenaran tersebut. Kebenaran berasal dari sumber yang rasional yang mampu ditangkap oleh panca indera, sehingga kebenaran tidak akan bertentangan dengan akal sehat manusia. Setelah kebenaran diperoleh, selanjutnya menjadi sesuatu yang diyakini dan kemudian berlanjut kepada keimanan terhadap yang rasional dan irasional.   KH. Syamsul Arifin Nababan pada kesempatan dialog tersebut menjelaskan tentang kebenaran melalui sebuah contoh; “Saya meyakini pesawat bisa terbang setelah saya membuktikan kebenaran pesawat tersebut melalui panca indera saya. Sebagai manusia, tentunya saya sangat takut melihat sebuah rangkaian besi dapat terbang mengudara di langit. Padahal, material bahan penyusunnya terbuat dari sesuatu yang sangat mengerikan. Kalau saja kita menelisik lebih dalam, bagaimana mungkin besi dapat mengudara? Dan kenapa pula kita sebagai manusia mau menumpang dalam besi yang mengudara tersebut. Akan tetapi, ketika besi (pesawat) itu sudah teruji dan terbukti bisa terbang, barulah saya percaya bahwa pesawat bisa membawa saya bepergian dengan selamat. Ini adalah sebuah pemisalan sederhana yang dapat menjelaskan kebenaran itu lahir terlebih dahulu dan disusul kemudian dengan keimanan.” Apa yang disampaikan oleh pak kiyai dibenarkan oleh seluruh peserta dialog yang ada, sehingga pada kesempatan tersebut pak kiyai mengatakan kebenaran dalam sebuah agama adalah sesuatu yang mutlak dan harus diikuti oleh penganutnya.   Membuktikan kebenaran yang ada pada agama, lanjut beliau, dapat menggunakan kitab sucinya. Ini dikarenakan kitab suci adalah sumber seseorang dalam mengenal dan memahami agama. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kebenaran sebuah kitab suci perlu dilakukan perbandingan antara kitab agama yang satu dengan kitab agama yang lain. Ketika itu, dikarenakan para peserta adalah penganut agama Islam dan Kristen, maka dibandingkanlah antara Al-Quran dengan Al-Kitab.   Mula-mula pak Kiyai memberikan penjelasan bagaimana kelemahan Al-kitab, mulai dari konsep ketuhanan sampai kritik terhadap bahasa yang digunakan Al-Kitab yang sangat vulgar dan tertuang dalam kitab Kidung Agung tentang Kenikmatan Cinta. Kemudian beliau menjelaskan betapa ayat yang terdapat dalam Al-Kitab tidak konsisten, sehingga “bertabrakan” satu dengan yang lain. Berbeda sekali dengan ayat-ayat Al-Quran yang di dalamnya bersambung antara satu dengan yang lain, sehingga tidak saling berbenturan.   Alhamdulillah, setelah melalui diskusi yang cukup panjang, pada malam itu seorang wanita yang awalnya meragukan Islam dan sempat keluar dari Islam, kembali dapat disyahadatkan. Seorang yang tertarik untuk masuk Islam pun semakin mantap keinginannya untuk berhijrah dan memeluk Islam. Sedangkan seorang yang sudah menjadi muallaf merasa mantap keimanannya terlebih atas apa yang telah dijelaskan oleh pak kiyai, begitu pula dengan para hadirin yang lain.   Keluarga besar Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan Annaba Center Indonesia sangat bersyukur atas hidayah yang diberikan Allah kepada seluruh peserta yang hadir, khususnya kepada ketiga orang yang melakukan dialog dengan pak kiyai. Semoga pak kiyai bersama keluarga besar pesantren Annaba Center Indonesia dapat semakin berkontribusi kepada umat, amin yaa Rabbal ‘alamin. (red.)