Berita

Pesantren Khusus Para Mualaf

Dikirim tanggal 30 Jun 2014 06.35.06 139 Kali dibaca

Pesantren Khusus Para Mualaf
Jakarta - Berawal dari keprihatinan akan banyaknya mualaf di Indonesia yang masih terlantar, berdirilah pesantren An Naba' Center di Ciputat, Tangerang. Sang pendiri, Ustaz Syamsul Arifin Nababan awalnya mendirikan bangunan kecil dan sederhana pada tahun 2007. Syamsul tergerak hatinya setelah melihat banyaknya mualaf yang harus tidur di kolong-kolong masjid Istiqlal Jakarta karena tak memiliki tempat tinggal. Kondisi keuangan mereka menjadi lemah setelah masuk Islam karena ditinggalkan oleh keluarga dan teman-temannya. Mereka hidup tanpa perlindungan orang tua maupun keluarga. Saat ini, pesantren yang beralamat di Jalan Cendrawasih IV No 1 RT 02/RW 03, Kelurahan Sawah Baru, Ciputat, Tangerang, Banten tersebut telah memiliki gedung megah berlantai dua. Pesantren ini memiliki asrama, ruang kelas, dan laboratorium yang sangat memadai. Meski hanya memiliki 80 santri, 17 di antaranya tinggal di asrama. Pesantren ini menetapkan sistem pendidikan yang ketat. Para santri harus fokus belajar dan dilarang bekerja. "Pola pembinaan, mereka diusahakan benar-benar belajar. Di sini rata-rata usianya 15-31 tahun tapi kebanyakan usia belasan tahun," ujar Sekretaris Pembina An Naba' Center, Ozi Setiadi saat berbincang dengan detikRamadan, Jumat (2/8/2013). Ozi mengatakan awalnya pesantren ini tak hanya menerima santri laki-laki seperti saat ini. Namun, atas permintaan warga sekitar, akhirnya untuk sementara diputuskan pesantren ini hanya menerima santri laki-laki. "Kami juga ingin nanti membangun pesantren yang khusus untuk mualaf wanita, insya Allah. Untuk pengajarnya ada 6 orang yang aktif. Ada yang mahasiswa S1 dan S2," lanjutnya. Di pesantren itu, santri memperoleh pembinaan, pendidikan, pengembangan, dan vokasional. Pembinaan yang diberikan pihak pesantren yaitu dengan memberikan dasar aqidah Islam melalui kajian rutin, dasar ilmu perbandingan agama, pelatihan khotbah yang efektif. Tak hanya itu, santri di sana juga mendapat pendidikan baik formal maupun pesantren dengan pola terpadu atau Islamic Boarding School System. Sedangkan untuk pengembangan kemampuan, para santri belajar menghafal Alquran dan tafsirnya serta sunah dan sarahnya. Mereka juga dituntut untuk bisa berbahasa Inggris dan Arab. Pesantren ini memiliki beberapa misi di antaranya mencetak kader-kader muslim yang kafah dan mampu menjadi 'penjaga gawang' bagi penguatan akidah Islamiyah, menggalang persatuan dan kesatuan antara kaum muslimin di Indonesia dalam memberikan daya dukung terhadap kekuatan iman dan taqwa yang mantab bagi saudara-saudara mualaf. Pesantren ini juga sebagai ikhtiar kelembagaan dalam rangka mengajak masyarakat untuk peduli melihat keterbelakangan pendidikan dan pembinaan mualaf di Indonesia. Padahal mualaf adalah salah satu potensi dan aset umat yang dapat diandalkan keberadaannyabagi bangsa umat yang beriman dan bertaqwa. Sumber: http://ramadan.detik.com/read/2013/08/02/164525/2323025/1523/