Berita

SATU HARI, TIGA ORANG BERSYAHADAT

Dikirim tanggal 16 Jun 2015 12.37.57 853 Kali dibaca

SATU HARI, TIGA ORANG BERSYAHADAT
Senin, 15 Mei 2015, lagi, Pesantren Pembinaan Muallaf Yayasan An-Naba Center Indonesia didatangi oleh sejumlah tamu istimewa. Mereka adalah saudara-saudara kita yang telah mendapatkan hidayah dari Allah Swt. untuk memeluk Islam. Uniknya, para tamu yang hadir untuk melakukan syahadat kali ini berjumlah tiga orang, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan. Dua orang berwarga negara Indonesia, Meiyanti dan Perrius, serta satu orang berwarga negara Australia, yakni Mr. Pitto. KH. Syamsul Arifin Nababan menyambut baik kehadiran para tamu beserta rombongan. Saat acara tersebut dimulai beliau mengemukakan rasa terima kasih kepada para tamu yang hadir baik yang akan melakukan syahadat maupun yang datang secara khusus untuk melihat pensyahadatan; “Hari ini adalah hari yang sangat baik dan bersejarah bagi kita, khususnya bagi saudara-saudara kita yang akan memeluk Islam. Hari ini juga merupakan momen kali kedua yang baru terjadi di pesantren An-Naba Center Indonesia karena melakukan pensyahadatan langsung pada hari yang sama, tiga orang sekaligus. Semoga Allah memberkahi kita semua yang hadir pada kesempatan ini, serta mendapat ridha dari Allah Swt., amin yaa rabbal ‘alamin.”, tutur beliau. Acara pengislaman berlangsung secara khidmat. Dimulai dari pengislaman saudari Meiyanti yang berasal dari nias kemudian saudara Perrius dan yang terakhir saudara Pitto. Meiyanti yang mengaku telah membandingkan Islam dengan agama lamanya mengatakan bahwa ketika melihat temannya seorang Muslimah yang sedang melakukan shalat, ia merasakan dirinya ikut mendapatkan ketenangan. Terlebih ketika melakukan shalat tersebut seluruh tubuh tertutupi oleh kain kecuali wajah. Menurutnya, hal ini sangat berbeda dengan yang ada pada ajaran Kristen. Tidak ada takbir, rukuk, lebih lagi sujud. Dari sinilah ia merasa bahwa Islam sangat berbeda dan ini merupakan sebuah bentuk peribadatan yang ideal untuk menyembah Tuhan; “Hendaknya menyembah Tuhan tidak hanya dengan mulut yang mengeluarkan suara melalui nyanyian atau bacaan-bacaan, tetapi juga, kalau bisa, dengan seluruh anggota tubuh. Apalagi menurut ustadz, ketika kita sujud ada tujuh titik yang ikut serta pada proses sujud tersebut. Wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung jari kaki.”, jelasnya. Mendengar penjelasan tersebut KH. Syamsul Arifin Nababan merasa bahwa keimanan Meiyanti terhadap Islam sudah mantap, sehingga usai mendengar alasan Mei ingin memeluk Islam tersebut pak kiai langsung mensyahadatkannya. Dengan suara yang lembut dan yakin, Mei mengucapkan kalimat syahadat dengan penuh penjiwaan. Ia mengucapkan kalimat syahadat tersebut, hingga tak terasa ia telah meneteskan air mata. Usai pensyahadatan ia pun mengaku lega, terharu dan tentunya senang. Berakhirnya proses pensyahadatan saudari Meiyanti, kemudian dilanjutkan dengan pensyahadatan Saudara Perrius. Pemuda kelahiran Nias ini juga mengaku telah mengamati dan mempelajari Islam sebelum membulatkan tekad untuk mengucapkan kalimat syhadat. “Saya sudah dua tahun mengamati dan mempelajari Islam, salama itulah terjadi pergolakan batin yang teramat dahsyat pada diri saya. Pertanyaan-pertanyaan seputar ketuhanan dan tata cara beribadah yang membandingkan antara agama Islam dan Kristen ini membuat saya berpikir dan menghabiskan waktu yang cukup lama, bahkan setahun lamanya saya tidak lagi datang untuk beribadah ke gereja. Suara-suara adzan dan lantunan ayat Al-Quran membuat hati saya semakin tertarik terhadap Islam. Seolah tak mampu lagi menolak ajakan masuk Islam yang ada pada hati saya, akhirnya saya pun memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat pada hari ini.”, ujar Perrius. Melihat tekadnya sudah bulat, pak Kiai pun menyegerakan untuk mensyadatkan Perrius. Kali ini bukan beliau langsung, melainkan ustadz Kang Rasyid yang turut hadir pada hari pensyahadatan itu. Beliau pun diminta untuk mensyahadatkan Perrius di depan para jemaah dan tamu yang hadir. Mengawali dengan ucapan kalimat basmalah, Kang Rasyid kemudian mensyahadatkan Perrius. Kalimat Asyhadu anlaa ilaha ila Allah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah pun akhirnya terucap dari mulut Perrius. Akhirnya, pada detik usai mengucapkan kalimat syahadat ketika itu, Perrius pun telah resmi menjadi seorang Muslim. Rasa lega dan senang pun terpancar dari raut wajahnya, ia merasa seperti dilahirkan kembali. “Saya sangat senang, dan merasa seperti terlahir kembali.”, ucapnya di hadapan para jemaah. Usai pengislaman saudara Perrius, dilanjutkan dengan pengislaman Mr. Pitto yang berkewarganegaraan Australi. Mr. Pitto datang bersama pemerhati muallaf bapak H. Subhan yang secara khusus menyempatkan diri sekaligus mengantarkan yang bersangkutan untuk mengucapkan kalimat syahadat di Pesantren An-Naba Center. Mengingat kemampuan bahasa Indonesia Mr. Pitto yang masih sulit, pengislaman pun dilakukan oleh Dr. Bambang Irawan, MA. dengan menggunakan bahasa Inggris. Proses pensyahadatan berlangsung khidmat, meski Mr. Pitto mengalami kesulitan untuk duduk seperti orang yang sedang duduk tahyat. Ditemani dengan kerabatnya, dengan perlahan Mr. Pitto mengucapkan kalimat syahadat dan kemudian ia pun resmi menjadi seorang Muslim. Pada sela-sela setelah pensyahadatan ketiga orang yang baru memeluk Islam tersebut, bapak H. Subhan memberikan tawaran pekerjaan kepada dua orang warga Negara Indonesia, yakni Meiyanti dan Perrius. Mereka berdua pun diberikan kesempatan untuk mengantarkan lamaran pekerjaan mereka ke perusahaan yang dipimpin oleh bapak H. Subhan. Menanggapi hal ini, KH. Syamsul Arifin Nababan mengatakan; “Ini merupakan respon yang sangat cepat yang diberikan oleh beliau mengingat rasa kepekaan dan kepedulian beliau terhadap muallaf ini sungguh luar biasa. Beliau memahami benar bahwa seorang yang baru saja mengucapkan kalimat syahadat akan mendapatkan ujian dari Allah.”, seraya membacakan ayat 2 surat al-Ankabut. Setelah serangkaian acara selesai dilaksanakan, pada kesempatan sebelum penutup, KH. Syamsul Arifin Nababan memberikan kesempatan kepada tokoh pemerhati muallaf yang lain, bapak H. Darus, untuk memberikan sambutan. Beliaupun mengungkapkan rasa bahagia dan kagum kepada pak Kiai karena dengan tulus dan ikhlas berjuang menegakkan agama Allah tanpa mengenal pamrih; “Perjuangan seperti inilah yang patut untuk kita tauladani dari diri beliau, semoga para santri mullaf yang ada di sini dapat menjadikan beliau sebagai tauladan yang baik, sehingga dapat memajukan umat, amin.”, tutupnya. Acara pengislaman tersebut juga dihadiri oleh ibu-ibu jemaah majelis taklim Ats Tsurayya, para pemerhati muallaf yang lain, serta santri pesantren pembinaan muallaf yayasan An-Naba Center di mushollah Nuruddin An-Naba Center Indonesia.